ceo

SEO Links Exchanges, Blog Link Building Service Build Your Links For Free, Links Building Service SEO Links Attitude | Free SEO Links Building Free Backlink Service, Links Building 4 Free

Jumat, 01 Januari 2010

Ecotourism

 Judul asli: "Peluang dan Potensi Ecotourism di Indonesia"
Mungkin istilah “ecotourism” belum begitu akrab di telinga kita. Namun, bukan berarti ia tak bisa menjadi primadona. Dengan modal kekayaan alam dan budaya, serta tuntutan terhadap keberlangsungan-nya (sustainable), ecotourism adalah wajah masa depan pariwisata Indonesia.

Sejalan dengan isu perubahan iklim dan tren “back to nature”, gaung ecotourism mulai menyebar di penjuru dunia. Ecotourism disebut-sebut sebagai alternatif solusi yang mempertemukan jalinan antara pariwisata dan aspek lingkungan. Tentu saja, respon ini muncul setelah berbagai penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pariwisata telah berkontribusi terhadap dampak buruk lingkungan, pula masalah sosio-kultural dan ekonomi.

Sebagai sebuah negara kepulauan dengan keragaman suku yang tak ternilai harganya, Indonesia sudah sejak lama dikenal turis mancanegara akan keindahan alam dan budayanya. Dua hal itu kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata yang mendatangkan banyak keuntungan di sektor ekonomi. Maka, untuk tetap menghidupkan ekosistem dan pariwisata, ecotourism bisa dipilih sebagai jalan keluar.

Ecotourism atau eko-wisata merupakan wisata yang mengandalkan alam (flora dan fauna) serta kebudayaan masyakat setempat sebagai daya tarik, di mana prinsip keberlangsungan dapat terjaga. Eko-wisata tidak sekedar melihat alam dan kebudayaan sebagai objek, tapi juga sesuatu yang perlu dijaga kelestariannya. Karena itulah, ecoturism kini begitu populer digalakkan sebab ia tak hanya muncul sebagai potensi konservasi, melainkan potensi pariwisata mendatang.

Ecotourism dan Pelestarian Lingkungan
Prinsip yang ditekankan eko-wisata ialah kualitas pengalaman yang hendak dirasakan wisatawan ketika menikmati alam dan budaya, seimbang dengan jaminan bahwa lingkungan fisik, sosio-kultural, maupun ekonomi bagi penduduk lokal dapat terjaga keberlangsungannya. Untuk itu, etika melakukan ecotourism harus diterapkan.

Di Tanah Air, taman nasional dan kebun raya adalah contoh kawasan yang menerapkan konsep ecotourism. Pada mulanya, taman nasional maupun kebun raya memang bukan diperuntukkan bagi kegiatan pariwisata, melainkan konservasi dan laboratorium alam. Namun ide bahwa pengetahuan serta pengalaman untuk berinteraksi dengan alam dan suku asli, mulai mengemuka, taman nasional pun dibuka untuk umum bagi kepentingan edukasi. Indonesia tercatat sebagai negara dengan potensi kuantitas dan kualitas yang tinggi perihal eko-wisata. Dari Sabang hingga Merauke, terdapat 50 taman nasional dan kebun raya. TN (Taman Nasional) Lorentz di Irian Jaya berpredikat World Heritage Park, sedangkan TN Ujung Kulon telah menjadi World Heritage Site.

Perlahan namun pasti, kini eko-wisata kian digemari wisatan domestik – pula wisatawan asing dengan jumlah yang signifikan. Kebanyakan dari mereka menikmati eko-wisata bersama keluarga atau rombongan sekolah. Sejumlah destinasi yang telah ramai adalah TN Kepulauan Seribu dan kawasan Jawa Barat karena akses yang prima dari dan menuju Jakarta. Tiap akhir pekan, Kepulauan Seribu, Bogor dan Puncak menjadi destinasi paling ramai. TN Kepulauan Seribu, Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, dan TN Gunung Gede Pangrango dipenuhi wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin menikmati keasrian pepohonan yang teduh, sekaligus mempelajari keanekaragaman hayati Nusantara.

Selain itu, terdapat juga kawasan konservasi yang namanya telah terkenal di kalangan penggiat lingkungan dan backpacker dunia karena kecantikan alam dan budayanya, seperti TN Komodo, TN Wakatobi, TN Laut Bunaken, TN Gunung Rinjani, serta TN Bromo Tengger Semeru.

Peran Penting Agen Perjalanan dalam Ecotourism
Prediksi WTO (World Tourism Organization) terkait tren wisata yang sedang tumbuh dan akan berkembang ke depan, memposisikan eko-wisata pada urutan pertama. Meski eko-wisata relatif memiliki segmen pasar yang lebih kecil dibanding lainnya, namun eko-wisata terbukti menjadi salah satu jenis wisata yang paling cepat pertumbuhannya. Artinya, pasar kian bertambah, tapi belum dikembangkan dengan matang.

Selama ini, kendala yang dihadapi eko-wisata terkait aksesibilitas dan akomodasi. Oleh karena itu, tour operator/agen perjalanan dituntut untuk dapat bekerja sama dengan penduduk lokal. Kerja sama yang setara ini merupakan syarat eko-wisata di mana pariwisata turut mensejahterakan kehidupan lokal. Kolaborasi bersama akan memberikan pengalaman yang lebih menarik dan unik bagi wisatawan karena mereka didampingi langsung oleh pemandu yang mengenal betul kawasan, pula menikmati kebudayaan asli, mencicipi kuliner khas, serta merasakan pengalaman menjadi bagian dari mereka dengan menginap di rumah penduduk (guesthouse) dan melakukan kegiatan, seperti menanam pohon, melepaskan penyu, mendengarkan suara burung, mempelajari karakter tumbuhan, dan lainnya. Namun, peran agen perjalanan sangat penting dalam mendampingi dan memberdayakan warga lokal terkait standar dan mutu pelayanan menghadapi wisatawan.

Eko-wisata bukanlah sekedar strategi marketing menarik turis. Maka, dalam menawarkan paket, agen perjalanan perlu mengomunikasikan mengenai apa itu ecotourism, mengapa agen perjalanan menawarkannya, apa saja yang akan didapatkan turis, serta hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama turis menikmati eloknya alam dan budaya di tempat tujuan.

Persoalan lingkungan jelas telah merubah wajah industri pariwisata. Hal ini tentu berdampak signifikan terhadap bagaimana agen perjalanan dituntut untuk melakukan perubahan dan penyesuaian pada pasar. Tren terhadap ecotourism serta meningkatnya kesadaran turis terhadap isu perubahan iklim, menjadi peluang dan potensi bagi pariwisata Indonesia di masa depan.
Ditulis Oleh      :  Nurdiyansah
Sumber: http://www.jejakwisata.com

0 komentar:

Posting Komentar

Testimoni Pengunjung