titik tengah INDONESIA,

ditandai persis ditengah sebuah situs Megalitikum berupa lingkaran Batu membentuk angka Nol bernama GARUGA. Ditengah lingkaran terdapat batu yang menjadi titik pertengahan INDONESIA.

Selamat datang di Umpungeng,

Sebuah kawasan yang terjaga kemurnian alamnya sejak dulu,kini dan Isnya Allah dimasa yang akan datang. Mari kita jaga Umpungeng agar tetap menjadi sumber mata air kita bersama.

GARUGAE, symbol titik tengah INDONESIA

Lingkaran Batu yang disebut Lalebata (Garugae) merupakan situs megalitikum peninggalan sejarah Bugis.

Batu Cinta

Lubang batu yang terbentuk secara alami oleh terpaan air di pinggir sungai Batuletengnge Umpungeng.

Alam Umpungeng

Menyimpan aneka flora dan fauna yang warna warni, mari nikmati kesejukan alamnya dan jaga kelestariannya.

Kawasan pertanian

Mayoritas warga Umpungeng berprofesi sebagai Patani,sebagian besar bertani Cengkeh, sisanya menanam kopi, fanili, kemiri, pangi dan berbagai jenis umbi umbian lainnya.

Pengrajin Gula Aren?

luas areal hutan pohon aren di kawasan Umpungeng mencapai 620 ha (4% dari luas hutan) menjadikan kawasan ini sebagai sentra Gula aren.

Kus kus

Kus-kus atau orang Umpungeng menyebutnya Memu adalah hewan yang paling ramah dan juga langkah, hidup di alam liar namun jinak sama manusia.

Burung Rangkong Sulawesi

Burung Rangkong (Alo bagi orang Umpungeng)merupakan salah satu hewan endemik di Kawasan Umpungeng yang dilindungi,mari kita jaga dan lestarikan keberadaannya

Rusa Sulawesi

Rusa jenis ini hidup berkelompok dan masih bisa dijumpai di kawasan Umpungeng, hanya saja warga sering melakukan perburuan liar yang mengakibatkan Rusa Sulawesi ini terancam punah. Ayo kita lindungi!

Kawasan resapan air

Aliran 5 sungai yang bermuara pada sungai langkemme menjadi pemasok utama irigasi pertanian untuk kawasan Kabupaten Soppeng dan sekitarnya.

Aliran sungai-sungai yang sejuk dan indah

Sungainya mengalir sepanjang tahun, disepanjang sungai dipenuhi tumbuh-tumbuhan herbal yang kaya manfaat untuk obat ataupun nutrisi bagi kehidupan kita.

Hamparan bukit Umpungeng

Deretan 3 bukit menyerupai manusia yang sedang terbujur (Wuju), Inilah tanah leluhur yang hampir luput dalam sejarah.

Pesona Keindahan Air Terjun

Kejernihan dan kebersihan airnya memberi kesegaran dan kesan alam yang kuat

Donasi Pohon Aren

Ayo berpartisipasi untuk menjaga sumber mata air bersama

Pembangunan Masjid Nol Satu

Sebagai sarana ibadah ditengah kesejukan alam sekaligus sbagai simbol titik pertengahan Indonesia.

ceo

SEO Links Exchanges, Blog Link Building Service Build Your Links For Free, Links Building Service SEO Links Attitude | Free SEO Links Building Free Backlink Service, Links Building 4 Free
Tampilkan postingan dengan label Profile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profile. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Desember 2014

