titik tengah INDONESIA,

ditandai persis ditengah sebuah situs Megalitikum berupa lingkaran Batu membentuk angka Nol bernama GARUGA. Ditengah lingkaran terdapat batu yang menjadi titik pertengahan INDONESIA.

Selamat datang di Umpungeng,

Sebuah kawasan yang terjaga kemurnian alamnya sejak dulu,kini dan Isnya Allah dimasa yang akan datang. Mari kita jaga Umpungeng agar tetap menjadi sumber mata air kita bersama.

GARUGAE, symbol titik tengah INDONESIA

Lingkaran Batu yang disebut Lalebata (Garugae) merupakan situs megalitikum peninggalan sejarah Bugis.

Batu Cinta

Lubang batu yang terbentuk secara alami oleh terpaan air di pinggir sungai Batuletengnge Umpungeng.

Alam Umpungeng

Menyimpan aneka flora dan fauna yang warna warni, mari nikmati kesejukan alamnya dan jaga kelestariannya.

Kawasan pertanian

Mayoritas warga Umpungeng berprofesi sebagai Patani,sebagian besar bertani Cengkeh, sisanya menanam kopi, fanili, kemiri, pangi dan berbagai jenis umbi umbian lainnya.

Pengrajin Gula Aren?

luas areal hutan pohon aren di kawasan Umpungeng mencapai 620 ha (4% dari luas hutan) menjadikan kawasan ini sebagai sentra Gula aren.

Kus kus

Kus-kus atau orang Umpungeng menyebutnya Memu adalah hewan yang paling ramah dan juga langkah, hidup di alam liar namun jinak sama manusia.

Burung Rangkong Sulawesi

Burung Rangkong (Alo bagi orang Umpungeng)merupakan salah satu hewan endemik di Kawasan Umpungeng yang dilindungi,mari kita jaga dan lestarikan keberadaannya

Rusa Sulawesi

Rusa jenis ini hidup berkelompok dan masih bisa dijumpai di kawasan Umpungeng, hanya saja warga sering melakukan perburuan liar yang mengakibatkan Rusa Sulawesi ini terancam punah. Ayo kita lindungi!

Kawasan resapan air

Aliran 5 sungai yang bermuara pada sungai langkemme menjadi pemasok utama irigasi pertanian untuk kawasan Kabupaten Soppeng dan sekitarnya.

Aliran sungai-sungai yang sejuk dan indah

Sungainya mengalir sepanjang tahun, disepanjang sungai dipenuhi tumbuh-tumbuhan herbal yang kaya manfaat untuk obat ataupun nutrisi bagi kehidupan kita.

Hamparan bukit Umpungeng

Deretan 3 bukit menyerupai manusia yang sedang terbujur (Wuju), Inilah tanah leluhur yang hampir luput dalam sejarah.

Pesona Keindahan Air Terjun

Kejernihan dan kebersihan airnya memberi kesegaran dan kesan alam yang kuat

Donasi Pohon Aren

Ayo berpartisipasi untuk menjaga sumber mata air bersama

Pembangunan Masjid Nol Satu

Sebagai sarana ibadah ditengah kesejukan alam sekaligus sbagai simbol titik pertengahan Indonesia.

Kamis, 11 Desember 2014

Selamat Datang di ecovillage Umpungeng

Undangan terbuka
بسم الله الرحمن الرحيم

Kepada Yth;
Para Pengunjung  umpungengecovillage
Di manapun Anda berada

Dengan hormat,
Salam hangat dari kami warga Umpungeng.
Dalam upaya mewujudkan masyarakat yang sejahtera dibutuhkan sinergi yang solid dari berbagai unsur masyarakat. Mewujudkan tatanan masyarakat yang berbudaya positif serta berkinerja produktif tidaklah mungkin di sandarkan pada proses alam meski disekelilingnya terdapat kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Sebagai desa yang memiliki aset kekayaan alam dengan wilayah yang sangat luas, Umpungeng membutuhkan sentuhan ilmu pengetahuan dari para ilmuan serta teknik pengelolaan lingkungan yang baik dan produktif dari para profesional sebagaimana yang diterapkan di industri-industri berkembang.

Namun kami menyadari bahwa untuk mendapatkan itu semua dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, ditambah lagi dengan keterbatasan akses informasi serta pengetahuan warga yang sangat minim akan perlunya melibatkan para ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk mendapatkan hasil sumber daya alam secara optimal di satu sisi dan menjaga kelangsungan sumber daya alam disisi lain.  Kesadaran inilah yang melatar belakangi kami selaku putra daerah mengundang partisipasi berbagai elemen masyarakat untuk turut serta dalam  berbagai program-program  yang tertuang dalam blog ini dalam rangka mewujudkan visi kami menjadi desa yang mandiri dan sejahtera.

Dengan memohon ridho dari Allah SWT dan dengan segala kerendahan hati kami atas nama warga Umpungeng mengundang para Ulama/Ilmuan (peneliti), Akademisi (Dosen & Mahasiswa), para profesional dari berbagai latar belakang profesi khususnya yang berdomisili di Propinsi Sulawesi Selatan  untuk berkunjung ke Desa kami, berbagi ilmu dan pengalaman serta memberi tuntunan untuk kami jadikan pegangan dalam mengelola aset yang Allah amanatkan kepada kami.

Dengan  sinergi berbagai disiplin keilmuan, kami yakin kelak akan memberi dampak positif bagi generasi muda, akan terbentuk tradisi keilmuan baru yang sinergis (berjamaah), integral (silaturrahim) dan aplikatif (manfaat)  yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang pada akhirnya masyarakat akan faham betapa berharganya ilmu pengetahuan dalam kehidupan kita.

Akhirnya kami menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya atas setiap partisipasi yang diberikan, hanya kepada Allah lah sumber segala balasan.   

