ceo

SEO Links Exchanges, Blog Link Building Service Build Your Links For Free, Links Building Service SEO Links Attitude | Free SEO Links Building Free Backlink Service, Links Building 4 Free

Rabu, 10 Desember 2014

Sejarah asal mula UMPUNGENG

Dahulu kala di sebuah tempat yang terletak di tepi sebelah utara Ibukota Kabupaten Bone, Hidup seorang Wali yang dikenal dengan To Manurung’E Tellang Kere Ri tete. Konon daerah tersebut kian hari kian ramai dikunjungi oleh orang-orang yang berdatangan dari berbagai penjuru. Kondisi tersebut menjadi kan lahirnya sebuah Kerajaan kecil yang kemudian dipimpin oleh To Manurung’E. Sebagai Penguasa Kerajaan Tete, beliau digelar Arung Tete.
Arung tete memiliki tujuh orang anak, Salah seorang diantaranya bernama I Besse Timo yang merupakan putri sulung yang menjadi putri kesayangan beliau. I Besse timo selain memiliki paras yang cantik rupawan juga sopan dan patuh pada orang tua.
I Besse timo semakin tumbuh dewasa layaknya gadis-gadis pada umumnya.  Suatu ketika terjadi Guntur yang amat dahsyat, bersamaan dengan kejadian tersebut I Besse Timo mengalami kejadian luar biasa. Beliau (I Besse Timo) mengalami perasaan intim yang luarbiasa  nikmatnya layaknya hubungan suami istri. Setelah kejadian tersebut I Besse Timo dinyatakan hamil tanpa diketahui siapa gerangan yang menjadi pasangannya.
Melihat putrinya hamil tanpa suami, Arung Tete sangat terkejut dan keheranan mengingat dalam keseharian putrinya tersebut hidup bersahaja dan sangat menjaga diri dari pergaulan yang terlarang. Ditengah keheranannya Arung Tete pun menanyakan prihal tersebut kepada Putrinya.  I Besse Timo pung segera menceritakan peristiwa yang dialaminya tanpa ragu. I Besse timo sangat mengenal karakter Ayahnya yang bijak dan pernuh perhatian terhadap setiap kejadian yang dialami putrinya. Dalam keadaan batin bergolak antara keinginan untuk segera mengungkap siapa gerangan laki-laki yang telah berbuat demikian dengan putrinya dengan perasaan kasih sayang terhadap putri yang disayanginya tersebut, Arung tete memutuskan agar putrinyalah yang harus menemukan sendiri laki-laki yang telah menghamilinya itu. Arung Tete menyuruh putrinya I Besse Timo untuk pergi mencari laki-laki siapa gerangan ayah anak yang dikandungnya.  Dengan berat hati Arung Tete mengantar putrinya sampai ke tepian sungai yang bernama sungai Tete. Dengan perasaan haru Arung Tete memberikan perbekalan secukupnya kepada putri kesayangannya berupa seikat padi dan sebutir telur yang telah dierami oleh induknya. Namun telur itu tidak diserahkan kepada I Besse Timo melainkan dihanyutkan ke Sungai Tete sebagai petunjuk jalan. Arung Tete kemudian menyuruh putrinya mengikuti telur itu kemana pun ia pergi. Anehnya telur yang dihanyutkan oleh ayahnya itu tetap terapung diatas air dan berjalan mengikuti arus, I Besse timo terus mengikuti pergerakan telur menyusuri sungai.
Ketika perjalanan telur ajaib ini sampai di kaki gunung yang letaknya sebelah barat Kabupaten Soppeng telur tersebut istirahat maka I Besse Timo pun ikut beristirahat selama beberapa saat. Dari tempat tersebut I BT memandang jauh ke puncak gunung tersebut sambal merenungi keadaan dirinya yang sedang hamil tanpa pernah dijamah oleh lelaki manapun. Sebagai tanda kenangan bahwa dirinya saat itu masih gadis, ia lalu memberi nama gunung yang dipandanginya tersebut dengan nama Bulu Ana’dara (Gunung Gadis).