Sejarah asal mula UMPUNGENG

Dahulu kala di sebuah tempat yang terletak di tepi sebelah utara Ibukota Kabupaten Bone, Hidup seorang Wali yang dikenal dengan To Manurung’E Tellang Kere Ri tete. Konon daerah tersebut kian hari kian ramai dikunjungi oleh orang-orang yang berdatangan dari berbagai penjuru. Kondisi tersebut menjadi kan lahirnya sebuah Kerajaan kecil yang kemudian dipimpin oleh To Manurung’E. Sebagai Penguasa Kerajaan Tete, beliau digelar Arung Tete.
Arung tete memiliki tujuh orang anak, Salah seorang diantaranya bernama I Besse Timo yang merupakan putri sulung yang menjadi putri kesayangan beliau. I Besse timo selain memiliki paras yang cantik rupawan juga sopan dan patuh pada orang tua.
I Besse timo semakin tumbuh dewasa layaknya gadis-gadis pada umumnya.  Suatu ketika terjadi Guntur yang amat dahsyat, bersamaan dengan kejadian tersebut I Besse Timo mengalami kejadian luar biasa. Beliau (I Besse Timo) mengalami perasaan intim yang luarbiasa  nikmatnya layaknya hubungan suami istri. Setelah kejadian tersebut I Besse Timo dinyatakan hamil tanpa diketahui siapa gerangan yang menjadi pasangannya.
Melihat putrinya hamil tanpa suami, Arung Tete sangat terkejut dan keheranan mengingat dalam keseharian putrinya tersebut hidup bersahaja dan sangat menjaga diri dari pergaulan yang terlarang. Ditengah keheranannya Arung Tete pun menanyakan prihal tersebut kepada Putrinya.  I Besse Timo pung segera menceritakan peristiwa yang dialaminya tanpa ragu. I Besse timo sangat mengenal karakter Ayahnya yang bijak dan pernuh perhatian terhadap setiap kejadian yang dialami putrinya. Dalam keadaan batin bergolak antara keinginan untuk segera mengungkap siapa gerangan laki-laki yang telah berbuat demikian dengan putrinya dengan perasaan kasih sayang terhadap putri yang disayanginya tersebut, Arung tete memutuskan agar putrinyalah yang harus menemukan sendiri laki-laki yang telah menghamilinya itu. Arung Tete menyuruh putrinya I Besse Timo untuk pergi mencari laki-laki siapa gerangan ayah anak yang dikandungnya.  Dengan berat hati Arung Tete mengantar putrinya sampai ke tepian sungai yang bernama sungai Tete. Dengan perasaan haru Arung Tete memberikan perbekalan secukupnya kepada putri kesayangannya berupa seikat padi dan sebutir telur yang telah dierami oleh induknya. Namun telur itu tidak diserahkan kepada I Besse Timo melainkan dihanyutkan ke Sungai Tete sebagai petunjuk jalan. Arung Tete kemudian menyuruh putrinya mengikuti telur itu kemana pun ia pergi. Anehnya telur yang dihanyutkan oleh ayahnya itu tetap terapung diatas air dan berjalan mengikuti arus, I Besse timo terus mengikuti pergerakan telur menyusuri sungai.
Ketika perjalanan telur ajaib ini sampai di kaki gunung yang letaknya sebelah barat Kabupaten Soppeng telur tersebut istirahat maka I Besse Timo pun ikut beristirahat selama beberapa saat. Dari tempat tersebut I BT memandang jauh ke puncak gunung tersebut sambal merenungi keadaan dirinya yang sedang hamil tanpa pernah dijamah oleh lelaki manapun. Sebagai tanda kenangan bahwa dirinya saat itu masih gadis, ia lalu memberi nama gunung yang dipandanginya tersebut dengan nama Bulu Ana’dara (Gunung Gadis).
Selanjutnya telur itu bergerak lagi kebawah mengikuti arus air. Namun setelah sampai disebuah pertemuan arus sungai antara Sungai Tete dengan Sungai Langkemme, tiba-tiba telur tersebut berbelok naik melawan arah menyisir ke arah sungai asal Langkemme. Ditempat berbeloknya telor inilah kemudian diberi nama Salo Palekoreng  (Belokan Sungai) karena telor tersebut berbelok. Sementara telur itu bergerak terus melawan arus sungai, I BT pun dengan sabar mengikuti kemana gerangan tempat yang akan dituju.   Begitulah terus keadan telur tersebut hingga kebudian sampai pada suatu tempat telur itu pun tiba-tiba merubah arah (lain arah)  pergerakan. Telur tersebut tidak lagi menyusuri sungai melainkan berbelok naik kedaratan dan menggelinding menyusuri perbukitan. Perubahan pergerakan tersebut kemudian menjadi nama pada sungai tempat berbelok ini bernama Salo Lainna (Sungai Lain).
Telur yang menjadi pemandu perjalanan I Besse Timo ini terus bergelinding hingga sampai pada suatu bukit telur tersebut tidak lagi bergerak. Dalam keadaan telur diam ini, maka I BT memahami bahwa perjalanan telur sudah berakhir, yang berarti puncak bukit ini menjadi tujuan akhir perjalanan. Maka segerah lah IBT membangun sebuah gubuk kecil sebagai tempat tinggal. Padi yang ada dalam genggaman sebagai bekal yang diberikan oleh sang ayah pun segera di tanam. Hari-harinya di isi dengan bekerja mencari nafka demi mempertahankan hidup sebatang kara ditengah hutan belantara. Padi yang ditanam pun dipanen, namun karena keterbatasan pengetahuan maka padi yang di panen tersebut hanya dinikmati kuitnya (awang). Kebiasaan memakan kulit padi ini dalam Bahasa bugis disebut “pakkande awang”.yang berarti pemakan ampas padi. Kebiasaan I Besse Timo mengkomsumsi awang ini diabadikan sebagai nama bukit yang dihuninya itu dengan nama  Coppo Kandiawang (puncak bukit pemakan ampas padi)
Diatas bukit tersebut, I BesseTimo yang pada awalnya hidup sendirian namun setelah beberapa bulan kemudian anak yang dikandungnya lahir. Tanpa ditemani oleh siapapun dia melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama I Besse Kadiu. Bersama dengan kelahiran putrinya itu, telur yang menuntunnya hingga ke Coppo Kandiawang tersebut pun menetas dan menjadilah seekor ayam betina.
Beberapa tahun kemudian, seiring dengan pertumbuhan ayamnya yang kian lama semakin besar itu, putri Ibesse Timo pun semakin tumbuh dewasa menjadi seorang gadis. Kehadiran putrinya yang juga berparas cantik jelita membuat hidup putri Arung Tete itu tenteram, kendi belum diketahui siapa lelaki yang merupakan ayah dari putrinya tersebut. Bert ahun-tahun mereka berdua hidup di hutan belantara itu, namun tak seorangpun yang mengetahui keberadaannya, sekalipun tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah Kerajaan kecil yang hanya diantarai oleh dua bukit saja. Kerajaan tersebut bernama kerajaan Bulu Matanre.
Seperti halnya kerajaan Tete, kerajaan Bulu Matanre juga diperintah oleh seorang wali yang dukenal To manurung E ri Bulu Matanre atau yang digelar dengan nama Petta Bulu Matanre. Ia memiliki beberapa orang anak, seorang Putra beliau yang bernama Baso Paranrengi pernah mengalami peristiwa yang sama persis seperti yang juga pernah dialami oleh putri Arung Tete. Baso Paranrengi mengalami perasaan intim layaknya hubungan suami istri disaat terjadinya Guntur yang amat dahsyat pada usia yang memang sudah beranjak dewasa. Namun peristiwa tersebut dianggap hal yang biasa sehingga kejadian tersebut dibiarkan berlalu begitu saja. Baso Paranrengi memiliki kegemaran berburu rusa, sehingga hari-harinya biasa di manfaatkan pergi kehutan untuk berburu.
Suatu hari Baso Paranrengi di temani oleh pengawalnya yang bernama La Salatu pergi berburu di hutan dekat bukit yang didiami oleh I Besse Timo beserta putrinya.  Pada saat mereka berdua Istirahat di suatu bukit, la Baso Paranrengi memperhatikan anjing Pemburunya si Hitam dan si Putih dengan seksama yang baru saja datang dengan perut yang kenyang sementara belum mendapatkan tangkapan hewan buruan seekor pung. Melihat keanehan tersebut, ia pun menyuruh La Salatu (pengawal pribadinya) di suatu ketinggian untuk berdiri “toli’ ko Salatu” mengamati apakah di sekitar  kawasan perburuan kita ada orang yang tinggal. Di bukit tempat pengawalnya berdiri itulah kemudian di namai bulu Latoli  ( gunung berdiri). Sesaat kemudian pengawalnya itu melaporkan bahwasanya disebuah puncak bukit terdapat asap api. Maka bergegaslah Putra Petta Bulu Matanre meninggalkan Gunung Latoli menuju ke puncak bukit dimana asap api itu berasal dengan maksud mengetahui siapa gerangan yang tinggal di sana.
Tatkala ia sampai di bukit tempat suber asap berasal, dia melihat sebuah bangunan tempat tinggal berupa gubuk kecil. Untuk memenuhi rasa penasarannya dia pun segera mendekati gubuk tersebut, dia berdiri tepat di depan gubuk kecil namun tertata rapi itu sambil mengamati siapa  gerangan pemiliknya. Tiba –tiba dua orang keluar bersamaan dari dalam gubuk sederhana tersebut bermaksud hendak bersantai seperti biasanya di halaman gubuknya. Baso Paranrengi yang sudah berdiri sejak tadi menyaksikan dengan jelas iringan kedua orang tersebut keluar dari gubuk beratap rumpia tersebut. Betapa terpananya melihat pemandangan indah dua orang gadis jelita cantik nan rupawan itu. Melihat kecantikan kedua wanita yang ada di hadapannya, Baso Paranrengi tiba-tiba jatuh pinsan tak sadarkan diri. Pengawal yang baru kali pertama itu melihat tuannya pinsang tak bisa berbuat apa-apa kecuali meminta pertolongan kepada kedua wanita cantik tersebut. Dengan segera I Besse Timo segera mengambil segayuh air lalu mencelupkan ujung rambutnya kemudian memercikkan ke muka Baso Paranrengi. Seketika itu pula Putra Petta Bulu Matanre tersebut tersadarkan dan berniat untuk memperistrikan wanita cantik yang telah mengobatinya itu. Dari peristiwa inilah sehingga orang bugis mengenal “pangeppi weluwa” memercikkan ujung rambut ke muka pasien sebagai tehnik pengobatan orang yang sedang pinsang.
Ketika Baso Paranrengi kembali ke rumah, ia langsung mengurung diri dengan membungkus sekujur tubuhnya dengan sarung. Melihat gerak gerik putranya yang tidak biasanya itu, Petta Bulu Matanre bertanya prihal keanehan sikap putranya itu kepada La Salatu sang Pengawal.  Pengawalnya itu menceritakan kejadian yang dialami putranya selama dalam perburuan. Dia menceritakan prihal pertemuan antara Baso Paranrengi dengan dua wanita cantik yang tinggal di sekitar hutan tempat perburuannya. Mendengar cerita pengawal tersebut, Petta Bulu Matanre selaku orang tua segera memahami perasaan putranya tersebut dan mengatakan sesuatu kepadanya “ oto’no Baso ulao maddutakko baja” bangunlah Baso, besok ayah akan pergi melamar wanita yang telah menawan hatimu.
Alhasil keesokan harinya Petta Bulu Matanre pergi melamar wanita tersebut. Sesampai di gubuk wanita itu, beliau mengutarakan maksud kedatangannya yang hendak melamar. Namun I Besse Timo pada saat itu tidak mempunyai Wali Nikah sehingga tidak langsung menerima lamaran tersebut. Ia kemudian mengisyaratkan Petta Bulu Matanre untuk pergi dulu menemui seorang wali disebuah gunung sebelah selatan bukit Bittawang.
Tanpa menunggu waktu lagi, Petta Bulu Matanre langsung berangkat ke gunung yang dimaksud. Ia lalu menjelajah gunung tersebut demi menemukan wali yang dimaksud. Pencarian dilakukan mencakup seluruh kawasan dipegunungan tersebut, namun tidak juga ketemu. Usaha untuk menemukan Wali yang dimaksud telah menguras energy dan waktu yang luarbiasa lama hingga Petta Bulu Matanre merasa kelelahan (poso) akibat perjalanan yang menanjak,menurun yang dilaluinya. Akhirnya Petta Bulu Matanre tidak mampu lagi melanjutkan pencarian akibat kelelahan yang teramat sangat itu. Disinilah asal mula nama Gunung Laposo yang  berarti Gunung yang melelahkan dengan ketinggian 100 kdpl di sematkan.  Dalam keadaan Petta Bulu Matanre kelelahan dan hamper berputus asa  tiba-tiba muncul seseorang yang mengaku sebagai Wali dari I Besse Timo. Petta Bulu Matanre pun segera mengutarakan maksudnya . Akhirnya Wali yang senang bertapa di Gunung itu yang ternyata adalah jelmaan To Manurung E Tellang Kere Ri Tete bersedia untuk datang menjadi wali nikah terhadap wanita yang dipinang oleh Putra Petta Bulu Matanre tersebut.    
Pada hari yang telah disepakati keduanya, Petta Bulu Matanre beserta Putranya datang kembali ke Gubuk Bukit Kandiawan. Di gubuk itu telah hadir pula Wali yang merupakan Ayah dari I Besse Timo. Pada saat pembicaraan antara kedua pihak keluarga berlangsung, Baso Paranrengi di persilahkan memilih salah seorang dari kedua wanita cantik itu sebagai calon istri. Tanpa mengetahui status kedua wanita yang serupa dengan anak kembar itu, pilhannya jatuh pada I Besse Timo yang sudah berstatus sebagai ibu dari I Besse Kadiu. Mereka pun dinikahkan.
Setelah keduanya sudah resmi menjadi suami istri, mereka hidup rukun damai di tempat ini. Suatu hari mereka menceritakan kisah remaja mereka masing-masing. Sampai pada kisah ledakan Petir / guntur yang menggelegar  yang pernah dialami oleh Baco Paranrengi pada  masa remaja. Ternyata cerita yang sama juga pernah di alami oleh  I Besse Timo. Bahkan waktu kejadiannya pun bersamaan. Keduanya menceritakan apa yang dirasakan pada kejadian tersebut. Baik I Besse Timo maupun Baco Paranrengi mengungkapkan bahwa perasaan yang dirasakan pada saat itu persis sama dengan perasaan orgasme layaknya berhubungan suami istri. Barulah I Besse Timo menyadari bahwa sesungguhnya Ayah dari putrinya I Besse Kadiu tidak lain adalah Baso Paranrengi sendiri.
Beberapa tahun kemudian, pasangan suami istri ini yang telah dinikahkan secara resmi ini dikaruniakan beberapa anak lagi. Pada saat yang sama ayamnya pun berkembang biak di tempat ini. Namun anehnya ayam ayam miliknya tidak pernah tinggal di tempat itu pada siang hari. Setiap pagi ayam-ayam itu pergi ke puncak bukit yang bersebelahan dengan puncak bukit Kandiawan tempatnya bermukim. Melihat kebiasaan ayam yang tidak lazim tersebut, maka I Besse Timo ditemani Suaminya mengikuti jejak ayamnya itu. Setelah sampai dipuncak bukit tersebut, mereka mendapati ayam-ayan nya itu sedang asyik bermandikan tanah membentuk gundukan tanah. Aktivitas ayam membuat gundukan tanah ini dalam Bahasa bugis disebut “Mabbumpung” , sementara lokasi tempat ayam-ayam membuat gundukan tanah itu dinamakan “Umpungeng”.   
Karena tempat itu menarik bagi keluarga Baso Parenrengi, maka mereka merencanakan pindah menetap di tempat ini. Baso Parenrengi dan I Besse Timo bertapa / bertahannus di tempat ini meminta kepada Dewata Pattappa (Tuhan Pencipta), agar diterima dengan baik di tempat baru ini. Permintaan mereka dikabulkan dan tanpa diduga, mereka dihadiahi sebuah rumah yang material bangunannya kokoh namun terbuat dari kayu-kayu yang saat ini kita kenal tumbuhan jangka pendek seperti kayu Cabai dan lain-lain berdiri tepat di atas bukit itu sekitar 60 m sebelah barat lokasi Umpungeng. Rumah inilah yang dikenal dengan nama Bola Manurung’E Ri Umpungeng. Keluarga Baso Paranrengi akhirnya dapat pindah ketempat baru ini yang kemudian beranak cucu hingga membentuk perkampungan yang dikenal Kampung Umpungeng.
Setelah perkembangan dari waktu ke waktu, masyarakat Umpungeng semakin bertambah jumlahnya sementara lokasi tempat pemukiman diatas bukit semakin terasa sempit maka sebagian diantaranya memilih keluar atau merantau dan sebagian kecil tetap bermukim disini hingga sampai pada satu masa berdiri kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Umpungeng yang dipimping oleh seorang yang bernama Nenek Dongkong yang juga dikenal dengan “Arung Umpungeng”.  Kepemimpinannya bersahaja dan memiliki kemampuan diplomasi yang hebat, sehingga Umpungeng menjadi tuan rumah / tempat pertemuan para Raja pada saat itu. Lokasi pertemuan para pemimpin tersebut berada persis di lokasi Umpungeng (tempat ayam-ayam ma’bumpung) yang kini di kenal Lalabata  Umpungeng / Garugae. Tempat ini merupakan salah satu situs megalitikum yang terbentuk dari deretan batu-batu gunung membentuk lingkarang dan di tengahnya terdapat batu pertengahan (posina tanae). Konon setiap satu batu merupakan tempat duduknya satu perwakilan yang membentuk lingkarang. Tempat inilah kemudian menjadi symbol pemersatu yang sering dikunjungi orang dari berbagai penjuru.
Kini zaman telah berubah, wilayah kekuasaan telah disatukan menjadi Republik yakni Republik Indonesia dan dibagi tidak lagi berdasarkan kekuasaan kerajaan namun berdasarkan wilayah Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa. Umpungeng telah menjadi sebuah nama kampung yang berada di wilayah hukum bernama Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. (Ditulis oleh: Nurhayati, SPd. &  Dituturkan oleh: Umar Padlan)