Umpungeng 31 Mei 2013
Hormat


Sudirman A.Rahman
Inisiator



Rabu, 10 Desember 2014

UMPUNGENG sebagai asal mula nama

Dahulu kala di sebuah tempat yang terletak di tepi sebelah utara Ibukota Kabupaten Bone, Hidup seorang Wali yang dikenal dengan To Manurung’E Tellang Kere Ri tete. Konon daerah tersebut kian hari kian ramai dikunjungi oleh orang-orang yang berdatangan dari berbagai penjuru. Kondisi tersebut menjadi kan lahirnya sebuah Kerajaan kecil yang kemudian dipimpin oleh To Manurung’E. Sebagai Penguasa Kerajaan Tete, beliau digelar Arung Tete.
Arung tete memiliki tujuh orang anak, Salah seorang diantaranya bernama I Besse Timo yang merupakan putri sulung yang menjadi putri kesayangan beliau. I Besse timo selain memiliki paras yang cantik rupawan juga sopan dan patuh pada orang tua.
I Besse timo semakin tumbuh dewasa layaknya gadis-gadis pada umumnya.  Suatu ketika terjadi Guntur yang amat dahsyat, bersamaan dengan kejadian tersebut I Besse Timo mengalami kejadian luar biasa. Beliau (I Besse Timo) mengalami perasaan intim yang luarbiasa  nikmatnya layaknya hubungan suami istri. Setelah kejadian tersebut I Besse Timo dinyatakan hamil tanpa diketahui siapa gerangan yang menjadi pasangannya.
Melihat putrinya hamil tanpa suami, Arung Tete sangat terkejut dan keheranan mengingat dalam keseharian putrinya tersebut hidup bersahaja dan sangat menjaga diri dari pergaulan yang terlarang. Ditengah keheranannya Arung Tete pun menanyakan prihal tersebut kepada Putrinya.  I Besse Timo pung segera menceritakan peristiwa yang dialaminya tanpa ragu. I Besse timo sangat mengenal karakter Ayahnya yang bijak dan pernuh perhatian terhadap setiap kejadian yang dialami putrinya. Dalam keadaan batin bergolak antara keinginan untuk segera mengungkap siapa gerangan laki-laki yang telah berbuat demikian dengan putrinya dengan perasaan kasih sayang terhadap putri yang disayanginya tersebut, Arung tete memutuskan agar putrinyalah yang harus menemukan sendiri laki-laki yang telah menghamilinya itu. Arung Tete menyuruh putrinya I Besse Timo untuk pergi mencari laki-laki siapa gerangan ayah anak yang dikandungnya.  Dengan berat hati Arung Tete mengantar putrinya sampai ke tepian sungai yang bernama sungai Tete. Dengan perasaan haru Arung Tete memberikan perbekalan secukupnya kepada putri kesayangannya berupa seikat padi dan sebutir telur yang telah dierami oleh induknya. Namun telur itu tidak diserahkan kepada I Besse Timo melainkan dihanyutkan ke Sungai Tete sebagai petunjuk jalan. Arung Tete kemudian menyuruh putrinya mengikuti telur itu kemana pun ia pergi. Anehnya telur yang dihanyutkan oleh ayahnya itu tetap terapung diatas air dan berjalan mengikuti arus, I Besse timo terus mengikuti pergerakan telur menyusuri sungai.
Ketika perjalanan telur ajaib ini sampai di kaki gunung yang letaknya sebelah barat Kabupaten Soppeng telur tersebut istirahat maka I Besse Timo pun ikut beristirahat selama beberapa saat. Dari tempat tersebut I BT memandang jauh ke puncak gunung tersebut sambal merenungi keadaan dirinya yang sedang hamil tanpa pernah dijamah oleh lelaki manapun. Sebagai tanda kenangan bahwa dirinya saat itu masih gadis, ia lalu memberi nama gunung yang dipandanginya tersebut dengan nama Bulu Ana’dara (Gunung Gadis).
Selanjutnya telur itu bergerak lagi kebawah mengikuti arus air. Namun setelah sampai disebuah pertemuan arus sungai antara Sungai Tete dengan Sungai Langkemme, tiba-tiba telur tersebut berbelok naik melawan arah menyisir ke arah sungai asal Langkemme. Ditempat berbeloknya telor inilah kemudian diberi nama Salo Palekoreng  (Belokan Sungai) karena telor tersebut berbelok. Sementara telur itu bergerak terus melawan arus sungai, I BT pun dengan sabar mengikuti kemana gerangan tempat yang akan dituju.   Begitulah terus keadan telur tersebut hingga kebudian sampai pada suatu tempat telur itu pun tiba-tiba merubah arah (lain arah)  pergerakan. Telur tersebut tidak lagi menyusuri sungai melainkan berbelok naik kedaratan dan menggelinding menyusuri perbukitan. Perubahan pergerakan tersebut kemudian menjadi nama pada sungai tempat berbelok ini bernama Salo Lainna (Sungai Lain).
Telur yang menjadi pemandu perjalanan I Besse Timo ini terus bergelinding hingga sampai pada suatu bukit telur tersebut tidak lagi bergerak. Dalam keadaan telur diam ini, maka I BT memahami bahwa perjalanan telur sudah berakhir, yang berarti puncak bukit ini menjadi tujuan akhir perjalanan. Maka segerah lah IBT membangun sebuah gubuk kecil sebagai tempat tinggal. Padi yang ada dalam genggaman sebagai bekal yang diberikan oleh sang ayah pun segera di tanam. Hari-harinya di isi dengan bekerja mencari nafka demi mempertahankan hidup sebatang kara ditengah hutan belantara. Padi yang ditanam pun dipanen, namun karena keterbatasan pengetahuan maka padi yang di panen tersebut hanya dinikmati kuitnya (awang). Kebiasaan memakan kulit padi ini dalam Bahasa bugis disebut “pakkande awang”.yang berarti pemakan ampas padi. Kebiasaan I Besse Timo mengkomsumsi awang ini diabadikan sebagai nama bukit yang dihuninya itu dengan nama  Coppo Kandiawang (puncak bukit pemakan ampas padi)
Diatas bukit tersebut, I BesseTimo yang pada awalnya hidup sendirian namun setelah beberapa bulan kemudian anak yang dikandungnya lahir. Tanpa ditemani oleh siapapun dia melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama I Besse Kadiu. Bersama dengan kelahiran putrinya itu, telur yang menuntunnya hingga ke Coppo Kandiawang tersebut pun menetas dan menjadilah seekor ayam betina.
Beberapa tahun kemudian, seiring dengan pertumbuhan ayamnya yang kian lama semakin besar itu, putri Ibesse Timo pun semakin tumbuh dewasa menjadi seorang gadis. Kehadiran putrinya yang juga berparas cantik jelita membuat hidup putri Arung Tete itu tenteram, kendi belum diketahui siapa lelaki yang merupakan ayah dari putrinya tersebut. Bert ahun-tahun mereka berdua hidup di hutan belantara itu, namun tak seorangpun yang mengetahui keberadaannya, sekalipun tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah Kerajaan kecil yang hanya diantarai oleh dua bukit saja. Kerajaan tersebut bernama kerajaan Bulu Matanre.
Seperti halnya kerajaan Tete, kerajaan Bulu Matanre juga diperintah oleh seorang wali yang dukenal To manurung E ri Bulu Matanre atau yang digelar dengan nama Petta Bulu Matanre. Ia memiliki beberapa orang anak, seorang Putra beliau yang bernama Baso Paranrengi pernah mengalami peristiwa yang sama persis seperti yang juga pernah dialami oleh putri Arung Tete. Baso Paranrengi mengalami perasaan intim layaknya hubungan suami istri disaat terjadinya Guntur yang amat dahsyat pada usia yang memang sudah beranjak dewasa. Namun peristiwa tersebut dianggap hal yang biasa sehingga kejadian tersebut dibiarkan berlalu begitu saja. Baso Paranrengi memiliki kegemaran berburu rusa, sehingga hari-harinya biasa di manfaatkan pergi kehutan untuk berburu.
Suatu hari Baso Paranrengi di temani oleh pengawalnya yang bernama La Salatu pergi berburu di hutan dekat bukit yang didiami oleh I Besse Timo beserta putrinya.  Pada saat mereka berdua Istirahat di suatu bukit, la Baso Paranrengi memperhatikan anjing Pemburunya si Hitam dan si Putih dengan seksama yang baru saja datang dengan perut yang kenyang sementara belum mendapatkan tangkapan hewan buruan seekor pung. Melihat keanehan tersebut, ia pun menyuruh La Salatu (pengawal pribadinya) di suatu ketinggian untuk berdiri “toli’ ko Salatu” mengamati apakah di sekitar  kawasan perburuan kita ada orang yang tinggal. Di bukit tempat pengawalnya berdiri itulah kemudian di namai bulu Latoli  ( gunung berdiri). Sesaat kemudian pengawalnya itu melaporkan bahwasanya disebuah puncak bukit terdapat asap api. Maka bergegaslah Putra Petta Bulu Matanre meninggalkan Gunung Latoli menuju ke puncak bukit dimana asap api itu berasal dengan maksud mengetahui siapa gerangan yang tinggal di sana.
Tatkala ia sampai di bukit tempat suber asap berasal, dia melihat sebuah bangunan tempat tinggal berupa gubuk kecil. Untuk memenuhi rasa penasarannya dia pun segera mendekati gubuk tersebut, dia berdiri tepat di depan gubuk kecil namun tertata rapi itu sambil mengamati siapa  gerangan pemiliknya. Tiba –tiba dua orang keluar bersamaan dari dalam gubuk sederhana tersebut bermaksud hendak bersantai seperti biasanya di halaman gubuknya. Baso Paranrengi yang sudah berdiri sejak tadi menyaksikan dengan jelas iringan kedua orang tersebut keluar dari gubuk beratap rumpia tersebut. Betapa terpananya melihat pemandangan indah dua orang gadis jelita cantik nan rupawan itu. Melihat kecantikan kedua wanita yang ada di hadapannya, Baso Paranrengi tiba-tiba jatuh pinsan tak sadarkan diri. Pengawal yang baru kali pertama itu melihat tuannya pinsang tak bisa berbuat apa-apa kecuali meminta pertolongan kepada kedua wanita cantik tersebut. Dengan segera I Besse Timo segera mengambil segayuh air lalu mencelupkan ujung rambutnya kemudian memercikkan ke muka Baso Paranrengi. Seketika itu pula Putra Petta Bulu Matanre tersebut tersadarkan dan berniat untuk memperistrikan wanita cantik yang telah mengobatinya itu. Dari peristiwa inilah sehingga orang bugis mengenal “pangeppi weluwa” memercikkan ujung rambut ke muka pasien sebagai tehnik pengobatan orang yang sedang pinsang.
Ketika Baso Paranrengi kembali ke rumah, ia langsung mengurung diri dengan membungkus sekujur tubuhnya dengan sarung. Melihat gerak gerik putranya yang tidak biasanya itu, Petta Bulu Matanre bertanya prihal keanehan sikap putranya itu kepada La Salatu sang Pengawal.  Pengawalnya itu menceritakan kejadian yang dialami putranya selama dalam perburuan. Dia menceritakan prihal pertemuan antara Baso Paranrengi dengan dua wanita cantik yang tinggal di sekitar hutan tempat perburuannya. Mendengar cerita pengawal tersebut, Petta Bulu Matanre selaku orang tua segera memahami perasaan putranya tersebut dan mengatakan sesuatu kepadanya “ oto’no Baso ulao maddutakko baja” bangunlah Baso, besok ayah akan pergi melamar wanita yang telah menawan hatimu.
Alhasil keesokan harinya Petta Bulu Matanre pergi melamar wanita tersebut. Sesampai di gubuk wanita itu, beliau mengutarakan maksud kedatangannya yang hendak melamar. Namun I Besse Timo pada saat itu tidak mempunyai Wali Nikah sehingga tidak langsung menerima lamaran tersebut. Ia kemudian mengisyaratkan Petta Bulu Matanre untuk pergi dulu menemui seorang wali disebuah gunung sebelah selatan bukit Bittawang.
Tanpa menunggu waktu lagi, Petta Bulu Matanre langsung berangkat ke gunung yang dimaksud. Ia lalu menjelajah gunung tersebut demi menemukan wali yang dimaksud. Pencarian dilakukan mencakup seluruh kawasan dipegunungan tersebut, namun tidak juga ketemu. Usaha untuk menemukan Wali yang dimaksud telah menguras energy dan waktu yang luarbiasa lama hingga Petta Bulu Matanre merasa kelelahan (poso) akibat perjalanan yang menanjak,menurun yang dilaluinya. Akhirnya Petta Bulu Matanre tidak mampu lagi melanjutkan pencarian akibat kelelahan yang teramat sangat itu. Disinilah asal mula nama Gunung Laposo yang  berarti Gunung yang melelahkan dengan ketinggian 100 kdpl di sematkan.  Dalam keadaan Petta Bulu Matanre kelelahan dan hamper berputus asa  tiba-tiba muncul seseorang yang mengaku sebagai Wali dari I Besse Timo. Petta Bulu Matanre pun segera mengutarakan maksudnya . Akhirnya Wali yang senang bertapa di Gunung itu yang ternyata adalah jelmaan To Manurung E Tellang Kere Ri Tete bersedia untuk datang menjadi wali nikah terhadap wanita yang dipinang oleh Putra Petta Bulu Matanre tersebut.    
Pada hari yang telah disepakati keduanya, Petta Bulu Matanre beserta Putranya datang kembali ke Gubuk Bukit Kandiawan. Di gubuk itu telah hadir pula Wali yang merupakan Ayah dari I Besse Timo. Pada saat pembicaraan antara kedua pihak keluarga berlangsung, Baso Paranrengi di persilahkan memilih salah seorang dari kedua wanita cantik itu sebagai calon istri. Tanpa mengetahui status kedua wanita yang serupa dengan anak kembar itu, pilhannya jatuh pada I Besse Timo yang sudah berstatus sebagai ibu dari I Besse Kadiu. Mereka pun dinikahkan.
Setelah keduanya sudah resmi menjadi suami istri, mereka hidup rukun damai di tempat ini. Suatu hari mereka menceritakan kisah remaja mereka masing-masing. Sampai pada cerita yang dialami keduanya  ketika terjadi ledakan Guntur yang amat dahsyat. Keduanya menceritakan apa yang dirasakan pada kejadian tersebut. Baik I Besse Timo maupun Baco Paranrengi mengungkapkan bahwa perasaan yang dirasakan pada saat yang bersamaan persis sama dengan perasaan orgasme layaknya berhubungan suami istri. Barulah I Besse Timo mengetahui bahwa sesungguhnya Ayah dari putrinya I Besse Kadiu tidak lain adalah Baso Paranrengi sendiri.
Beberapa tahun kemudian, pasangan suami istri ini yang telah dinikahkan secara resmi ini dikaruniakan beberapa anak lagi. Pada saat yang sama ayamnya pun berkembang biak di tempat ini. Namun anehnya ayam ayam miliknya tidak pernah tinggal di tempat itu pada siang hari. Setiap pagi ayam-ayam itu pergi ke puncak bukit yang bersebelahan dengan puncak bukit Kandiawan tempatnya bermukim. Melihat kebiasaan ayam yang tidak lazim tersebut, maka I Besse Timo ditemani Suaminya mengikuti jejak ayamnya itu. Setelah sampai dipuncak bukit tersebut, mereka mendapati ayam-ayan nya itu sedang asyik bermandikan tanah membentuk gundukan tanah. Aktivitas ayam membuat gundukan tanah ini dalam Bahasa bugis disebut “Mabbumpung” , sementara lokasi tempat ayam-ayam membuat gundukan tanah itu dinamakan “Umpungeng”.   
Karena tempat itu menarik bagi keluarga Baso Parenrengi, maka mereka merencanakan pindah menetap di tempat ini. Baso Parenrengi dan I Besse Timo bertapa / bertahannus di tempat ini meminta kepada Dewata Pattappa (Tuhan Pencipta), agar diterima dengan baik di tempat baru ini. Permintaan mereka dikabulkan dan tanpa diduga, mereka dihadiahi sebuah rumah yang material bangunannya kokoh namun terbuat dari kayu-kayu yang saat ini kita kenal tumbuhan jangka pendek seperti kayu Cabai dan lain-lain berdiri tepat di atas bukit itu sekitar 60 m sebelah barat lokasi Umpungeng. Rumah inilah yang dikenal dengan nama Bola Manurung’E Ri Umpungeng. Keluarga Baso Paranrengi akhirnya dapat pindah ketempat baru ini yang kemudian beranak cucu hingga membentuk perkampungan yang dikenal Kampung Umpungeng.
Setelah perkembangan dari waktu ke waktu, masyarakat Umpungeng semakin bertambah jumlahnya sementara lokasi tempat pemukiman diatas bukit semakin terasa sempit maka sebagian diantaranya memilih keluar atau merantau dan sebagian kecil tetap bermukim disini hingga sampai pada satu masa berdiri kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Umpungeng yang dipimping oleh seorang yang bernama Nenek Dongkong yang juga dikenal dengan “Arung Umpungeng”.  Kepemimpinannya bersahaja dan memiliki kemampuan diplomasi yang hebat, sehingga Umpungeng menjadi tuan rumah / tempat pertemuan para Raja pada saat itu. Lokasi pertemuan para pemimpin tersebut berada persis di lokasi Umpungeng (tempat ayam-ayam ma’bumpung) yang kini di kenal Lalabata  Umpungeng / Garugae. Tempat ini merupakan salah satu situs megalitikum yang terbentuk dari deretan batu-batu gunung membentuk lingkarang dan di tengahnya terdapat batu pertengahan (posina tanae). Konon setiap satu batu merupakan tempat duduknya satu perwakilan yang membentuk lingkarang. Tempat inilah kemudian menjadi symbol pemersatu yang sering dikunjungi orang dari berbagai penjuru.
Kini zaman telah berubah, wilayah kekuasaan telah disatukan menjadi Republik yakni Republik Indonesia dan dibagi tidak lagi berdasarkan kekuasaan kerajaan namun berdasarkan wilayah Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa. Umpungeng telah menjadi sebuah nama kampung yang berada di wilayah hukum bernama Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. (dituturkan oleh Petta Umar)