Selanjutnya telur itu bergerak lagi kebawah mengikuti arus air. Namun setelah sampai disebuah pertemuan arus sungai antara Sungai Tete dengan Sungai Langkemme, tiba-tiba telur tersebut berbelok naik melawan arah menyisir ke arah sungai asal Langkemme. Ditempat berbeloknya telor inilah kemudian diberi nama Salo Palekoreng  (Belokan Sungai) karena telor tersebut berbelok. Sementara telur itu bergerak terus melawan arus sungai, I BT pun dengan sabar mengikuti kemana gerangan tempat yang akan dituju.   Begitulah terus keadan telur tersebut hingga kebudian sampai pada suatu tempat telur itu pun tiba-tiba merubah arah (lain arah)  pergerakan. Telur tersebut tidak lagi menyusuri sungai melainkan berbelok naik kedaratan dan menggelinding menyusuri perbukitan. Perubahan pergerakan tersebut kemudian menjadi nama pada sungai tempat berbelok ini bernama Salo Lainna (Sungai Lain).
Telur yang menjadi pemandu perjalanan I Besse Timo ini terus bergelinding hingga sampai pada suatu bukit telur tersebut tidak lagi bergerak. Dalam keadaan telur diam ini, maka I BT memahami bahwa perjalanan telur sudah berakhir, yang berarti puncak bukit ini menjadi tujuan akhir perjalanan. Maka segerah lah IBT membangun sebuah gubuk kecil sebagai tempat tinggal. Padi yang ada dalam genggaman sebagai bekal yang diberikan oleh sang ayah pun segera di tanam. Hari-harinya di isi dengan bekerja mencari nafka demi mempertahankan hidup sebatang kara ditengah hutan belantara. Padi yang ditanam pun dipanen, namun karena keterbatasan pengetahuan maka padi yang di panen tersebut hanya dinikmati kuitnya (awang). Kebiasaan memakan kulit padi ini dalam Bahasa bugis disebut “pakkande awang”.yang berarti pemakan ampas padi. Kebiasaan I Besse Timo mengkomsumsi awang ini diabadikan sebagai nama bukit yang dihuninya itu dengan nama  Coppo Kandiawang (puncak bukit pemakan ampas padi)
Diatas bukit tersebut, I BesseTimo yang pada awalnya hidup sendirian namun setelah beberapa bulan kemudian anak yang dikandungnya lahir. Tanpa ditemani oleh siapapun dia melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama I Besse Kadiu. Bersama dengan kelahiran putrinya itu, telur yang menuntunnya hingga ke Coppo Kandiawang tersebut pun menetas dan menjadilah seekor ayam betina.
Beberapa tahun kemudian, seiring dengan pertumbuhan ayamnya yang kian lama semakin besar itu, putri Ibesse Timo pun semakin tumbuh dewasa menjadi seorang gadis. Kehadiran putrinya yang juga berparas cantik jelita membuat hidup putri Arung Tete itu tenteram, kendi belum diketahui siapa lelaki yang merupakan ayah dari putrinya tersebut. Bert ahun-tahun mereka berdua hidup di hutan belantara itu, namun tak seorangpun yang mengetahui keberadaannya, sekalipun tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah Kerajaan kecil yang hanya diantarai oleh dua bukit saja. Kerajaan tersebut bernama kerajaan Bulu Matanre.