Senin, 24 Februari 2014

Eco Village: Solusi Pemerataan dan Keberlanjutan Pembangunan

Proses pembangunan yang berlangsung sejauh ini tidak hanya menyebabkan ketimpangan antar wilayah, tapi juga mengakibatkan semakin timpangnya desa-kota. Hal ini terjadi karena efek penyedotan ke bawah (backwash effect) yang terjadi karena penggunaan konsep pusat pertumbuhan. Wilayah maju atau kota yang sesungguhnya diharapkan memiliki efek meneteskan kemajuan ke bawah (spread effect) pada kenyataannya melakukan eksploitasi terhadap daerah tidak maju atau desa untuk memenuhi kebutuhan kota. Akibatnya desa semakin tertinggal dan termiskinkan. Pada sisi yang lain, kemiskinan di desa mendorong masyarakat desa untuk bermigrasi ke kota guna memperbaiki kualitas kehidupannya. Migrasi masyarakat desa ke kota ini kemudian pada gilirannya menyebabkan kelumpuhan kota dan terciptanya masyarakat miskin kota akibat tidak mampunya kota menyediakan lapangan kerja untuk masyarakat desa yang bermigrasi ke kota. Dengan demikian, terjadi hubungan yang saling melemahkan antara desa dan kota.

Untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan antara desa dan kota, konsep eco village bisa menjadi solusi. Eco village adalah konsep tata ruang dan wilayah yang memperhatikan kualitas penduduk dan kualitas ekologis secara holistic karena melibatkan semua dimensi kehidupan makhluk hidup. Eco village merupakan pembangunan kawasan perdesaan yang mempertimbangkan pencapaian kualitas individu, keluarga, masyarakat serta kualitas lingkungan alam yang berkelanjutan. Dengan demikian diharapkan masyarakat desa mengalami peningkatan kesejahteraan tanpa harus merusak lingkungan. Selanjutnya diharapkan juga akan terjadi arus balik dari kota ke desa yang dapat mengurangi masalah kependudukan, masalah urbanisasi, masalah energi, serta masalah sosial perkotaan  yang semakin kompleks.