Rabu, 16 April 2014

WATANA : Solusi Pangan, Air dan Energi...

Dalam hal  kebutuhan pokok berupa pangan, air dan energi, sesungguhnya kita memiliki kombinasi sumber-sumber terbaiknya di dunia. Tetapi ironinya justru kita terbelakang dalam hal pemenuhan kebutuhannya.  Untuk pangan,  food security kita terendah di ASEAN. Dalam hal kebutuhan air, seperti laporan  McKinsey yang pernah saya kutip sebelumnya –pada tahun 2030 akan ada 25 juta orang Indonesia yang tidak mendapatkan akses air bersih dan bahkan 55 juta orang tidak mendapatkan sanitasi yang layak. Untuk energi,  ranking kita hanya berada pada urutan 63 dari 124 negara menurut World Economic Forum.


Ketika masalah-masalah diselesaikan secara sektoral dan lebih pada mengatasi gejala ketimbang akar masalahnya, maka yang kita lihat adalah sekumpulan masalah multi dimensi yang semakin ruwet tersebut di atas.

Ketika masalah kekurangan produksi pangan berupa tepung, daging, susu dlsb. diatasi dengan impor, tidak terbangun kemampuan daya tahan jangka panjang dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan ini. Bahkan ketika negeri ini akan menambah jutaan hektar lahan persawahan untuk mengejar kebutuhan pangan, inipun bukan solusi karena  bisa diduga dari mana jutaan  hektar lahan ini diperoleh ? membabat hutan ? menebang pohon-pohon ? musibah lingkungan yang malah akan terjadi.

Air yang turun lebih dari  cukup di musim hujan, sering dilihat sebagai musibah dan bukannya berkah. Challenge untuk mengelola air sebagai berkah ini belum nampak dilakukan secara memadai oleh pihak-pihak yang terkait sehingga musibah banjir terjadi setiap tahun dan kemudian musibah kekeringan terjadi hanya beberapa bulan sesudahnya.

Kebutuhan energi hanya menjadi isu sesaat ketika partai-partai politik berebut pencitraan dan popularitas dengan menolak kenaikan harga BBM. Sementara itu belum nampak adanya perjuangan mereka untuk ketersediaan energi satu dua dekade kedepan – ketersediaan (availability) dan keterjangkauan (affordability) energi pada era anak atau cucu kita.

Lantas solusi apa yang bisa dilakukan oleh rakyat seperti kita-kita ini agar bisa berbuat untuk kita sendiri,  dan bahkan juga untuk  anak cucu  kita nanti ? Solusi dari masalah multi dimensi itu  antara lain adanya di dua kata yang sudah sangat sering kita dengar yaitu Iman dan Amal Shaleh.

Dengan iman kita akan mau berbuat untuk tujuan yang sangat panjang dan bahkan untuk bekal ketika kita sudah tidak ada di bumi ini, bukan tujuan sesaat seperti mencari bekal untuk kita sendiri saat ini. Dengan iman  pula kita bisa meyakini bahwa petunjukNya untuk mengatasi segala kebutuhan manusia itu telah tersedia, kita tinggal mengikutinya tanpa ragu.

Dengan iman yang tidak berhenti pada tataran keyakinan dalam hati, maka iman itu akan termanifestasi dalam ucapan dan perbuatan-perbuatan kita berupa rangkaian amal shaleh yang bisa menjawab tantangan jaman seperti dalam hal pangan,  air dan energi tersebut di atas.

Iman itu adalah cahaya, membuat yang semula tidak terlihat menjadi terang benderang. Solusi atas kebuntuan masalah pangan, air dan energi yang semula serba ruwet misalnya, kini bisa dilihat solusinya yang terang benderang. Begitu terangnya sampai kita semua juga bisa mulai melakukannya, sehingga setiap diri kita adalah bagian dari solusi itu – dan bukan sebaliknya malah bagian dari permasalahannya.

 WATANA : Solusi untuk kebutuhan pangan, air dan energi.

Saya coba visualisasikan rangkaian petunjukNya untuk masalah pemenuhan kebutuhan pangan, air dan energi tersebut seperti pada ilustrasi di atas. Pertama adalah dalam kondisi ekstremnya kondisi bumi – yang matipun- Allah tetap bisa hidupkan dengan hujan. Maka betapa pentingnya hujan ini, jangan sia-siakan dia dan setiap kita bisa berusaha untuk menjadi faktor pengelola air hujan, bukan sebaliknya menjadi faktor musibah dari air hujan.

Dengan peran ini kita tidak akan membuang sampah sembarangan, tidak akan membangun di tempat-tempat yang seharusnya menjadi penampungan air, tidak menggunduli hutan dlsb. Sebaliknya kita akan terdorong untuk sadar lingkungan, sebanyak mungkin menanam pohon (pekerjaan yang diperintahkan sampai kiamat terjadi !), membuat resapan-resapan air dlsb.

Kemudian fungsi-fungsi air hujan itupun dijelaskanNya dengan sangat detil antara lain melalui dua ayat berikut :

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dansebagiannya (menghidupkan) pepohonan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS 16:10-11).

Bila diringkaskan fungsi air hujan dalam dua ayat tersebut adalah selain untuk minum kita, dia adalah untuk menghidupkan dan menumbuhkan segala jenis tanaman keras (syajara) yang hidup jangka panjang seperti zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan pada umumnya. Maupun tanaman-tanaman semusim (zara’a) seperti padi, gandum, jagung dlsb. Fungsi berikutnya adalah untuk menggembalakan ternak di tempat turunnya hujan dan tumbuhnya tanamana-tanaman tadi.

Kombinasi antara tanaman keras (syajara) dan tanaman semusim (zara’a) inilah yang oleh ilmu pertanian modern kemudian disebut dengan agroforestry yang sudah saya jelaskan dalam berbagai tulisan sebelumnya – bahkan menjadi buku tersendiri.

Tetapi dengan agroforestry atau yang dalam bahasa Indonesia disebut wana (hutan) tani ini masih ada yang kurang, yaitu sumber daging yang juga sangat kita butuhkan , sekaligus juga sumber pupuk yang sangat dibutuhan oleh tanaman-tanaman kita. Maka disinilah letak keindahan dan kelengkapan petunjukNya itu, yaitu Dia sisipkan ternak yang digembala di antara pepohonan dan tanaman-tanaman.

Ternak yang digembala adalah sumber daging yang paling ekonomis karena tidak perlu kerja keras manusia untuk mencarikan atau membeli pakannya. Ternak yang digembala juga menjadi pupuk yang paling efisien, karena tidak memerlukan tenaga manusia untuk memproduksinya,  menyebarkannya ataupun melakukan pemupukannya.

Maka solusi agroforestry plus grazing atau wana tani plus gembala ternak inilah yang untuk alasan kemudahan  saya singkat menjadi solusi WATANA – singkatan dari WAna TAni terNAk !

Dengan solusi WATANA yang dikembangkan berdasarkan petunjuk-petunjukNya tersebut di ataslah urusan segala macam kebutuhan pangan kita insyaAllah teratasi dengan sumber-sumber yang ada di sekitar kita, yang dimulai dari turunnya air hujan.

Lantas bagaimana dengan kebutuhan air ?, Pengelolaan air hujan menjadi mata air-mata air dan anak-anak sungai yang mengalir sepanjang tahun ini dijawab dengan ayat-ayat yang lain yaitu di Surat Yasin ayat 34 dan Surat Maryam ayat 23-24. Keduanya merupakan petunjuk akan adanya mata air dan anak sungai yang terkait dengan tanaman pohon kurma.

Bagaimana dengan kebutuhan energi ? PetunjukNya ada di surat Yasin ayat 80 dan surat Al-Waqi’ah ayat 71-72. Keduanya adalah petunjuk bahwa sumber energi-pun berasal dari pohon-pohon yang hijau.

Dari sini kita sekarang bisa melihat bahwa WATANA bukan hanya untuk solusi pangan tetapi juga solusi atas kebutuhan air dan energi yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Dan untuk ini kita semua bisa mulai berperan sesuai kemampuan serta bidang kita masing-masing. InsyaAllah. Oleh : Muhaimin Iqbal


Senin, 24 Februari 2014

Eco Village: Solusi Pemerataan dan Keberlanjutan Pembangunan

Proses pembangunan yang berlangsung sejauh ini tidak hanya menyebabkan ketimpangan antar wilayah, tapi juga mengakibatkan semakin timpangnya desa-kota. Hal ini terjadi karena efek penyedotan ke bawah (backwash effect) yang terjadi karena penggunaan konsep pusat pertumbuhan. Wilayah maju atau kota yang sesungguhnya diharapkan memiliki efek meneteskan kemajuan ke bawah (spread effect) pada kenyataannya melakukan eksploitasi terhadap daerah tidak maju atau desa untuk memenuhi kebutuhan kota. Akibatnya desa semakin tertinggal dan termiskinkan. Pada sisi yang lain, kemiskinan di desa mendorong masyarakat desa untuk bermigrasi ke kota guna memperbaiki kualitas kehidupannya. Migrasi masyarakat desa ke kota ini kemudian pada gilirannya menyebabkan kelumpuhan kota dan terciptanya masyarakat miskin kota akibat tidak mampunya kota menyediakan lapangan kerja untuk masyarakat desa yang bermigrasi ke kota. Dengan demikian, terjadi hubungan yang saling melemahkan antara desa dan kota.

Untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan antara desa dan kota, konsep eco village bisa menjadi solusi. Eco village adalah konsep tata ruang dan wilayah yang memperhatikan kualitas penduduk dan kualitas ekologis secara holistic karena melibatkan semua dimensi kehidupan makhluk hidup. Eco village merupakan pembangunan kawasan perdesaan yang mempertimbangkan pencapaian kualitas individu, keluarga, masyarakat serta kualitas lingkungan alam yang berkelanjutan. Dengan demikian diharapkan masyarakat desa mengalami peningkatan kesejahteraan tanpa harus merusak lingkungan. Selanjutnya diharapkan juga akan terjadi arus balik dari kota ke desa yang dapat mengurangi masalah kependudukan, masalah urbanisasi, masalah energi, serta masalah sosial perkotaan  yang semakin kompleks.

Mewujudkan kemandirian masyarakat desa dengan memperhatikan keberlanjutan ketersediaan sumber daya di desa adalah tujuan utama dari pengembangan eco village. Oleh karenanya, pengembangan eco village harus didukung oleh seluruh anggota komunitas masyarakat desa. Dengan demikian, pengembangan eco village akan sangat baik jika diprakarsai oleh swadaya masyarakat desa. Anggota masyarakat eco village disatukan oleh kesamaan secara ekologis, sosial ekonomi, dan nilai spiritual serta budaya.  Sebuah kampung yang terkategori eco vilage biasanya diisi oleh orang yang peduli akan kelestarian lingkungan dengan berupaya mengoptimalkan transaksi materi dan energi dengan lingkungannya. Namun demikian, pemerintah tetap memiliki tanggungjawab dan peran terpenting untuk pengembangan eco village. Membangun kesadaran dengan penyuluhan, menyediakan sarana yang memadai untuk pengembangan eco village serta dukungan real dalam bentuk pendampingan dalam mewujudkan eco village sangat diperlukan. Kerjasama yang baik antara masyarakat, pemerintah, swasta dan lembaga penelitian (perguruan tinggi) menjadi kunci sukses pengembangan eco village.

Pengembangan eco village umumnya dicirikan dengan  pemanfaatan energi matahari, air dan angin secara efektif. Sinar matahari misalnya, diupayakan untuk menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat setidak-tidaknya untuk memenuhi kebutuhan listrik pada sarana prasarana publik. Demikian juga dengan air dan angin, sebisa mungkin dimanfaatkan untuk menghasilkan energi. Lebih dari itu, air tidak hanya dimanfaatkan untuk satu kali keperluan, tapi dimanfaatkan secara berulang. Misalnya saluran irigasi di desain tidak hanya untuk mengairi lahan pertanian, tapi juga untuk menggerakkan kincir dalam menciptakan energi listrik. Selain itu eco village juga dikembangkan dengan meminimumkan input eksternal (pupuk dan pestisida kimia) dengan memanfaatkan penggunaan limbah biomassa sebagai pengganti.  Dengan demikian, pengembangan eco village memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
 By: Muhammad Nurdin

Rabu, 01 Januari 2014

Rangkong Sulawesi


Keberadaan burung rangkong atau biasa orang Umpungeng menyebutnya Burung Alo di kawasan hutan Umpungeng tidak banyak orang yang tau. Pasalnya jalan akses menuju ke lokasi ini tergolong sulit dengan medan yang sangat terjal. Beruntung lah kami selaku warga setempat dapat menyaksikan keindahan burung tersebut setiap saat, bahkan kita sering menyaksikan kemesraan burung ini saat terbang berdua dengan pasangannya.

Ciri burung ini berukuran sangat besar (104 cm), berekor putih dan paruh bertanduk. Jantan: tanduk merah tua; kepala, leher dan dada bungalan merah-karat.  Betina: kepala dan leher hitam, tanduk kuning lebih kecil

Burung Rangkong ini merupakan burung endemik di sub-kawasan Sulawesi seperti desa Umpungeng , Lembeh, Kep. Togian, Muna, Butung.

Burung yang umumnya dijumpai di hutan primer dan hutan rawa. Kadang di hutan sekunder yang tinggi dan petak-petak hutan yang tersisa dalam lahan budidaya yang luas, juga mengunjungi hutan mangrove. Dari permukaan laut sampai ketinggian 1100 m, kadang sampai 1800 m. Makanannya antara lain buuah-buahan, serangga, juga telur dan anakan burung. Biasanya mencari makanan di tajuk atas pohon. Musim berbiak pada Juni-Sept. Bersarang pada lubang/ceruk pohon yang besar. Selama mengerami telur, sang betina tidak keluar dari sarang, makanan disediakan oleh jantan. Biasanya hanya membesarkan satu ekor anakan.

Keindahan burung ini digambarkan oleh seorang peneliti burung rangkong Sulawesi Bapak Suer Suryadi yang menuturkan pengalamannya disalahsatu kawasan pegunungan Sulawesi Utara di situs kompasiana.com berikut ini yang berjudul:

Rangkong Sulawesi, Big and Beautiful
Andaikan ada kontes kecantikan rangkong tingkat dunia, saya haqul yaqin Rangkong Sulawesi akan merebut life time award (juara sepanjang jaman) untuk kategori the most beautiful dan the most colorful hornbill. Dari 54 jenis rangkong di seluruh dunia, tidak ada yang rangkong yang Tuhan ciptakan dengan warna-warni seindah Rangkong Sulawesi.

Ketika saya mulai meneliti Rangkong Sulawesi (Aceros cassidix) pada awal tahun 1993 untuk skripsi, saya hanya pernah melihat beberapa kali jenis burung rangkong di kebun binatang Ragunan dan taman burung di Taman Mini Indonesia Indah. Itu pun gak ingat, apa saya melihat jenis Rangkong Sulawesi di dalam kandang.

Dengan pengatahuan cekak, mulailah saya berburu informasi ke kantor International Council for Bird Preservation di Bogor (ICBP, cikal bakal Birdlife International, yang kelak di Indonesia bertransformasi nama menjadi Burung Indonesia).

Lalu menemui Pak Ismu Suwelo, peneliti senior dari Diklat Kehutanan di Bogor untuk mendapatkan bahan bacaan dan literatur. Bermodal semangat dan dasar-dasar pengamatan burung, berangkatlah saya ke Cagar Alam Tangkoko-Dua Sudara (TDS). Cagar alam seluas 88km2 itu terletak di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Selama enam bulan, saya ”diadopsi” oleh Tim O’Brien & Margaret (Maggie) Kinnaird, yang kelak menjadi pionir kehadiran Wildlife Conservation Society di Indonesia (WCS, dulu namanya NYZS/Wildlife Conservation International).

Setibanya di Desa Batuputih, desa terdekat dengan stasiun penelitian di TDS, rasanya mau jumpa pacar yang kita tahu namanya, lihat fotonya, tapi belum pernah berjumpa langsung. Dagi dig dug dor deh. Bayangkan, gimana rasanya kalau saya gak bisa jatuh cinta dengan makhluk yang akan saya pelototi beberapa bulan kedepan. Ketika saatnya tiba, saya pun terhenyak. Sebelum saya berhasil melihatnya, si Rangkong sudah berkaok-kaok keras disertai kibasan sayapnya yang bergemuruh bak pesawat tempur. Ge-er banget sih nih burung. Belakangan kutahu, bahwa itu adalah sikap waspada dengan memberikan alarm call atas kehadiran manusia. Mungkin sang Rangkong sudah berpengalaman diganggu manusia yang menyukai kepalanya untuk hiasan dan dagingnya untuk sayur sop paha rangkong. :-)

Setelah perkenalan yang tak terlupakan itu, saya ”memburu” keberadaan rangkong di area riset seluas 420 hektar, untuk “pe-de-ka-te” mencari tahu jenis pakan dan makanan favoritnya. Mula-mula saya harus mencari pohon yang sedang berbuah dengan cara ”jalan-jalan” sejauh 4 km. Saya identifikasi dan tandai semua pohon yang berbuah pada radius 50 m di kiri-kanan jalur, menghitung perkiraan jumlah buah dan banyaknya rangkong yang nongkrong di pohon itu.

Empat kilometernya gak seberapa, tapi jalur naik-turunnya itu lho, yang monyet pun enggan melintasinya. Iya lah, lagian ngapain monyet jalan kaki, mendingan lompat dari dahan ke dahan kan? Apa boleh buat, saya mesti ”jalan-jalan” sebanyak 12 kali/bulan pada jalur yang berbeda. Dari hasil jalan-jalan ini, saya dapat mengetahui bahwa buah beringin berwarna merah adalah favoritnya. Iseng banget ya? Enggak lah, dari hasil investigasi itu (cieehhh…kayak polisi), saya bisa dapat pohon target untuk penyelidikan lebih lanjut mengenai perilaku rangkong.

Di sekitar pohon berbuah yang menjadi target itu saya dan asisten lapangan, bergantian mengamati dan mencatat tingkah polah burung ge-er ini. Seringkali, dengan berbekal satu termos kopi dan 20 butir biapong (semacam bak’pao isi gula merah dan kelapa parut) saya bertahan di lokasi dari jam 7 pagi sampai 5 sore. Wah, melebihi standar waktu kerja nih?

Pohon yang berbuah merupakan sumber pakan bagi satwa-satwa pemakan buah. Tidak hanya rangkong, berbagai satwa penggemar buah juga ikut nimbrung, seperti burung dara dan monyet. Kehadiran monyet Yaki (Macaca nigra) di pohon target ini njengkelin banget karena cara makannya boros, banyak buah yang terbuang. Makanya, kalo saya melihat teman yang makannya berantakan dan banyak sisanya, saya jadi inget monyet ini. Monyet berjambul ala Jim Carey ini juga suka mengusir rangkong. Entah sekedar iseng, becanda, atau memang gak mau berbagi makanan. Rangkong yang masih lapar, biasanya akan datang lagi. Masalahnya nih, saya harus mencatat jam datang dan perginya rangkong dari pohon target. Bikin repot kan?