Seperti halnya kerajaan Tete, kerajaan Bulu Matanre juga diperintah oleh seorang wali yang dukenal To manurung E ri Bulu Matanre atau yang digelar dengan nama Petta Bulu Matanre. Ia memiliki beberapa orang anak, seorang Putra beliau yang bernama Baso Paranrengi pernah mengalami peristiwa yang sama persis seperti yang juga pernah dialami oleh putri Arung Tete. Baso Paranrengi mengalami perasaan intim layaknya hubungan suami istri disaat terjadinya Guntur yang amat dahsyat pada usia yang memang sudah beranjak dewasa. Namun peristiwa tersebut dianggap hal yang biasa sehingga kejadian tersebut dibiarkan berlalu begitu saja. Baso Paranrengi memiliki kegemaran berburu rusa, sehingga hari-harinya biasa di manfaatkan pergi kehutan untuk berburu.
Suatu hari Baso Paranrengi di temani oleh pengawalnya yang bernama La Salatu pergi berburu di hutan dekat bukit yang didiami oleh I Besse Timo beserta putrinya.  Pada saat mereka berdua Istirahat di suatu bukit, la Baso Paranrengi memperhatikan anjing Pemburunya si Hitam dan si Putih dengan seksama yang baru saja datang dengan perut yang kenyang sementara belum mendapatkan tangkapan hewan buruan seekor pung. Melihat keanehan tersebut, ia pun menyuruh La Salatu (pengawal pribadinya) di suatu ketinggian untuk berdiri “toli’ ko Salatu” mengamati apakah di sekitar  kawasan perburuan kita ada orang yang tinggal. Di bukit tempat pengawalnya berdiri itulah kemudian di namai bulu Latoli  ( gunung berdiri). Sesaat kemudian pengawalnya itu melaporkan bahwasanya disebuah puncak bukit terdapat asap api. Maka bergegaslah Putra Petta Bulu Matanre meninggalkan Gunung Latoli menuju ke puncak bukit dimana asap api itu berasal dengan maksud mengetahui siapa gerangan yang tinggal di sana.
Tatkala ia sampai di bukit tempat suber asap berasal, dia melihat sebuah bangunan tempat tinggal berupa gubuk kecil. Untuk memenuhi rasa penasarannya dia pun segera mendekati gubuk tersebut, dia berdiri tepat di depan gubuk kecil namun tertata rapi itu sambil mengamati siapa  gerangan pemiliknya. Tiba –tiba dua orang keluar bersamaan dari dalam gubuk sederhana tersebut bermaksud hendak bersantai seperti biasanya di halaman gubuknya. Baso Paranrengi yang sudah berdiri sejak tadi menyaksikan dengan jelas iringan kedua orang tersebut keluar dari gubuk beratap rumpia tersebut. Betapa terpananya melihat pemandangan indah dua orang gadis jelita cantik nan rupawan itu. Melihat kecantikan kedua wanita yang ada di hadapannya, Baso Paranrengi tiba-tiba jatuh pinsan tak sadarkan diri. Pengawal yang baru kali pertama itu melihat tuannya pinsang tak bisa berbuat apa-apa kecuali meminta pertolongan kepada kedua wanita cantik tersebut. Dengan segera I Besse Timo segera mengambil segayuh air lalu mencelupkan ujung rambutnya kemudian memercikkan ke muka Baso Paranrengi. Seketika itu pula Putra Petta Bulu Matanre tersebut tersadarkan dan berniat untuk memperistrikan wanita cantik yang telah mengobatinya itu. Dari peristiwa inilah sehingga orang bugis mengenal “pangeppi weluwa” memercikkan ujung rambut ke muka pasien sebagai tehnik pengobatan orang yang sedang pinsang.