Mewujudkan kemandirian masyarakat desa dengan memperhatikan keberlanjutan ketersediaan sumber daya di desa adalah tujuan utama dari pengembangan eco village. Oleh karenanya, pengembangan eco village harus didukung oleh seluruh anggota komunitas masyarakat desa. Dengan demikian, pengembangan eco village akan sangat baik jika diprakarsai oleh swadaya masyarakat desa. Anggota masyarakat eco village disatukan oleh kesamaan secara ekologis, sosial ekonomi, dan nilai spiritual serta budaya.  Sebuah kampung yang terkategori eco vilage biasanya diisi oleh orang yang peduli akan kelestarian lingkungan dengan berupaya mengoptimalkan transaksi materi dan energi dengan lingkungannya. Namun demikian, pemerintah tetap memiliki tanggungjawab dan peran terpenting untuk pengembangan eco village. Membangun kesadaran dengan penyuluhan, menyediakan sarana yang memadai untuk pengembangan eco village serta dukungan real dalam bentuk pendampingan dalam mewujudkan eco village sangat diperlukan. Kerjasama yang baik antara masyarakat, pemerintah, swasta dan lembaga penelitian (perguruan tinggi) menjadi kunci sukses pengembangan eco village.

Pengembangan eco village umumnya dicirikan dengan  pemanfaatan energi matahari, air dan angin secara efektif. Sinar matahari misalnya, diupayakan untuk menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat setidak-tidaknya untuk memenuhi kebutuhan listrik pada sarana prasarana publik. Demikian juga dengan air dan angin, sebisa mungkin dimanfaatkan untuk menghasilkan energi. Lebih dari itu, air tidak hanya dimanfaatkan untuk satu kali keperluan, tapi dimanfaatkan secara berulang. Misalnya saluran irigasi di desain tidak hanya untuk mengairi lahan pertanian, tapi juga untuk menggerakkan kincir dalam menciptakan energi listrik. Selain itu eco village juga dikembangkan dengan meminimumkan input eksternal (pupuk dan pestisida kimia) dengan memanfaatkan penggunaan limbah biomassa sebagai pengganti.  Dengan demikian, pengembangan eco village memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
 By: Muhammad Nurdin

Rabu, 04 September 2013

Makna Symbol angka 01 bagi Umpungeng

Di desa ini terdapat deretan batu yang membentuk lingkarang, orang Umpungeng menyebutnya sebagai GARUGAE atau yang dikenal Lalabata yang bermakna Laleng batu. Garugae yang terdiri atas Mihrab (Bocco-boccoe), batu pertengahan (posi tana) dan deretan batu yang menyerupai lingkarang ini merupakan salah satu objek peninggalan sejarah megalitikum yang memiliki nilai sejarah dan filosofi budaya. (lihat daftar penelitian skripsi mahasiswa UNHAS nomor urut 99 pada Majalah Arkeologi Indonesia). Batu yang berada tepat di tengah-tengah lingkaran tersebut (posi tana) merupakan penanda titik tengah dari lingkaran. Lingkaran inilah yang kami sebut sebagai angka Nol (0). Di sebelah utara lingkaran terdapat Lapangan yang memanjang, yang saat ini diatasnya dibangun gedung Sekolah Dasar Negeri.  Lapangan panjang ini pulalah yang kami sebut sebagai angka Satu (1). Maka jika digabungkan keduanya akan menjadi angka binery 01. Apa arti symbol angka 01 bagi kehidupan ini? Bagaimanah pandangan para ahli tentang symbol tersebut? Berikut sedikit ulasan diantara banyak makna yang terkandung dalam dua angka digital tersebut:   

Angka Nol (0)
Angka nol adalah angka yang ditemukan terakhir. Ditemukan oleh ilmuwan islam abad ke 8 Al-Khawarizmi.

Mengapa angka nol baru ditemukan. Karena dulu bangsa Romawi tidak mengenal itu angka nol. Untuk menyatakan angka yang dibelakangnya ada nol, bangsa Romawi telah menulis dengan kode tersendiri. Contoh untuk angka 10 = X, 50 = L, 100 = C. 1000 = M. Sehingga untuk menulis angka 1986 menurut aturan penulisan angka Romawi, maka panjangnya minta ampun menjadi MCMLXXXVI.

Sedang angka yang kita gunakan sekarang atau angka modern yaitu angka 0-9 mulai dikenal oleh bangsa Eropa pada abad 10 merupakan perpaduan antara kebudayaan bangsa India dan bangsa Arab.

Banyak sekali keunikan angka nol. Di antaranya angka nol adalah pembatas antara bilangan genap dan negatif. Angka apa saja jika ditambah atau dikurang angka nol, maka hasilnya sama dengan angka yang ditambahkan atau dikurangkan tersebut. Angka apa saja dikalikan angka nol maka hasilnya adalah angka nol.

Dan dianggap misteri oleh ahli matematika apabila sesuatu bilangan dibagi angka nol, hasilnya jadi berapa? Ada sebagian ahli matematika yang menyatakan hasilnya tak terdefinisi, karena kebalikan dari pembagian adalah perkalian dan dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah terjadi suatu bilangan angka apapun dikalikan dengan angka nol.

Kita buat satu perbandingan satu contoh angka yang nyata, 5 x 2 = 10, sehingga dibalik menjadi pembagian, maka 10 : 5 = 2 atau 10 : 2 = 5. Secara kenyataan bahwa perkalian 5 x 2 itu bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Beda dengan 5 x 0 = 0, maka tidak bisa diartikan bahwa 0 : 5 = 0 atau 0 : 0 = 5. Secara realita bahwa perkalian 5 x 0 atau perkalian dengan angka nol lainnya tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah mengapa suatu bilangan dibagi angka nol, hasilnya tak terdifinisi oleh para ahli matematika, karena secara real bahwa suatu bilangan dikali dengan angka nol tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sedang perkalian merupakan kebalikan dari pembagian. Nanti dijelaskan dipertengahan tulisan bahwa dalam kehidupan ternyata ada sesuatu yang bisa dikalikan nol.

Ada juga yang menyatakan sesuatu bilangan dibagi angka nol hasilnya tak berhingga. Coba ambil kalkulator tekan bilangan apa saja kemudian dibagi angka nol maka dikalkulator hasilnya adalah angka 0 ditambah huruf kode “E”. Hasil angka 0 dan kode huruf “E” tersebut kita tidak tahu apa maksudnya. Banyak lagi keunikan angka nol lainnya.

Ada pesan misterius di Al-Quran yang berkaitan dengan angka nol. Al-Quran menyatakan bahwa manusia itu adalah sebuah bilangan angka yakni nol. Ini dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Fathir ayat 15, “Yaa ayyuhannasu antum ul-fuqara u ilallah. Wallahu huwalghaniy yul hamid, artinya “Wahai manusia kalian semuanya miskin memerlukan Allah dan Allah-lah yang Maha Kaya dan Maha Terpuji.” Dalam ayat tersebut Allah berfirman kepada manusia “Antumul fukara” atau “kamu miskin”.

Al-Quran menyatakan manusia bukan hanya fukara/miskin tapi ada penekanan bahasa tambahan kata UL di depan kata fukara. UL = AL, itu artinya manusia dinyatakan dengan kata Al-Fukara menunjukkan bahwa manusia itu benar-benar miskin atau miskin sebenar-benarnya.

Miskin bisa diartikan tidak punya apa-apa. Tidak punya apa-apa bisa diartikan berarti kosong. Kosong bisa diartikan sama dengan angka nol. Ini terbukti saat manusia lahir dan saat meninggalkan dunia tidak membawa dan tidak memiliki apa-apa.