Mau tau gimana rasa jengkelnya? Bayangin aja kalau kalian lagi berinteraksi dengan pacar, terus ada yang gangguin pacar kita, keqi nggak? emosi nggak? Hehehe…kadang ada syahwat untuk membalas dendam kepada monyet-monyet yang mengganggu “pacar” saya makan di pohon buah, tapi kok ya nggak tega. Lagian, kalau kita mengganggu monyet yang sedang makan, berarti kita sama dong dengan monyet yang mengganggu rangkong makan. Jadi, dipakailah ilmu sabar dan ikhlas di tengah hutan….

Yah, keringat, lelah, dan repot yang saya alami akhirnya menghasilkan skripsi plus 4 artikel di jurnal ilmiah dan beberapa artikel populer. Bonusnya adalah kesempatan belajar lebih jauh dengan ahli rangkong, Dr. Pilai Poonswaad di Taman Nasional Khao Yai, Thailand. Selama dua bulan saya mendalami ekologi empat jenis rangkong di Khao Yai, teknik sensus, jenis pakan, karakter sarang, fenologi (siklus buah), dan analisa data. Saya juga belajar menangkap rangkong, memasang radio transmitter, dan melacak sinyalnya dengan radio penerima. Acan Pilai…jasamu abadi…

Menjadi Hornbill Tracker

Di dunia terdapat 54 jenis, 31 di antaranya hidup di Asia. Indonesia , sedangkan Indonesia kebagian 13 jenis. Indonesia memiliki 13 jenis hornbill, yang diterjemahkan menjadi rangkong, enggang, julang, atau kangkareng, Mereka tersebar dari Aceh hingga Papua, tetapi dua jenis hanya ditemukan di Sulawesi (Rangkong sulawesi, Aceros cassidix dan Kangkareng sulawesi, Penelopides exarhatus) dan satu jenis di Pulau Sumba (Julang sumba, Rhyticeros everetti). Saya cukup beruntung karena sempat bergaul dan bertemu langsung dengan ketiga jenis endemik tersebut. Endemik artinya kita tidak dapat melihat satwa itu hidup di belahan dunia lain kecuali di pulau yang menjadi habitatnya.

Sekembali dari Khao Yai, nasib mempertemukan saya dan Rangkong sulawesi lagi. Kali ini, saya menggaulinya lebih intim, karena harus menangkapnya, memasang radio pemancar, dan melacak daerah jelajahnya. Sebagaimana umumnya, rangkong betina bersarang di dalam batang pohon yang berlubang. Jantan akan datang ke sarang untuk memberinya makan. Itulah saat yang tepat untuk menangkap si jantan dengan jaring (mist net). Kedengarannya gampang, tapi ternyata tak semudah kata-kata.

Kayak reserse mau menangkap penjahat yang menjadi target operasi. Tim Buser Rangkong harus menentukan target beberapa hari sebelumnya, membuat gubuk pengintaian, mengamati perilaku pasangan rangkong dan gerak geriknya, dari arah mana datangnya jantan, persinggahan sebelum meluncur ke lubang sarang, ke arah mana perginya, lalu menentukan di mana kita akan membentangkan jaring. Berdasarkan informasi itu, kita siapkan segala sesuatunya untuk menjebak target buru sergap. Asli, berasa kayak operasi penyergapan…

Pada hari H, ketika langit masih terlihat samar-samar, tim Buser Rangkong memulai aksi membuka dan menaikkan jaring di depan lubang sarang. Makin cepat makin baik. Lalu semua sembunyi menanti jantan memberi sarapan pertama kepada betina. Kadang, tanpa kita ketahui, ternyata si jantan sudah nongkrong dan melihat kelakuaan kita memasang jaring. Kurang ajarnya, si jantan baru terbang dan teriak-teriak setelah kita selesai pasang jaring. Alamak… kalau sudah begitu, maka operasi dipastikan gagal dan harus ditunda sampai batas waktu tak ditentukan.Asemmm, percaya deh, gak enak banget rasanya dikerjain rangkong.

Menangkap rangkong ini ada seninya dan perlu minum pil sabar yang banyak sehingga kita dapat tertawa, terluka, dan kesal.  Kita tertawa saat jantan langsung menubruk jaring pada kesempatan pertama. Adakalanya si jantan yang waspada berhasil menghindari jaring, tapi setelah selesai memberi makan, dia lupa ada jaring di belakangnya dan brukkk… ia masuk perangkap. Kita terluka, ketika paruhnya berhasil mamacuk pipi atau menjepit tangan kita. Kita kesal, ketika keberadaan jaring diketahui oleh si jantan. Ada jantan yang hebat dan jeli sehingga selalu berhasil memberi makan pasangannya, meskipun kita sudah beberapa kali mengubah arah jaring. Ada pula jantan yang kabur dan tak kembali, memaksa kita gulung jaring karena kuatir betinanya kelaparan.

Rangkong yang terperangkap, harus segera dilepaskan dari belenggu jaring dan ditutup kepalanya untuk mengurangi stress (tuh burung gak tauk kalau kita lebih stress). Radio seukuran batu baterai A3 yang telah dijahit dengan pita pun dipasang dipunggungnya, seperti memasang ransel. Pita yang digunakan dirancang khusus sehingga akan lapuk dalam tempo satu setengah tahun, sehingga rangkong tidak akan menggendongnya sepanjang hayat. Setelah semuanya beres, rangkong kita lepas.

Eitt…jangan asal lepas! Rangkong tidak bisa langsung terbang jika kita letakkan di atas tanah. Ia akan meloncat-loncat dulu ke dahan pohon secara bertahap. Setelah dirasa cukup tinggi, barulah ia mengepakkan sayapnya. Untuk memudahkannya take off, rangkong kita letakkan pada dahan setelah melepas ikatan pada paruh dan sarung penutup kepala. Jerih payah kami selama dua bulan, berhasil ”memaksa” 9 rangkong menggendong radio pemancar seberat 23 gram (kurang dari 1% berat tubuhnya), yang memancar bunyi “biip…biipp” pada frekuensi antara 164-165MHz. Tiap pemancar menggunakan frekuensi yang berbeda sehingga kita dapat mengenali individu berdasarkan frekuensinya.

Pekerjaan selanjutnya adalah mendeteksi mereka tiga kali seminggu, dari pagi hingga sore. Dengan GPS Magellans NAV 5000 PRO (seukuran dan seberat batubata. Waktu itu, ini GPS canggih lho), kita tentukan koordinat lokasi-lokasi pemantauan sinyal. Dengan mengetahui arah sinyal yang terpantau dari dua lokasi, kita tentukan posisi target (triangulasi). Dari situlah kita menghitung luas daerah jelajahnya sesuai lokasi hasil perhitungan triangulasi.

Ternyata untuk mencari makanannya yang 80% berupa buah, rangkong mampu menjelajah hutan rata-rata 10km/hari dan luas daerah jelajahnya mencapai 55 km2. Artinya, rangkong mampu mencari makan sekaligus menyebarkan biji dari buah yang dimakannya di hampir 2/3 kawasan Cagar Alam TDS. Alam telah mengatur sedemikian rupa, agar hutan mengalami suksesi dan menjaga keseimbangannya melalui makhluk yang bernama rangkong. Terima kasih wahai burung rangkong yang big & beautiful. Engkaulah petani hutan yang tak kenal lelah. Salamku untuk seluruh rangkong di bumi pertiwi.


Sumber :



Rabu, 04 September 2013

Makna Symbol angka 01 bagi Umpungeng

Di desa ini terdapat deretan batu yang membentuk lingkarang, orang Umpungeng menyebutnya sebagai GARUGAE atau yang dikenal Lalabata yang bermakna Laleng batu. Garugae yang terdiri atas Mihrab (Bocco-boccoe), batu pertengahan (posi tana) dan deretan batu yang menyerupai lingkarang ini merupakan salah satu objek peninggalan sejarah megalitikum yang memiliki nilai sejarah dan filosofi budaya. (lihat daftar penelitian skripsi mahasiswa UNHAS nomor urut 99 pada Majalah Arkeologi Indonesia). Batu yang berada tepat di tengah-tengah lingkaran tersebut (posi tana) merupakan penanda titik tengah dari lingkaran. Lingkaran inilah yang kami sebut sebagai angka Nol (0). Di sebelah utara lingkaran terdapat Lapangan yang memanjang, yang saat ini diatasnya dibangun gedung Sekolah Dasar Negeri.  Lapangan panjang ini pulalah yang kami sebut sebagai angka Satu (1). Maka jika digabungkan keduanya akan menjadi angka binery 01. Apa arti symbol angka 01 bagi kehidupan ini? Bagaimanah pandangan para ahli tentang symbol tersebut? Berikut sedikit ulasan diantara banyak makna yang terkandung dalam dua angka digital tersebut:   

Angka Nol (0)
Angka nol adalah angka yang ditemukan terakhir. Ditemukan oleh ilmuwan islam abad ke 8 Al-Khawarizmi.

Mengapa angka nol baru ditemukan. Karena dulu bangsa Romawi tidak mengenal itu angka nol. Untuk menyatakan angka yang dibelakangnya ada nol, bangsa Romawi telah menulis dengan kode tersendiri. Contoh untuk angka 10 = X, 50 = L, 100 = C. 1000 = M. Sehingga untuk menulis angka 1986 menurut aturan penulisan angka Romawi, maka panjangnya minta ampun menjadi MCMLXXXVI.

Sedang angka yang kita gunakan sekarang atau angka modern yaitu angka 0-9 mulai dikenal oleh bangsa Eropa pada abad 10 merupakan perpaduan antara kebudayaan bangsa India dan bangsa Arab.

Banyak sekali keunikan angka nol. Di antaranya angka nol adalah pembatas antara bilangan genap dan negatif. Angka apa saja jika ditambah atau dikurang angka nol, maka hasilnya sama dengan angka yang ditambahkan atau dikurangkan tersebut. Angka apa saja dikalikan angka nol maka hasilnya adalah angka nol.

Dan dianggap misteri oleh ahli matematika apabila sesuatu bilangan dibagi angka nol, hasilnya jadi berapa? Ada sebagian ahli matematika yang menyatakan hasilnya tak terdefinisi, karena kebalikan dari pembagian adalah perkalian dan dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah terjadi suatu bilangan angka apapun dikalikan dengan angka nol.

Kita buat satu perbandingan satu contoh angka yang nyata, 5 x 2 = 10, sehingga dibalik menjadi pembagian, maka 10 : 5 = 2 atau 10 : 2 = 5. Secara kenyataan bahwa perkalian 5 x 2 itu bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Beda dengan 5 x 0 = 0, maka tidak bisa diartikan bahwa 0 : 5 = 0 atau 0 : 0 = 5. Secara realita bahwa perkalian 5 x 0 atau perkalian dengan angka nol lainnya tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah mengapa suatu bilangan dibagi angka nol, hasilnya tak terdifinisi oleh para ahli matematika, karena secara real bahwa suatu bilangan dikali dengan angka nol tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sedang perkalian merupakan kebalikan dari pembagian. Nanti dijelaskan dipertengahan tulisan bahwa dalam kehidupan ternyata ada sesuatu yang bisa dikalikan nol.