Ketika Baso Paranrengi kembali ke rumah, ia langsung mengurung diri dengan membungkus sekujur tubuhnya dengan sarung. Melihat gerak gerik putranya yang tidak biasanya itu, Petta Bulu Matanre bertanya prihal keanehan sikap putranya itu kepada La Salatu sang Pengawal.  Pengawalnya itu menceritakan kejadian yang dialami putranya selama dalam perburuan. Dia menceritakan prihal pertemuan antara Baso Paranrengi dengan dua wanita cantik yang tinggal di sekitar hutan tempat perburuannya. Mendengar cerita pengawal tersebut, Petta Bulu Matanre selaku orang tua segera memahami perasaan putranya tersebut dan mengatakan sesuatu kepadanya “ oto’no Baso ulao maddutakko baja” bangunlah Baso, besok ayah akan pergi melamar wanita yang telah menawan hatimu.
Alhasil keesokan harinya Petta Bulu Matanre pergi melamar wanita tersebut. Sesampai di gubuk wanita itu, beliau mengutarakan maksud kedatangannya yang hendak melamar. Namun I Besse Timo pada saat itu tidak mempunyai Wali Nikah sehingga tidak langsung menerima lamaran tersebut. Ia kemudian mengisyaratkan Petta Bulu Matanre untuk pergi dulu menemui seorang wali disebuah gunung sebelah selatan bukit Bittawang.
Tanpa menunggu waktu lagi, Petta Bulu Matanre langsung berangkat ke gunung yang dimaksud. Ia lalu menjelajah gunung tersebut demi menemukan wali yang dimaksud. Pencarian dilakukan mencakup seluruh kawasan dipegunungan tersebut, namun tidak juga ketemu. Usaha untuk menemukan Wali yang dimaksud telah menguras energy dan waktu yang luarbiasa lama hingga Petta Bulu Matanre merasa kelelahan (poso) akibat perjalanan yang menanjak,menurun yang dilaluinya. Akhirnya Petta Bulu Matanre tidak mampu lagi melanjutkan pencarian akibat kelelahan yang teramat sangat itu. Disinilah asal mula nama Gunung Laposo yang  berarti Gunung yang melelahkan dengan ketinggian 100 kdpl di sematkan.  Dalam keadaan Petta Bulu Matanre kelelahan dan hamper berputus asa  tiba-tiba muncul seseorang yang mengaku sebagai Wali dari I Besse Timo. Petta Bulu Matanre pun segera mengutarakan maksudnya . Akhirnya Wali yang senang bertapa di Gunung itu yang ternyata adalah jelmaan To Manurung E Tellang Kere Ri Tete bersedia untuk datang menjadi wali nikah terhadap wanita yang dipinang oleh Putra Petta Bulu Matanre tersebut.    
Pada hari yang telah disepakati keduanya, Petta Bulu Matanre beserta Putranya datang kembali ke Gubuk Bukit Kandiawan. Di gubuk itu telah hadir pula Wali yang merupakan Ayah dari I Besse Timo. Pada saat pembicaraan antara kedua pihak keluarga berlangsung, Baso Paranrengi di persilahkan memilih salah seorang dari kedua wanita cantik itu sebagai calon istri. Tanpa mengetahui status kedua wanita yang serupa dengan anak kembar itu, pilhannya jatuh pada I Besse Timo yang sudah berstatus sebagai ibu dari I Besse Kadiu. Mereka pun dinikahkan.
Setelah keduanya sudah resmi menjadi suami istri, mereka hidup rukun damai di tempat ini. Suatu hari mereka menceritakan kisah remaja mereka masing-masing. Sampai pada kisah ledakan Petir / guntur yang menggelegar  yang pernah dialami oleh Baco Paranrengi pada  masa remaja. Ternyata cerita yang sama juga pernah di alami oleh  I Besse Timo. Bahkan waktu kejadiannya pun bersamaan. Keduanya menceritakan apa yang dirasakan pada kejadian tersebut. Baik I Besse Timo maupun Baco Paranrengi mengungkapkan bahwa perasaan yang dirasakan pada saat itu persis sama dengan perasaan orgasme layaknya berhubungan suami istri. Barulah I Besse Timo menyadari bahwa sesungguhnya Ayah dari putrinya I Besse Kadiu tidak lain adalah Baso Paranrengi sendiri.