Penjelasan lain surah Al-Kahfi ayat 39, “Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” Pada ayat tersebut Allah menyatakan bahwa manusia yang berupa angka nol, perlu kekuatan Allah untuk menjadi lebih dari nol atau perlu kehendak Allah untuk menjadi kurang dari nol.

Bahwa manusia bisa menjadi angka 10, bisa menjadi angka 80, menjadi angka 300 perlu kekuatan Allah menambahkannya. 0+10, 0+80, 0+300 dan angka plus lainnya. Ada peran serta Allah sebagai Zat Yang Maha Menambah. Maha Pemberi Mamfaat.

Begitu pula manusia bisa menjadi angka -10, bisa menjadi angka -80, menjadi -300 juga atas kehendak Allah. 0-10, 0-80, 0-300 dan angka minus lainnya. Bahwa ada peran serta Allah sebagai Zat Yang Maha Mengurang. Maha Pemberi Mudarat.

Oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita setiap berbuat sesuatu hendaknya selalu mengucap “Laahawlaa walaa quwwaillabillah” artinya “Tiada upaya dan kekuatan atas kehendak Allah”. Maksudnya manusia yang nol itu perlu tambahan kekuatan dari Allah agar bisa lebih dari nol. Bahwa ketika ia bergerak, berjalan, meloncat, berpikir dan segala aktifitas lainnya, baik aktifitas organ-organ di dalam tubuh yang tidak tampak maupun aktifitas organ-organ di luar tubuh yang terlihat. Semua aktifitas tersebut merupakan atas kekuatan dan kehendak Allah SWT.

Ini memberi peringatan kepada manusia ketika ia telah berjaya, seperti memiliki karir sukses, memiliki harta yang berlimpah, memiliki jabatan, memiliki kedudukan yang tinggi dan atau memiliki apa saja. Manusia tersebut harus ingat dan jangan lupa bahwa ia asalnya adalah angka nol. Allah lah yang berperan serta sebagai Zat Penambah terhadap sukses-sukses tersebut. Ini sesuai firman Allah surah Al-Anfal ayat 17, “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” Ketika seseorang manusia memiliki kemampuan untuk melempar atau kemampuan lainnya, semuanya itu Allah-lah yang melakukan.

Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” Artinya manusia yang kosong dan tidak punya apa-apa berupa angka nol dilaknat Allah ketika ia mengaku bahwa ia berangka 1, mengaku angka 10, mengaku angka 100 atau mengaku angka apa saja.

Apabila seorang manusia merasa bahwa dirinya hebat, tinggi, besar dan kaya. Atau manusia merasa bahwa ia berangka 100, angka 1000, angka 5000 atau angka apa saja. Maka sifat angka nol yang ada pada diri manusia akan secara otomatis akan mengalikan terhadap angka yang diakuinya tersebut. 100×0, 1000×0, 5000×0 hasilnya sama dengan angka nol. Kembali kosong, hampa dan tidak punya apa-apa. Buktinya apa? Buktinya setiap makhluk yang bernyawa termasuk seluruh manusia akan menemukan ajalnya yaitu mati. Arti mati ini adalah bahwa manusia tersebut kembalikan ditiadakan Allah. Tiada artinya kosong dan kosong artinya angka nol.

Sifat angka nol pada manusia juga bisa dibuktikan dengan proses alami kehidupan seorang manusia. Dulu seorang manusia tiada, kemudian ada, maka suatu saat akan kembali tiada. Dulu kosong atau nol, kemudian ada, maka kembali kosong atau nol.

Angka nol juga bisa dimaknakan pada dunia. Coba perhatikan bumi bentuknya bulat seperti angka nol. Rasulullah pernah menyatakan bahwa dunia ini seperti sebelah sayap nyamuk atau sampah maknanya bahwa dunia ini tidak ada artinya.

Oleh sebab itu segala apa-apa saja yang kita peroleh di dunia ini, kita jangan lupa bahwa itu semua adalah merupakan nikmat, kasih dan sayang dan nikmat Allah SWT. Dan kita jangan lupa bahwa kita ini sebenarnya angka nol atau tidak punya apa-apa dan dunia yang kita tinggali ini juga tidak ada artinya dan kita hanya bisa memohon pertolongan kepada Allah, karena Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diminta pertolongan. (By Ferry Abu Qaswa-Kompasiana)

Angka Satu (1)

1. Saya sadari angka 1 ini mempunyai banyak sekali arti yang berbeda-beda bagi banyak orang.
1. adalah posisi puncak yang menjadi ambisi seseorang dalam bekerja
1. adalah ranking di sekolah yang melambangkan kepintaran
Juara 1 adalah tempat paling tinggi yang diincar oleh setiap olahragawan
99,99% artinya tidak sempurna
100% lambang kesempurnaan total (perfect)
1. mempunyai arti tiada 2, tiada yang sama
1. berbicara tentang kelangkaan.
1. berbicara tentang ke-eksklusif-an.
1. demi 1 adalah pepatah untuk mencapai sukses
1. langkah saja, hanya itu yang diperlukan untuk memulai merubah hidup anda
1. kali ini saja, kalimat bujukan teman untuk menjerumuskan anda ke rokok atau narkoba
1. kali lagi, perkataan seorang pecandu pornografi pada dirinya sendiri ketika sedang tergoda
1. daging adalah arti keindahan sepasang suami istri dimata Tuhan
1. daging juga adalah arti kejijikan Tuhan terhadap seorang dengan pelacurnya
1. suara adalah tanda kesepakatan yang kuat untuk melakukan sesuatu, entah baik atau buruk
1. kesempatan lagi, kata-kata seorang pria yang menyesal
1. kesempatan lagi, kata-kata seorang istri sambil menahan sakit hatinya demi kelangsungan perkawinannya
1. kesempatan saja,peluang yang dimiliki seorang muda yang belum menikah untuk menentukan pasangan hidupnya untuk seumur hidup
1. kesempatan lagi, kata-kata penyesalan yang terdengar di alam neraka
Anak ke-1, adalah lambang berkat dan lambang penerus tahta kerjaan untuk seorang anak pria
Anak ke-1, adalah lambang kerja keras karena seringkali harus memikul beban adik-adiknya
Antrian ke-1, tanda kemujuran atau kerajinan
Antrian ke-1, bisa juga tanda sial karena tidak bisa mencontek orang sebelumnya
No.1 paling pagi, sering diartikan sebagai rajin dan menandakan kemauan yang kuat
Hanya 1 orang saja, bisa berarti orang yang penuh keyakinan dan tekad
Hanya 1 orang saja, bisa berarti orang yang keras kepala
“Satu-satunya”, bisa berarti anda paling hebat
“Satu-satunya”, bisa juga berarti anda paling tolol
1 gigit saja, pikiran Adam ketika memakan buah terlarang
1 kesalahan, cukup untuk membuang adam dan hawa keluar dari taman firdaus (By:http://webcache.googleusercontent.com)

Sepertinya hidup ini hanya mengijinkan anda 1 kali saja untuk membuat Keputusan Besar tentang mau kemana arah hidup anda. Kemana anda mau bawa kehidupan anda? Ketahuilah bahwa sesungguhnya angka  1 adalah lambang TAUHID / Wahiid / Ahad / Maha Esa  yakni Allah SWT.

Angka Nol vs Satu (01)
Berapa angka terbesar yang anda ketahui? Cobalah kalikan dengan angka l, maka kita pasti akan mendapatkan hasil selalu sama dengan l. Cobalah sebutkan angka terkecil yang anda ketahui, dan bagilah dengan angka l, maka akan mendapatkan hasil yang tidak terhingga.

Sedang angka 0, berapapun angka yang kita sebutkan, dibagi ataupun dikali hasilnya selalu sama dengan bilangan itu sendiri. Angka 0 adalah representasi dari Keikhlasan. Keikhlasan selalu membawa/membuahkan  Keikhlasan. Angka Satu adalah representasi kebalikan dari  Keikhlasan yaitu Ketidak  Ikhlasan dan ini  tidak pernah membawa keberkahan.