Ada juga yang menyatakan sesuatu bilangan dibagi angka nol hasilnya tak berhingga. Coba ambil kalkulator tekan bilangan apa saja kemudian dibagi angka nol maka dikalkulator hasilnya adalah angka 0 ditambah huruf kode “E”. Hasil angka 0 dan kode huruf “E” tersebut kita tidak tahu apa maksudnya. Banyak lagi keunikan angka nol lainnya.

Ada pesan misterius di Al-Quran yang berkaitan dengan angka nol. Al-Quran menyatakan bahwa manusia itu adalah sebuah bilangan angka yakni nol. Ini dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Fathir ayat 15, “Yaa ayyuhannasu antum ul-fuqara u ilallah. Wallahu huwalghaniy yul hamid, artinya “Wahai manusia kalian semuanya miskin memerlukan Allah dan Allah-lah yang Maha Kaya dan Maha Terpuji.” Dalam ayat tersebut Allah berfirman kepada manusia “Antumul fukara” atau “kamu miskin”.

Al-Quran menyatakan manusia bukan hanya fukara/miskin tapi ada penekanan bahasa tambahan kata UL di depan kata fukara. UL = AL, itu artinya manusia dinyatakan dengan kata Al-Fukara menunjukkan bahwa manusia itu benar-benar miskin atau miskin sebenar-benarnya.

Miskin bisa diartikan tidak punya apa-apa. Tidak punya apa-apa bisa diartikan berarti kosong. Kosong bisa diartikan sama dengan angka nol. Ini terbukti saat manusia lahir dan saat meninggalkan dunia tidak membawa dan tidak memiliki apa-apa.

Penjelasan lain surah Al-Kahfi ayat 39, “Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” Pada ayat tersebut Allah menyatakan bahwa manusia yang berupa angka nol, perlu kekuatan Allah untuk menjadi lebih dari nol atau perlu kehendak Allah untuk menjadi kurang dari nol.

Bahwa manusia bisa menjadi angka 10, bisa menjadi angka 80, menjadi angka 300 perlu kekuatan Allah menambahkannya. 0+10, 0+80, 0+300 dan angka plus lainnya. Ada peran serta Allah sebagai Zat Yang Maha Menambah. Maha Pemberi Mamfaat.

Begitu pula manusia bisa menjadi angka -10, bisa menjadi angka -80, menjadi -300 juga atas kehendak Allah. 0-10, 0-80, 0-300 dan angka minus lainnya. Bahwa ada peran serta Allah sebagai Zat Yang Maha Mengurang. Maha Pemberi Mudarat.

Oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita setiap berbuat sesuatu hendaknya selalu mengucap “Laahawlaa walaa quwwaillabillah” artinya “Tiada upaya dan kekuatan atas kehendak Allah”. Maksudnya manusia yang nol itu perlu tambahan kekuatan dari Allah agar bisa lebih dari nol. Bahwa ketika ia bergerak, berjalan, meloncat, berpikir dan segala aktifitas lainnya, baik aktifitas organ-organ di dalam tubuh yang tidak tampak maupun aktifitas organ-organ di luar tubuh yang terlihat. Semua aktifitas tersebut merupakan atas kekuatan dan kehendak Allah SWT.

Ini memberi peringatan kepada manusia ketika ia telah berjaya, seperti memiliki karir sukses, memiliki harta yang berlimpah, memiliki jabatan, memiliki kedudukan yang tinggi dan atau memiliki apa saja. Manusia tersebut harus ingat dan jangan lupa bahwa ia asalnya adalah angka nol. Allah lah yang berperan serta sebagai Zat Penambah terhadap sukses-sukses tersebut. Ini sesuai firman Allah surah Al-Anfal ayat 17, “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” Ketika seseorang manusia memiliki kemampuan untuk melempar atau kemampuan lainnya, semuanya itu Allah-lah yang melakukan.

Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” Artinya manusia yang kosong dan tidak punya apa-apa berupa angka nol dilaknat Allah ketika ia mengaku bahwa ia berangka 1, mengaku angka 10, mengaku angka 100 atau mengaku angka apa saja.

Apabila seorang manusia merasa bahwa dirinya hebat, tinggi, besar dan kaya. Atau manusia merasa bahwa ia berangka 100, angka 1000, angka 5000 atau angka apa saja. Maka sifat angka nol yang ada pada diri manusia akan secara otomatis akan mengalikan terhadap angka yang diakuinya tersebut. 100×0, 1000×0, 5000×0 hasilnya sama dengan angka nol. Kembali kosong, hampa dan tidak punya apa-apa. Buktinya apa? Buktinya setiap makhluk yang bernyawa termasuk seluruh manusia akan menemukan ajalnya yaitu mati. Arti mati ini adalah bahwa manusia tersebut kembalikan ditiadakan Allah. Tiada artinya kosong dan kosong artinya angka nol.

Sifat angka nol pada manusia juga bisa dibuktikan dengan proses alami kehidupan seorang manusia. Dulu seorang manusia tiada, kemudian ada, maka suatu saat akan kembali tiada. Dulu kosong atau nol, kemudian ada, maka kembali kosong atau nol.

Angka nol juga bisa dimaknakan pada dunia. Coba perhatikan bumi bentuknya bulat seperti angka nol. Rasulullah pernah menyatakan bahwa dunia ini seperti sebelah sayap nyamuk atau sampah maknanya bahwa dunia ini tidak ada artinya.

Oleh sebab itu segala apa-apa saja yang kita peroleh di dunia ini, kita jangan lupa bahwa itu semua adalah merupakan nikmat, kasih dan sayang dan nikmat Allah SWT. Dan kita jangan lupa bahwa kita ini sebenarnya angka nol atau tidak punya apa-apa dan dunia yang kita tinggali ini juga tidak ada artinya dan kita hanya bisa memohon pertolongan kepada Allah, karena Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diminta pertolongan. (By Ferry Abu Qaswa-Kompasiana)

Angka Satu (1)

1. Saya sadari angka 1 ini mempunyai banyak sekali arti yang berbeda-beda bagi banyak orang.
1. adalah posisi puncak yang menjadi ambisi seseorang dalam bekerja
1. adalah ranking di sekolah yang melambangkan kepintaran
Juara 1 adalah tempat paling tinggi yang diincar oleh setiap olahragawan
99,99% artinya tidak sempurna
100% lambang kesempurnaan total (perfect)
1. mempunyai arti tiada 2, tiada yang sama
1. berbicara tentang kelangkaan.
1. berbicara tentang ke-eksklusif-an.
1. demi 1 adalah pepatah untuk mencapai sukses
1. langkah saja, hanya itu yang diperlukan untuk memulai merubah hidup anda
1. kali ini saja, kalimat bujukan teman untuk menjerumuskan anda ke rokok atau narkoba
1. kali lagi, perkataan seorang pecandu pornografi pada dirinya sendiri ketika sedang tergoda
1. daging adalah arti keindahan sepasang suami istri dimata Tuhan
1. daging juga adalah arti kejijikan Tuhan terhadap seorang dengan pelacurnya
1. suara adalah tanda kesepakatan yang kuat untuk melakukan sesuatu, entah baik atau buruk
1. kesempatan lagi, kata-kata seorang pria yang menyesal
1. kesempatan lagi, kata-kata seorang istri sambil menahan sakit hatinya demi kelangsungan perkawinannya
1. kesempatan saja,peluang yang dimiliki seorang muda yang belum menikah untuk menentukan pasangan hidupnya untuk seumur hidup
1. kesempatan lagi, kata-kata penyesalan yang terdengar di alam neraka
Anak ke-1, adalah lambang berkat dan lambang penerus tahta kerjaan untuk seorang anak pria
Anak ke-1, adalah lambang kerja keras karena seringkali harus memikul beban adik-adiknya
Antrian ke-1, tanda kemujuran atau kerajinan
Antrian ke-1, bisa juga tanda sial karena tidak bisa mencontek orang sebelumnya
No.1 paling pagi, sering diartikan sebagai rajin dan menandakan kemauan yang kuat
Hanya 1 orang saja, bisa berarti orang yang penuh keyakinan dan tekad
Hanya 1 orang saja, bisa berarti orang yang keras kepala
“Satu-satunya”, bisa berarti anda paling hebat
“Satu-satunya”, bisa juga berarti anda paling tolol
1 gigit saja, pikiran Adam ketika memakan buah terlarang
1 kesalahan, cukup untuk membuang adam dan hawa keluar dari taman firdaus (By:http://webcache.googleusercontent.com)

Sepertinya hidup ini hanya mengijinkan anda 1 kali saja untuk membuat Keputusan Besar tentang mau kemana arah hidup anda. Kemana anda mau bawa kehidupan anda? Ketahuilah bahwa sesungguhnya angka  1 adalah lambang TAUHID / Wahiid / Ahad / Maha Esa  yakni Allah SWT.

Angka Nol vs Satu (01)
Berapa angka terbesar yang anda ketahui? Cobalah kalikan dengan angka l, maka kita pasti akan mendapatkan hasil selalu sama dengan l. Cobalah sebutkan angka terkecil yang anda ketahui, dan bagilah dengan angka l, maka akan mendapatkan hasil yang tidak terhingga.

Sedang angka 0, berapapun angka yang kita sebutkan, dibagi ataupun dikali hasilnya selalu sama dengan bilangan itu sendiri. Angka 0 adalah representasi dari Keikhlasan. Keikhlasan selalu membawa/membuahkan  Keikhlasan. Angka Satu adalah representasi kebalikan dari  Keikhlasan yaitu Ketidak  Ikhlasan dan ini  tidak pernah membawa keberkahan.

Manusia dengan kehidupannya, pada awalnya dan masa kanak-kanaknya berada pada posisi angka l. Semakin dewasa, dengan segala pengalaman hidupnya dia akan bergerak naik turun ke arah 1 atau ke arah 0. Orang yang mengikuti hawa nafsunya, akan semakin mendekati ke angka 1. Pada saat mencapai angka 1, dia akan menuhankan dirinya. Dia akan merasa bahwa dunia sudah digenggamnya dan itu atas usaha dan jerih payahnya. Tampak sekali kesombongan selalu muncul dari tingkah lakunya.

Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, dia akan bergerak ke arah Nol, menuju ke fitrahnya kembali. Orang seperti ini selalu rendah hati (bukan rendah diri), selalu tawadlu, berserah diri dan bertawakal, baik pada saat diberi kelebihan maupun kekurangan. Dari sisi rizki, orang yang berada pada angka 1, apabila misalnya mendapatkan rizki Rp. 1.000.000,-, maka itulah uang yang diperolehnya, tidak lebih dan tidak kurang. Nilai keberkahannya adalah 1 juta rupiah dibagi 1 sama dengan 1 juta rupiah.