Beberapa tahun kemudian, pasangan suami istri ini yang telah dinikahkan secara resmi ini dikaruniakan beberapa anak lagi. Pada saat yang sama ayamnya pun berkembang biak di tempat ini. Namun anehnya ayam ayam miliknya tidak pernah tinggal di tempat itu pada siang hari. Setiap pagi ayam-ayam itu pergi ke puncak bukit yang bersebelahan dengan puncak bukit Kandiawan tempatnya bermukim. Melihat kebiasaan ayam yang tidak lazim tersebut, maka I Besse Timo ditemani Suaminya mengikuti jejak ayamnya itu. Setelah sampai dipuncak bukit tersebut, mereka mendapati ayam-ayan nya itu sedang asyik bermandikan tanah membentuk gundukan tanah. Aktivitas ayam membuat gundukan tanah ini dalam Bahasa bugis disebut “Mabbumpung” , sementara lokasi tempat ayam-ayam membuat gundukan tanah itu dinamakan “Umpungeng”.   
Karena tempat itu menarik bagi keluarga Baso Parenrengi, maka mereka merencanakan pindah menetap di tempat ini. Baso Parenrengi dan I Besse Timo bertapa / bertahannus di tempat ini meminta kepada Dewata Pattappa (Tuhan Pencipta), agar diterima dengan baik di tempat baru ini. Permintaan mereka dikabulkan dan tanpa diduga, mereka dihadiahi sebuah rumah yang material bangunannya kokoh namun terbuat dari kayu-kayu yang saat ini kita kenal tumbuhan jangka pendek seperti kayu Cabai dan lain-lain berdiri tepat di atas bukit itu sekitar 60 m sebelah barat lokasi Umpungeng. Rumah inilah yang dikenal dengan nama Bola Manurung’E Ri Umpungeng. Keluarga Baso Paranrengi akhirnya dapat pindah ketempat baru ini yang kemudian beranak cucu hingga membentuk perkampungan yang dikenal Kampung Umpungeng.
Setelah perkembangan dari waktu ke waktu, masyarakat Umpungeng semakin bertambah jumlahnya sementara lokasi tempat pemukiman diatas bukit semakin terasa sempit maka sebagian diantaranya memilih keluar atau merantau dan sebagian kecil tetap bermukim disini hingga sampai pada satu masa berdiri kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Umpungeng yang dipimping oleh seorang yang bernama Nenek Dongkong yang juga dikenal dengan “Arung Umpungeng”.  Kepemimpinannya bersahaja dan memiliki kemampuan diplomasi yang hebat, sehingga Umpungeng menjadi tuan rumah / tempat pertemuan para Raja pada saat itu. Lokasi pertemuan para pemimpin tersebut berada persis di lokasi Umpungeng (tempat ayam-ayam ma’bumpung) yang kini di kenal Lalabata  Umpungeng / Garugae. Tempat ini merupakan salah satu situs megalitikum yang terbentuk dari deretan batu-batu gunung membentuk lingkarang dan di tengahnya terdapat batu pertengahan (posina tanae). Konon setiap satu batu merupakan tempat duduknya satu perwakilan yang membentuk lingkarang. Tempat inilah kemudian menjadi symbol pemersatu yang sering dikunjungi orang dari berbagai penjuru.
Kini zaman telah berubah, wilayah kekuasaan telah disatukan menjadi Republik yakni Republik Indonesia dan dibagi tidak lagi berdasarkan kekuasaan kerajaan namun berdasarkan wilayah Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa. Umpungeng telah menjadi sebuah nama kampung yang berada di wilayah hukum bernama Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. (Ditulis oleh: Nurhayati, SPd. &  Dituturkan oleh: Umar Padlan)