Manusia dengan kehidupannya, pada awalnya dan masa kanak-kanaknya berada pada posisi angka l. Semakin dewasa, dengan segala pengalaman hidupnya dia akan bergerak naik turun ke arah 1 atau ke arah 0. Orang yang mengikuti hawa nafsunya, akan semakin mendekati ke angka 1. Pada saat mencapai angka 1, dia akan menuhankan dirinya. Dia akan merasa bahwa dunia sudah digenggamnya dan itu atas usaha dan jerih payahnya. Tampak sekali kesombongan selalu muncul dari tingkah lakunya.

Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, dia akan bergerak ke arah Nol, menuju ke fitrahnya kembali. Orang seperti ini selalu rendah hati (bukan rendah diri), selalu tawadlu, berserah diri dan bertawakal, baik pada saat diberi kelebihan maupun kekurangan. Dari sisi rizki, orang yang berada pada angka 1, apabila misalnya mendapatkan rizki Rp. 1.000.000,-, maka itulah uang yang diperolehnya, tidak lebih dan tidak kurang. Nilai keberkahannya adalah 1 juta rupiah dibagi 1 sama dengan 1 juta rupiah.

Orang yang berada pada angka 0, apabila misalnya mendapatkan rizki Rp. 1.000.000,-, maka nilai keberkahannya adalah tak terhingga. Berapapun rizki yang diperoleh, dia mendapatkan rizki yang berkah tidak terhingga. Orang dengan angka Nol ini derajat keikhlasannya sudah tertinggi, sehingga berapapun yang diperoleh, selalu dapat mencukupi dirinya, bahkan mampu menolong orang lain.

Semakin ikhlas seseorang, semakin mendekat ke arah 0. Misalnya 0.2, maka nilai keberkahannya adalah 1 Juta dibagi 0.2 = Rp 5.000.000,- Sebaliknya, pada saat orang mendapatkan halangan dan cobaan. Orang-orang yang ikhlas, yang memiliki angka 0, berapapun bilangan halangan dan cobaannya, dikalikan dengan 0 akan sama dengan 0. Dia tidak pernah merasakan beban apapun terhadap halangan dan cobaan yang menimpanya. Sedangkan pada orang yang berbilangan 1, dia akan merasakan sakit, stress dan bahkan sakit jiwa atau berputus asa, karena dia selalu merasakan gejolak jiwa sesuai dengan besar dan kecilnya cobaan. tulah keikhlasan yang terkait dengan keberkahan.

Keikhlasan adalah dari hati, dan hanya hati kita sendiri dan Allah saja yang mengetahui. Maka, seorang penjual es keliling yang menyumbangkan Rp 2.000,- ke kotak Masjid secara ikhlas, sangat jauh nilainya di depan Allah dibanding dengan seorang Jutawan yang menyumbangkan uang Rp 1 Juta ke kotak Masjid karena niat yang lain.(by:http://spicaku.blogspot.com)


Arti angka 01 bagi Teknology 

Sistem bilangan dua symbol / sistem bilangan basis dua / biner adalah sebuah sistem penulisan angka dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1. Sistem bilangan biner modern ditemukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad ke-17. Sistem bilangan ini merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis digital. Dari sistem biner, kita dapat mengkonversinya ke sistem bilangan Oktal atau Hexadesimal. Sistem ini juga dapat kita sebut dengan istilah bit, atau Binary Digit. Pengelompokan biner dalam komputer selalu berjumlah 8, dengan istilah 1 Byte/bita. Dalam istilah komputer, 1 Byte = 8 bit. Kode-kode rancang bangun komputer, seperti ASCII, American Standard Code for Information Interchange menggunakan sistem peng-kode-an 1 Byte.

Perhitungan dalam biner mirip dengan menghitung dalam sistem bilangan lain. Dimulai dengan angka pertama, dan angka selanjutnya. Dalam sistem bilangan desimal, perhitungan menggunakan angka 0 hingga 9, sedangkan dalam biner hanya menggunakan angka 0 dan 1. Inilah dua angka yang merupakan basis pemrograman yang menandai era digital.

Makna 01 bagi  dua kalimat Syahadat.

Syahadat (dari kata شهد syahida, "(ia telah) menyaksikan") adalah pernyataan kepercayaan dalam keesaan Tuhan (Allah) dan Nabi Muhammad sebagai RasulNya dan merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lain nya. Ini merupakan kata kunci (password) bagi masuknya seseorang pada sistem kehidupan Muslim. Syahadat merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam. [1]Syahadat sering disebut dengan Syahadatain karena terdiri dari dua kalimat (Dalam bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat). Kedua kalimat syahadat itu adalah:

asyhadu an-laa Ilaha illa LLah -
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah

wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah
artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah.

Jika anda perhatikan lingkaran & balok merah pada dua kalimat syahadat diatas dan anda menarik garis vertikal ditengah gambar tersebut maka dengan izin Allah anda akan memahami kedudukan angka 01 satu dalam basis keyakinan Ummat Islam yakni لا إله ه LA/ Tiada/0 إلا kecuali  الله Allah/al Wahid/ Ahad/1. Meniadakan seluruh pengaruh dalam hidup kita dan hanya menghadirkan Satu pengaruh dan kekuatan yakni Allah Azza Wajallah. Dengan pemahaman ini kita akan memiliki keyakinan digital, kuat dan tajam yang Ikhlas dan Bertauhid, Amin. 

Wallahu a'lam bishawwab


Dan inilah symbol 0 yang terdapat di Umpungeng ?



Jumat, 01 Oktober 2010

Sumber Daya Alam

Desa Umpungeng / Umpungeng Ecotourism Village merupakan salah satu desa tertua di tanah bugis yang merupakan warisan para leluhur  yang hingga saat ini masih terjaga keindahan alamnya. Patut disyukuri karena desa ini telah diwariskan kepada generasi yang sangat perduli terhadap lingkungan dan alam sekitarnya. Penduduk desa Umpungeng masih menganut  kearifan local yang berpegan pada tata nilai positif seperti kejujuran, keramah-tamahan, kasih sayang baik  terhadap sesama, terhadap hewani dan bahkan terhada tumbu tumbuhan. Inilah  kekayaan & aset yang merupakan karunia Ilahi yang terbesar yang harus terus dijaga dari generasi kegenerasi.

Letak geografis desa Umpungeng berada di antara tiga kota Kabupaten yaki Kota Kabupaten Soppeng sebelah timur, Kab.Barru sebelah barat dan Kab.Bone di sebelah Selatan. Dusun Umpungeng sendiri berada diwilayah hukum Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng.  Wilayah yang beradah dilereng Gunung Poso ini merupakan daerah dengan curah hujan paling tinggi diantara wilayah lain di kabupaten Soppeng yang  secara geografis terbagi 3 Kampung yang dibatasi oleh masing-masing sungai  yakni antara Sungai Lebba-e dengan Sungai Lasaurung terdapat Kampung Bulu batu dan antara Sungai Ladengeng dengan sungai Yawangpulo terdapat Kampung Umpungeng dan Jennae. Aliran sungai-sungai tersebut bermuara ke sungai Langkemme yang selama ini merupakan pengsuplay utama kebutuhan perairan irigasi beberapa kawasan pertanian di Kabupaten Soppeng. Satu hal yang kami syukuri bahwa letak posisi  Umpungeng berada persis pada pertengahan Indonesia, hal ini dapat di lihat lebih jelas pada peta google 