Orang yang berada pada angka 0, apabila misalnya mendapatkan rizki Rp. 1.000.000,-, maka nilai keberkahannya adalah tak terhingga. Berapapun rizki yang diperoleh, dia mendapatkan rizki yang berkah tidak terhingga. Orang dengan angka Nol ini derajat keikhlasannya sudah tertinggi, sehingga berapapun yang diperoleh, selalu dapat mencukupi dirinya, bahkan mampu menolong orang lain.

Semakin ikhlas seseorang, semakin mendekat ke arah 0. Misalnya 0.2, maka nilai keberkahannya adalah 1 Juta dibagi 0.2 = Rp 5.000.000,- Sebaliknya, pada saat orang mendapatkan halangan dan cobaan. Orang-orang yang ikhlas, yang memiliki angka 0, berapapun bilangan halangan dan cobaannya, dikalikan dengan 0 akan sama dengan 0. Dia tidak pernah merasakan beban apapun terhadap halangan dan cobaan yang menimpanya. Sedangkan pada orang yang berbilangan 1, dia akan merasakan sakit, stress dan bahkan sakit jiwa atau berputus asa, karena dia selalu merasakan gejolak jiwa sesuai dengan besar dan kecilnya cobaan. tulah keikhlasan yang terkait dengan keberkahan.

Keikhlasan adalah dari hati, dan hanya hati kita sendiri dan Allah saja yang mengetahui. Maka, seorang penjual es keliling yang menyumbangkan Rp 2.000,- ke kotak Masjid secara ikhlas, sangat jauh nilainya di depan Allah dibanding dengan seorang Jutawan yang menyumbangkan uang Rp 1 Juta ke kotak Masjid karena niat yang lain.(by:http://spicaku.blogspot.com)


Arti angka 01 bagi Teknology 

Sistem bilangan dua symbol / sistem bilangan basis dua / biner adalah sebuah sistem penulisan angka dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1. Sistem bilangan biner modern ditemukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad ke-17. Sistem bilangan ini merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis digital. Dari sistem biner, kita dapat mengkonversinya ke sistem bilangan Oktal atau Hexadesimal. Sistem ini juga dapat kita sebut dengan istilah bit, atau Binary Digit. Pengelompokan biner dalam komputer selalu berjumlah 8, dengan istilah 1 Byte/bita. Dalam istilah komputer, 1 Byte = 8 bit. Kode-kode rancang bangun komputer, seperti ASCII, American Standard Code for Information Interchange menggunakan sistem peng-kode-an 1 Byte.

Perhitungan dalam biner mirip dengan menghitung dalam sistem bilangan lain. Dimulai dengan angka pertama, dan angka selanjutnya. Dalam sistem bilangan desimal, perhitungan menggunakan angka 0 hingga 9, sedangkan dalam biner hanya menggunakan angka 0 dan 1. Inilah dua angka yang merupakan basis pemrograman yang menandai era digital.

Makna 01 bagi  dua kalimat Syahadat.

Syahadat (dari kata شهد syahida, "(ia telah) menyaksikan") adalah pernyataan kepercayaan dalam keesaan Tuhan (Allah) dan Nabi Muhammad sebagai RasulNya dan merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lain nya. Ini merupakan kata kunci (password) bagi masuknya seseorang pada sistem kehidupan Muslim. Syahadat merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam. [1]Syahadat sering disebut dengan Syahadatain karena terdiri dari dua kalimat (Dalam bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat). Kedua kalimat syahadat itu adalah:

asyhadu an-laa Ilaha illa LLah -
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah

wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah
artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah.

Jika anda perhatikan lingkaran & balok merah pada dua kalimat syahadat diatas dan anda menarik garis vertikal ditengah gambar tersebut maka dengan izin Allah anda akan memahami kedudukan angka 01 satu dalam basis keyakinan Ummat Islam yakni لا إله ه LA/ Tiada/0 إلا kecuali  الله Allah/al Wahid/ Ahad/1. Meniadakan seluruh pengaruh dalam hidup kita dan hanya menghadirkan Satu pengaruh dan kekuatan yakni Allah Azza Wajallah. Dengan pemahaman ini kita akan memiliki keyakinan digital, kuat dan tajam yang Ikhlas dan Bertauhid, Amin. 

Wallahu a'lam bishawwab


Dan inilah symbol 0 yang terdapat di Umpungeng ?



Minggu, 01 September 2013

PINCARA / SOA SOA / Iguana (Hydrosaurus Pustulatus)

Hewan ini hanya terdapat di Filipina dan di Sulawesi (Indonesia) terutama di wilayah hutan hujan tropis Sulawesi dan pinggiran pantai yang berbatu. 

Orang Sulawesi biasa menyebut binatang ini Pincara / Soa-Soa atau orang Indonesia pada umumnya menyebutnya Iguana . Binatang yang memangsa serangga dan binatang kecil lainnya ini sangat mahir memanjat dan berenang di air. 

Bentuknya seperti kadal namun memiliki layar dari punggung hingga ke ekor yang digunakan untuk penyeimbang. 

Kulit binatang ini sangat kasar dan berwarna coklat hingga membuat sebagian orang yang pertama kali bertemu dengan hewan ini langsung menghindar. Oh iya sebagai sebuah kadal, hewan ini panjang nya bisa sampai 1,2 Meter lho dari ujung kepala sampai ujung ekor. 

Kurang lebih besarnya seperti Biawak dewasa. Dahulu hewan ini sangat banyak di Sulawesi dan tak susah untuk ditemukan. 

Namun karena terus menyusutnya habitat asli hewan ini dan juga karena perburuan untuk tujuan dijual hewan ini termasuk langka dan sulit ditemukan untuk saat ini. Jika anda berkunjung ke Sulawesi maka anda masih mudah untuk menjumpainya di beberapa sungai Dusun Umpungeng. Di desa ini masih mudah untuk ditemukan pasalnya masyarakat Umpungeng juga turut menjaga habitat hewan ini di sungai.  

Kamis, 29 Agustus 2013

Kuskus Beruang Si Hewan Endemik Sulawesi

Kuskus atau dinamakan Memu bagi Masyarakat Umpungeng adalah beruang sulawesi ( Ailurops ursinus ) merupakan salah satu jenis hewan endemik pulau Sulawesi yang dilindungi oleh peraturan pemerintah no 7 tahun 1999. Hewan yang masuk dalam daftar merah spesies terancam IUCN 2008 ini adalah anggota dari genus Ailurops. Kuskus Beruang adalah hewan marsupial dan dari keluarga Phalangeridae. Bentuk tubuhnya yang besar seperti kucing bahkan bisa lebih ukurannya. Kuskus beruang ini ukurannya sangat besar dibandingkan dengan para kerabatnya di keluarga phalangeridae, oleh sebab itu mamalia ini di sebut dengan kuskus beruang karena bentuk tubuhnya seperti beruang.

Kuskus beruang aktif pada siang hari (diurnal). Sebagian besar aktivitas hariannya banyak digunakan untuk beristirahat dan tidur, sedikit waktunya digunakan untuk makan dan mengutu (grooming), waktunya untuk berinteraksi juga sangat sedikit, kegiatan tersebut dilakukan sepanjang siang dan malam. Waktu istirahatnya yang banyak digunakan untuk mencerna selulosa dari dedaunan sebagai sumber makanannya yang mengandung sedikit nutrisi. Kuskus yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Bear Cuscus, Bear Phalanger, atau Sulawesi Bear Cuscus ini terdapat di pulau Sulawesi, pulau Butung, pulau Peleng, pulau Togian, Indonesia. Kuskus beruang betina dewasa dapat melahirkan satu-sampai dua kali dalam setahun. Kuskus beruang termasuk hewan berkantung (marsupial). Anak kuskus beruang lahir dalam keadaan sangat kecil dan akan langsung menuju kantung induknya untuk dibesarkan selama sekitar 8 bulan, setelah itu akan keluar dari kantong dan hidup bersama induknya sampai siap untuk mandiri.

Pengamat bisa melakukan pengamatan ditempat sumber pakan kuskus beruang. Untuk memperbesar peluang pertemuan dengan kuskus beruang sediakan makanan favorit mereka. Makanananya terdiri dari daun dan buah, misalnya daun kayu kambing ( Garuga floribunda ), Pohon mindi ( Melia azedarach ), kenanga ( Cananga ordorata ) dan buah rao (Drancotomelon dao dan D. Mangiferum). Daun muda lebih disukai karna lebih mudah dicerna dan mengandung lebih sedikit tanin, tetapi sesekali daun yang lebih tua juga dimakan untuk memenuhi kebutuhan protein. Kadang-kadang bunga dan buah mentah juga dimakan untuk memenuhi kebutuhan protein.

Saat ini populasi kuskus beruang terus menurun dan terancam punah, karena terjadinya perburuan dan perdagangan liar. Di samping itu sebagian hutan yang merupakan habitat aslinya telah mengalami kerusakan akibat pembukaan hutan untuk areal pertanian dan pemukiman penduduk. Di asalnya sendiri kuskus beruang sering menjadi hewan buruan petani dikarenakan hewan yang sering dipanggil “Kuse” ini sering memakan daun-daun muda yang ditanami oleh petani. Hewan yang hobinya tidur ini oleh pemerintah sudah dimasukan dalam daftar hewan dilindungi dalam peraturan pemerintah no.7 tahun 1999, tetapi sampai saat ini pun pemerintah belum mampu menghentikan perdagangan satwa liar ilegal.

Meskipun masih bisa ditemui di beberapa tempat seperti di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan di kawasan pegunungan Lompo Battang, Pegunungan Laposo, Pegunungan Neneconang dan Desa Umpungeng (Sulawesi Selatan), populasi Kuskus Beruang Sulawesi (Ailurops ursinus) diyakini mengalami penurunan drastis. Oleh karenanya IUCN Red List memasukkan Kuskus Beruang Sulawesi (Ailurops ursinus) dalam kategori Vulnerable.Berdasarkan fakta-fakta tersebut, maka usaha pelestarian dan perlindungan satwa khususnya kuskus sangat penting untuk segera dilakukan. Salah satu usaha mendukung pelestarian satwa liar adalah dengan menangkarkannya, karena melalui penangkaran dapat dipelajari dan diperoleh banyak informasi ilmiah guna menunjang konservasi baik in situ maupun ex situ.

Sampai saat ini pelestarian kuskus beruang di sulawesi masih sangat terbatas, populasinya sangat menurun dari tahun ke tahun menurut informasi dari salah satu pegawai di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sudah seharusnya menjadi tugas kita untuk melestarikan hewan endemik ini agar nantinya ditahun-tahun mendatang tidak akan terjadinya kepunahan pada hewan yang masuk dalam keluarga Phalangeridaeini. (Triambogo, peserta Ekspedisi NKRI 2013 dari Fakultas Biologi Unsoed)

Kamis, 04 Juli 2013

Agroforestry Untuk Mengentaskan Kemiskinan

Sebuah study di Afrika Timur yaitu Kenya, Uganda, Tanzania dan Ethiopia - dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa masyarakat petani miskin negeri-negeri itu bisa mengatasi kebutuhan pokoknya dengan mengubah pola bertani mereka. Disamping bercocok tanam di ladang-ladang mereka yang gersang, mereka mulai banyak menanam pohon. Konsep bercocok tanam dan menanam pohon ini merupakan bagian yang secara luas disebut agroforestry.