27 komentar:

Puas juga membacanya....boleh gali lagi lebih banyak sejarah Umpungeng...salam hormat buat penulis....

Pemerintah Kab.Soppeng harusnya lebih memperhatikanya, bagaimana tidak penduduk asli soppenga sendiri banyak yg tdk tahu di mana itu Umpungeng

Salut sma penulis.y... Klu boleh tw Nurhayati siapa yg tulis in sejrah Umpungen... Kami kturunan Umpungen sngat brterima kasih kpada beliau(penulis) krn bru skrg kmi tw btul sjrah asal usul umpungen...
Smg pnulis slu dberikan ksehatan untuk slu mnerbitkan karya.2 yg lain ttg Kabupaten Soppeng khusus.y Umpungen...
Amin

Saya dari jawa dan belum mengenal Umpungeng, saya coba baca dulu yah,,,

Saya baca sampai habis tapi, saya belum mengetahui kehamilan putrinya tersebut dengan siapa yah,,, Saya suka cerita rakyat.

Luar biasa asal mulanya umpungeng.. bangga jadi warga desa umpungeng..

Yth, penulis
Sy sangat tertarik utk mengetahui lebih jauh tentang arung tete. Sekiranya penulis memiliki lebih lagi tentang sejarah arung tete, saya harap penulis bs berbagi dgn saya.
Salam hormat
FAJAR
fajar_jabir@yahoo.com

Saya sebagai putra asli shopping keturunan umpungeng sangat senang bisa mengetahui sejarah umpuneng meskipun belum pernah kesana,tolong diangkat lagi sejarah yg shopping yg lainnya,saya sangat berterima kasih kepada penulisnya dan sangat bangga kepada nurhayati

Menarik untuk menggali lebih dalam sehjarah tersebut, sehingga terurai benang merah kaitan sejarah antara daerah yang satu dan yang lain, termasuk di dalamnya kaitan Umpungeng dalam kisah I La Galigo...trimakasih atas tulisannya

Bangga jadi orang soppeng. Terimakasih penulis

Wiiihhh keren.. banggata' mi jd org soppeng.. meski tdk tinggal di desa umpungeng..

Saya bangga jadi jadi org soppeng, story y luar biasa

Meski saya tinggl di kaltim tpi saya asli orang soppeng.umpunge daerah tajunju kah karna saya tdk perna ke umpunge.tolong infox dong

Meski saya tinggl di kaltim tpi saya asli orang soppeng.umpunge daerah tajunju kah karna saya tdk perna ke umpunge.tolong infox dong

Anak saya sering kesana untuk mengajar di sekolah dasar. Anak saya bersatu dalam komunitas SEKOLAH KAKI LANGIT. Saya bangga anak saya bisa berbagi ilmu di tempat Center Indonesia

Tulisannya bagus...
Keren...

Menurut di bacaan tersebut yg menghamili putrinya adalah yg skrng menjadi suaminya

Jdi penasaran ingin kenal sama keturunannya Besse DiUmpungeng siapa tau cocok :)

Masya Allah, sungguh 1 cerita y' m'berikan beberapa hikmah bagi yang mengambil pelajaran...

sangat menarik klo bisa semua sejara dancerita dulu di gali dan dipublikasikan

Sudah lama sy kenal namanya umpungen 15 tahun yll. tapi belum pernah sy kesana penasaran mendengar riwayatnya Umpengen

Bangga jadi org soppeng ,, Umpungeng kampung yang sangat luar biasa d sana kami tdk boleh sembarang bicara krn tiap pembicaraan yg tdk layak di ucapkan langsung terjadi pada kita.

Assalamu'alaikum mohon maaf numpang tanya sy memiliki Arajang yg bernama umpungeng dan lamba belo, umpungeng berupa sapukala dan warisan dari almarhum ayahanda sy, dan jg diwariskan dr buyutnya yg Muh.Saleh yg bergelar Petta Sulo datue dari lapasu kab. Barru tepatnya dirumah adat lapinceng. Sy pernah diceritakan bahwa asal muasal pusaka yg berupa sapukala ini katanya berasal dari soppeng. Mohon petunjuk jika ada yg tau. Terima kasih, Hormatku A. Syaidil Baso Sumange

Mungkin kita salah satu turunan/generasi dari Arung Umpungeng

Posting Komentar

Testimoni Pengunjung