Wilayah Umpungeng pada umumnya pegunungan, kondisi tersebu menjadikan penduduk di Umpungeng umumnya bercocok tanam. Berbagai jenis tanaman yang terdapat di sini seperti tanaman padi merah, sayur-sayuran, singkong,umbi-umbian dengan aneka varitas hingga tanaman keras seperti Nangka, Cokelat, Cengkih, Durian dll. Hasil pertanian penduduk umumnya dikomsumsi sendiri. Gaya bercocok tanamnya pun pada awalnya berpindah-pindah. Hal ini di dorong oleh pengetahuan pertanian yang kurang memadai dan hanya mengelola kebun secara berpindah-pindah. Mereka menganggap bahwa kebun yang sudah sering ditanami lambat laun akan menurun produktifitasnya sehingga harus mencari lahan baru. Namun seiring dengan tingkat pengetahuan petani yang lebih baik, kebiasaan bercocok tanam secara berpindah-pindah ini sudah mulai berubah.  Hal yang menarik dari penduduk setempat adalah budaya kekeluargaan dan gotong-royong yang masih kental. Sehingga untuk menanami kebun tidak membutuhkan waktu lama untuk melakuknnya.
Kondisi alam yang asri dan aliran sungai deras,bening diantara bebatuan yang bersih dikaki pegunungan juga menyimpan potensi lain. Jenis Ikan Moa (kaya kandungan omega3+protein) dulu banyak dijumpai disepanjang sungai disekitar. namun kini sudah mulai langkah akibat perburuan liar oleh para pendatang didaerah ini. Berbagai species seperti  ikan mas dan keong kecil disepanjang aliran sungai kini sudah mulai langka akibat tradisi menangkap lindung dan jenis species lainnya dengan cara menebar racun (sejenis portas) di hulu sungai. 

Harmonisasi alam dengan penduduk lokal Umpungeng yang telah tercipta dan terbangun sejak dulu, kini  telah mewujud menjadi suatu Desa yang alamnya indah mempesona, aneka ragam hayati dapat dijumpai disini.  Keramah tamahan penduduk dengan budaya dan kultur yang sarat dengan  kearifan  lokal siap menghangatkan suasana santai bagi siapa saja yang berkunjung ke desa ini

Kicauan aneka burung, desiran sungai-sungai yang membelah gunung Neneconang dan Gunung Laposo mengalir jernih ditengah bebatuan yang bersih turut  memperkaya nuansa exotic alam ditengah udara dingin dan sejuk. Aneka hidangan tradisional hasil olahan tangan penduduk  desa  menjanjikan cita rasa pedesaan yang gurih dan lezat. Semuanya tersaji dalam satu kesatuan hikmah ” karena alam bersahabat dengan kita”

Gula aren yang merupakan sumber penghasilan utama penduduk desa Umpungeng. Profesi menyadap (Massari) ini merupakan tradisi dari leluhur secara turun temurun dari generasi ke generasi hingga saat ini. Maka tak heran jika kuwalitas gula yang dihasilkan melalui olahan tangan secara tradisional ini merupakan kwalitas  terbaik. Daerah ini mensuplai kebutuhan  gula  aren  di Sulawesi Selatan khususnya kawasan Tanah  Bugis.  Menikmati gula aren ditengah hutan dengan aneka jenis rasa mulai dari gula cair, gula kelapa, gula durian, gula sonri dll akan memberi kesan kuat terhadap kecintaan kita terhadap alam.   

Beberapa hulu sungai yang terdapat di kawasan ini merupakan sumber pengairan yang penting bagi kelangsungan pertanian di sejumlah daerah di Kabupaten Soppeng dan sekitanrnya, seperti Kab. Wajo, Sidrap, Barru, Pangkep dan beberapa daerah lainnya. Hal inilah yang menjadi alasan utama betapa pentingnya menjaga kawasan Umpungeng sebagai sumber mata air dan tentu saja “Agar tetap memberi kehidupan bagi kita semua” khususnya kelangsungan pertanian di seluruh kawasan disekitarnya, agar tetap terjaga” harmony antara alam dan manusia”.



Sejarah

Sejarah Umpungen adalah Sejarah yang lebih Tua dari Riwayat PatotoE (Puang To-Toa) yang suaminya bernama Labuting Langi, lalu mempunya Putra yang bernama Batara Guru (Batara Guru Riselleng), dan Cucunya bernama Batara Lattu (Batara La-Toa).Itulah Riwayat Arung Umpungeng yang masih dapat kita dapatkan di celebes walaupun hanya dalam bentuk Panguriseng
Di Umpungeng, ada yang dipercayai sebagai tempat yang dulunya menjadi tempat Bola Ulawengnge. Dalam Riwayat Umpungeng, juga terdapat Riwayat yang menyebutkan: Tetompo'nami Matannana EssoE Na Tanniya Ku Umpungeng Monro KabbaE.

Arung Umpungang sesunguhnya adalah Matowa Zeit LompoE (Mata SilompoE Mangkau' Bone 1326-1358), putra dari Salama' La-Ma didalam Sejarah Prancis digelari "TERANG". Mata SilompoE disebut sebagai Manurengnge Ri Matajang, seharusnya pembacaannya bukan seperti itu tapi: Manu' Arungnge Ri Matajang (Terang). Manu' yang dimaksud disini adalah Jaana' (Elang) yang berwarna Manu' Komba' Karame yang kita sebut sebagai BURUNG RAJA WALIE. Gelar Para Maha Raja pada masa lampau yaitu; Wa'Jaana'tu. baca Lontara' Mangkau Bone Mata SilompoE sewaktu menurungkan Tahtanta pada Laumasa Mula Panre, Perkataannya: Lausama Toola Wa', arti dari Toola yaitu yang menggantikan. Lamausalah yang kemudian menjadi Wa' setelah Ayahnya.

Jumat, 01 Januari 2010

Tim Pelaksana Program

Sudirman A.Rahman atau biasa di sapa Dirman merupakan Inisiator putra kelahiran asli Umpungeng. Pengalaman yang diperoleh selama berkarier di industri pengembangan SDM Pariwisata memberinya inspirasi sekaligus tantangan untuk mengaplikasikan berbagai teori pengelolaan Sumber daya khususnya bidang Pariwisata dan lingkungan hidup kedalam aksi yang nyata. Seiring dengan bertambahnya usia, Dirman memiliki obsesi mengaplikasikan tata nilai positif di setiap lini kehidupan melalui usaha yang nyata demi berbagi manfaat sebanyak-banyaknya bagi sesama.

Sinardin NB (Ketua Pengurus Masjid Jabal Nur Umpungeng) merupakan Putra kelahiran Umpungeng yang mengenyam pendidikan tingkat lanjutan ini merupakan putra pertama pasangan Bapak Bune dan Nungka, dia merupakan sosok penggemar pelajaran mate-matika, bahkan sempat menjuarai pelajaran yang menjadi momok bagi besar pelajar dimasanya.Sopan, terbuka dan bicara apa adanya merupakan ciri khas yang menonjol pada siapa saja yang pernah berintraksi dengannya. Memiliki 2 Putri dan 2 putra memberi motivasi dirinya untuk bekerja lebih keras. Kini menjalani rutinitas sebagai penyadap dan bercocok tanam. Namun jika ada pengunjung yang memerlukan jasa ojeg, maka dia pun dengan senang hati melayani. Baginya Menjemput atau mengantar orang merupakan kesempatan menggali informasi dari setiap penunpang tentang apa saja yang terjadi didunia luar, disamping memperoleh tambahan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. 

Muhammad Sose Putra Generasi muda kelahiran Umpungeng. Ayah dari 3 putra putri ini pernah mengembara ke Negeri Jiran Malaysia. Berkat Pengalaman yang diperoleh selama dalam perantauan, menjadikannya senang berinovasi dan melakukan uji coba dalam mengembangkan tanaman menjadi lebih produktif. Keindahan alam Umpungeng menjadi magnet baginya untuk kembali ke kampung halaman dan berkonsentrasi pada pengembangan tanaman cengkeh dan cokelat. Baginya pengalaman merantau telah ia bayar dengan harga yang sangat mahal. Tangan kanannya yang hilang akibat dari kecelakaan kerja telah cukup baginya untuk menjadi pelajaran berharga yang akan senantiasa ia jadikan panduan untuk hidup yang lebih baik dimasa yang akan datang

Nasrullah Rahman  (Remaja Masjid) Putra ke 7 dari pasangan Abdurahman dan Siti Hasanah mengenyam Pendidikan S1 bidang Budaya di salah satu Perguruan Tinggi Swasta Ternama di Kota Makassar. Latar belakang pendidikan dan ke organisasian selama dikampus serta penghayatan Agamanya mengantarkan pada visi membangun budaya Masyarakat yang lebih positif dan produktif. Dengan Ilmu dan pengalamannya akan di dermakan ke pada sesama khususnya di kampung halaman.