Agroforestry adalah prinsip ketiga dari ilmu tataguna lahan, dua yang lain adalah forestry (kehutanan) dan agriculture (pertanian). Dua hal yang selama ini selalu diurusi secara terpisah yaitu kehutanan dan pertanian, memang sudah waktunya untuk diurusi secara terintegrasi yaitu dengan agroforestry – saya belum ketemu istilah bahasa Indonesia yang tepat untuk ini.

Karena sejak di perguruan tinggi fakultas kehutanan selalu terpisah dari fakultas pertanian, kemudian di negara inipun departemen kehutanan juga terpisah dari departemen pertanian – membuat dua bidang ini seolah memang terpisah, bahkan dalam banyak hal berbeda kepentingan.

Untuk menyiapkan lahan pertanian, tidak jarang hutan ditebang atau bahkan dibakar. Padahal dengan mengorbankan hutan, kelangsungan pertanian itu sendiri juga terancam dari berkurangnya sumber-sumber mata air, dan meningkatnya suhu permukaan bumi yang membuat bertani beresiko tinggi  - dengan berkembang biaknya sejumlah microba yang semula terkendali jumlahnya.

Ilmu agroforestry berkembang berdasarkan teori bahwa setiap jenis tanaman memiliki batas maksimal dalam memanfaatkan sinar matahari untuk kegiatan photosynthesis-nya , rata-rata tanaman hanya butuh 1/10 dari sinar matahari yang diterimanya. Dengan demikian sejumlah tanaman  bisa hidup dengan baik meskipun berada di bawah atau berhimpitan dengan tanaman lainnya.

Di hutan-hutan sejumlah tanaman hidup berhimpitan satu sama lain dan semuanya tumbuh subur. Di hutan tanaman pangan (Food Forest, bagian dari Agroforestry) yang bertahan hidup 2000 tahun di Marocco – tanaman-tanaman ini bertahan ribuan tahun justru karena hidup berbagi dan berdampingan secara berlapis-lapis.

Bandingkan apa yang ada di Marocco tersebut dengan komposisi tanaman-tanaman ideal menurut para penggerak permaculture (permanent agriculture, istilah lain untuk agroforestry meskipun tidak sama persis) seperti pada ilustrasi dibawah.

Permaculture Design

Lihat kemiripannya apa yang sudah ada sejak 2000 tahun lalu tersebut dengan teorinya para ahli tanaman yang berkelanjutan. Bandingkan pula ini dengan tanaman-tanaman yang disebut secara spesifik di Al-Qur’an. Tanaman no 1 canopy-nya adalah kurma,  tanaman no 2 low tree bisa zaitun, delima atau tin.

Tanaman no 3 adalah berbagai jenis tanaman penghasil buah atau bunga yang manis dan harum yang di Al-Qur’an disebut raihaan (QS 55 : 12). Tanaman no 4 adalah berbagi jenis tanaman herbal, tanaman no 5 adalah jahe (QS 76:17) dan sejenisnya. Tanaman no 6 adalah berbagai jenis rumput-rumputan (QS 80:31) dan tanaman penutup lahan lainnya. Sedangkan tanaman no 7 adalah anggur atau tanaman merambat lainnya – yang diindikasikan dalam surat (QS 6 :141).

Perhatikan apa yang disusun para ahli permaculture atau agroforestry dengan susah payah melalui riset-riset yang panjang, ternyata semuanya sudah ada di ayat-ayat Al-Qur’an diawali dengan petunjuk di ayat berikut :
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain dalam memberi pangan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS 13:4)

Setelah dengan susah payah-pun para ahli menyusunnya, mereka masih miss minimal untuk satu jenis buah yang juga disebut buah kehidupan yaitu pisang. Buah yang tidak mengenal musim dan dapat mencukupi hampir seluruh nutrisi yang dibutuhkan manusia ini – harusnya mendapatkan tempat khusus dalam struktur permaculture atau agroforestry design.

Pisang disebut secara khusus di antara buah yang banyak – yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya ( QS 56 : 29-33), pasti dia memiliki tingkat kepentingan tersendiri. Dan pohon pisang inilah yang juga saya saksikan sendiri ada di antara kurma, anggur, zaitun, delima dan tin di suatu kebun di Gaza – di tempat yang pada umumnya para ahli tidak menduga pisang tumbuh, para ahli mengira pisang adalah tanaman tropis ! Bahkan di hutan tanaman pangan yang berumur 2000 tahun tersebut di atas, pisang adalah juga merupakan salah satu tanaman utamanya – padahal Marocco juga bukan daerah tropis seperti kita.

Dengan membandingkan apa yang dihasilkan para ahli dan petunjuk yang ternyata jauh lebih komplit dan terbukti secara nyata ada di beberapa tempat di permukaan bumi ini, maka semakin jelas kini kebenaran petunjuk itu. Tinggal kita mengikutinya untuk mulai membangun integrasi antara pertanian dan kehutanan kita atau yang secara umum disebut agroforestry ini.

Hanya saja berbeda dengan rancangan para ahli permaculture atau agroforestry pada umumnya, kita tidak lagi perlu menduga-duga tanaman-tanaman apa yang cocok untuk saling disandingkan dan unggul dalam sumber makanan itu. Kita tinggal membaca petunjukNya, memahaminya dan tentu saja mengamalkannya di lapangan.

Insyaallah laboratorium lapangan kita untuk ini termasuk greenhouse-nya sudah dalam proses pembangunan dan insyaAllah selesai di bulan Ramadhan, seluruh bibit tanaman-tanamn Al-Qur’an-pun Alhamdulillah telah lengkap kita kumpulkan antara lain juga dibantu para pembaca situs ini. Kini tinggal ikhtiar kita untuk perbanyakannya, agar cukup bibit nantinya bagi masyarakat yang akan menerapkan konsep Kebun-Kebun Al-Qur’an untuk agroforestry ini. InsyaAllah.
Ditulis oleh : Muhaimin Iqbal

Sabtu, 01 Juni 2013

Sidat, Moa Massapi, ungi, anguilla( Anguilla Marmorata )

Geli melihat boleh-boleh saja. Tapi, jika mencium aroma asap nya saat di panggang dan tahu khasiatnya, anda bakal tak sempat membayangkan rasa gelinya lagi. Itulah yang biasa dialami setiap orang ketika melihat ikan atau sidat alias anguilla ini. Badannya yang pipih memanjang sekilas mirip belut. Cuma, kalau lebih ditelisik, kepalanya ternyata berbeda. Bentuknya lebih mirip ikan lele yang ber-sungut dua. Ngerinya, pada umur setahun, bentuknya tak berbeda dengan ular. Panjangnya bisa mencapai 2-3 meter. Di Indonesia ikan ini dikenal dengan berbagai nama menurut bahasa daerah. Orang Betawi menyebutnya Moa, orang Sulawesi menyebutnya Sogili,  orang Sunda menyebutnya Lubang, sementara orang Umpungeng menyebutnya Massapi. Dalam bahasa Indonesia ikan ini disebut ikan Sidat (anguilla sp.).

Ikan sidat mempunyai banyak keunggulan. Konon, tekstur dagingnya yang lembut mampu menyembuhkan berbagai penyakit, terutama penyakit kulit. Di Jepang dan Eropa, sidat digemari karena memiliki kandungan protein, terutama vitamin A. Kandungan vitamin A sidat 45 kali lipat dari kandungan vitamin A susu sapi. Kandungan vitamin B1 sidat setara dengan 25 kali lipat kandungan vitamin B1 susu sapi. Kandungan vitamin B2 sidat sama dengan 5 kali lipat kandungan vitamin B2 susu sapi. Dibanding ikan salmon, sidat mengandung DHA (Decosahexaenoic acid, zat wajib untuk pertumbuhan anak) sebanyak 1.337 mg/100 gram sementara ikan salmon hanya 748 mg/100 gram. Sidat memiliki kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid) sebesar 742 mg/100 gram sementara salmon hanya 492 mg/100 gram. Masih banyak lagi kandungan zat ajaib yang terkandung dalam tubuh sidat. Tak heran, di Eropa, Amerika, Taiwan, dan Jepang, konsumsi ikan sidat cukup tinggi.

Tengoklah pasar ikan sidat sekarang. Kebutuhan dunia akan sidat saat ini sekitar 300.000 ton. Dan, khusus di Jepang, permintaannya mencapai 120.000 ton per tahun. Memang, Negeri Matahari Terbit juga membiakkan ikan jenis ini. Hanya, kini 75% di antaranya kudu diimpor lantaran benih di perairan Jepang kian menurun. Hebatnya lagi, dari 18 spesies sidat di dunia, tujuh di antaranya ada di Indonesia. Malah, diduga, nenek moyang ikan mirip belut ini berasal dari perairan Sulawesi.

Makan ikan sidat atau dikenal dengan Unagi, bukanlah makanan biasa, tetapi termasuk menu ikan berkelas di beberapa seperti di Jepang sehingga bila kita dijamu dengan hidangan makanan tersebut, menunjukkan kita sebagai tamu terhormat. Unagi merupakan suguhan makanan bagi pertemuan pembisnis besar dan terkenal atau tokoh tokoh penting . Karenanya yang terlibat dalam bisnis sidat disana adalah perusahaan besar multi nasional seperti Mitsui, Marubeni, Ssasakawa dan lainnya dan perusahaan ini baru mau bekerjasama bila kita mampu memasok kontrak diatas 5.000 ton pertahun .

Indonesia hingga saat ini belum mampu berbuat, walau ada 3 wilayah khusus di perairan kita sebagai tempat pengembangan telur ikan sidat yaitu Sulawesi (poso), Sorong Barat dan Pelabuhan Ratu.Di Umpungeng sendiri masyarakat masih berburuh Massapi secara liar, bahkan tidak sedikit oknum yang berburu besar-besaran dengan menggunakan sejenis racun untuk menguras kandungan Massapi / sidat dibeberapa sungai.  

Ikan yang menjadi santapan kalangan elite di Jepang ini kini semakin diminati pebisnis di Indonesia. Apalagi dengan terbukanya pasar ekspor sidat ke negara-negara Asia Timur (Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang). Kini, permintaan sidat sangat tinggi baik di pasar lokal maupun pasar internasional. Sayangnya permintaan yang sangat tinggi tidak diimbangi oleh ketersediaan pasokan. Beberapa supermarket besar di Jakarta masing-masing membutuhkan sidat segar 3 ton perbulan sementara yang terpenuhi baru 10 persennya, inipun pasokannya tidak kontinyu. Ini belum terhitung kebutuhan restoran dan perusahaan-perusahaan pengolah hasil perikanan.

Sumber : http://www.sidatonline.com

Profile kami