Wahyuddin (Kepala Dusun Umpungeng) Putra kelahiran Umpungeng yang saat ini menekuni bidang pertanian. Disamping menjalankan rutinitas selaku warga, saat ini Bapak Wahyuddin juga mendapat kepercayaan dari warga sebagai Kepala Dusun Umpungeng. Jika anda ingin berkunjung ke Umpungeng, anda juga bisa memintanya untuk menjemput atau mengantar ke Desa Gattareng (Jalan Poros) menggunakan kendaraan bermotor. Dengan kemampuan khusus mengendarai kendaraan roda dua di medan berat seperti Umpungeng, anda tidak perlu khawatir. Dengan hanya mengeluarkan kocek Rp.75.000,- anda tinggal duduk manis hingga tiba di lokasi, selebihnya serahkan padanya



Ecotourism

 Judul asli: "Peluang dan Potensi Ecotourism di Indonesia"
Mungkin istilah “ecotourism” belum begitu akrab di telinga kita. Namun, bukan berarti ia tak bisa menjadi primadona. Dengan modal kekayaan alam dan budaya, serta tuntutan terhadap keberlangsungan-nya (sustainable), ecotourism adalah wajah masa depan pariwisata Indonesia.

Sejalan dengan isu perubahan iklim dan tren “back to nature”, gaung ecotourism mulai menyebar di penjuru dunia. Ecotourism disebut-sebut sebagai alternatif solusi yang mempertemukan jalinan antara pariwisata dan aspek lingkungan. Tentu saja, respon ini muncul setelah berbagai penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pariwisata telah berkontribusi terhadap dampak buruk lingkungan, pula masalah sosio-kultural dan ekonomi.

Sebagai sebuah negara kepulauan dengan keragaman suku yang tak ternilai harganya, Indonesia sudah sejak lama dikenal turis mancanegara akan keindahan alam dan budayanya. Dua hal itu kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata yang mendatangkan banyak keuntungan di sektor ekonomi. Maka, untuk tetap menghidupkan ekosistem dan pariwisata, ecotourism bisa dipilih sebagai jalan keluar.

Ecotourism atau eko-wisata merupakan wisata yang mengandalkan alam (flora dan fauna) serta kebudayaan masyakat setempat sebagai daya tarik, di mana prinsip keberlangsungan dapat terjaga. Eko-wisata tidak sekedar melihat alam dan kebudayaan sebagai objek, tapi juga sesuatu yang perlu dijaga kelestariannya. Karena itulah, ecoturism kini begitu populer digalakkan sebab ia tak hanya muncul sebagai potensi konservasi, melainkan potensi pariwisata mendatang.

Ecotourism dan Pelestarian Lingkungan
Prinsip yang ditekankan eko-wisata ialah kualitas pengalaman yang hendak dirasakan wisatawan ketika menikmati alam dan budaya, seimbang dengan jaminan bahwa lingkungan fisik, sosio-kultural, maupun ekonomi bagi penduduk lokal dapat terjaga keberlangsungannya. Untuk itu, etika melakukan ecotourism harus diterapkan.

Di Tanah Air, taman nasional dan kebun raya adalah contoh kawasan yang menerapkan konsep ecotourism. Pada mulanya, taman nasional maupun kebun raya memang bukan diperuntukkan bagi kegiatan pariwisata, melainkan konservasi dan laboratorium alam. Namun ide bahwa pengetahuan serta pengalaman untuk berinteraksi dengan alam dan suku asli, mulai mengemuka, taman nasional pun dibuka untuk umum bagi kepentingan edukasi. Indonesia tercatat sebagai negara dengan potensi kuantitas dan kualitas yang tinggi perihal eko-wisata. Dari Sabang hingga Merauke, terdapat 50 taman nasional dan kebun raya. TN (Taman Nasional) Lorentz di Irian Jaya berpredikat World Heritage Park, sedangkan TN Ujung Kulon telah menjadi World Heritage Site.

Perlahan namun pasti, kini eko-wisata kian digemari wisatan domestik – pula wisatawan asing dengan jumlah yang signifikan. Kebanyakan dari mereka menikmati eko-wisata bersama keluarga atau rombongan sekolah. Sejumlah destinasi yang telah ramai adalah TN Kepulauan Seribu dan kawasan Jawa Barat karena akses yang prima dari dan menuju Jakarta. Tiap akhir pekan, Kepulauan Seribu, Bogor dan Puncak menjadi destinasi paling ramai. TN Kepulauan Seribu, Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, dan TN Gunung Gede Pangrango dipenuhi wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin menikmati keasrian pepohonan yang teduh, sekaligus mempelajari keanekaragaman hayati Nusantara.

Selain itu, terdapat juga kawasan konservasi yang namanya telah terkenal di kalangan penggiat lingkungan dan backpacker dunia karena kecantikan alam dan budayanya, seperti TN Komodo, TN Wakatobi, TN Laut Bunaken, TN Gunung Rinjani, serta TN Bromo Tengger Semeru.

Peran Penting Agen Perjalanan dalam Ecotourism
Prediksi WTO (World Tourism Organization) terkait tren wisata yang sedang tumbuh dan akan berkembang ke depan, memposisikan eko-wisata pada urutan pertama. Meski eko-wisata relatif memiliki segmen pasar yang lebih kecil dibanding lainnya, namun eko-wisata terbukti menjadi salah satu jenis wisata yang paling cepat pertumbuhannya. Artinya, pasar kian bertambah, tapi belum dikembangkan dengan matang.

Selama ini, kendala yang dihadapi eko-wisata terkait aksesibilitas dan akomodasi. Oleh karena itu, tour operator/agen perjalanan dituntut untuk dapat bekerja sama dengan penduduk lokal. Kerja sama yang setara ini merupakan syarat eko-wisata di mana pariwisata turut mensejahterakan kehidupan lokal. Kolaborasi bersama akan memberikan pengalaman yang lebih menarik dan unik bagi wisatawan karena mereka didampingi langsung oleh pemandu yang mengenal betul kawasan, pula menikmati kebudayaan asli, mencicipi kuliner khas, serta merasakan pengalaman menjadi bagian dari mereka dengan menginap di rumah penduduk (guesthouse) dan melakukan kegiatan, seperti menanam pohon, melepaskan penyu, mendengarkan suara burung, mempelajari karakter tumbuhan, dan lainnya. Namun, peran agen perjalanan sangat penting dalam mendampingi dan memberdayakan warga lokal terkait standar dan mutu pelayanan menghadapi wisatawan.

Eko-wisata bukanlah sekedar strategi marketing menarik turis. Maka, dalam menawarkan paket, agen perjalanan perlu mengomunikasikan mengenai apa itu ecotourism, mengapa agen perjalanan menawarkannya, apa saja yang akan didapatkan turis, serta hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama turis menikmati eloknya alam dan budaya di tempat tujuan.

Persoalan lingkungan jelas telah merubah wajah industri pariwisata. Hal ini tentu berdampak signifikan terhadap bagaimana agen perjalanan dituntut untuk melakukan perubahan dan penyesuaian pada pasar. Tren terhadap ecotourism serta meningkatnya kesadaran turis terhadap isu perubahan iklim, menjadi peluang dan potensi bagi pariwisata Indonesia di masa depan.
Ditulis Oleh      :  Nurdiyansah
Sumber: http://www.jejakwisata.com

Jumat, 07 November 2008

Visi dan Misi

Visi:
"menumbuhkan rasa cinta & kasih sayang terhadap alam semesta"

Misi:
Dalam upaya mencapai visi kami, kami merancang program-program pemberdayaan masyarakat yang akan kami jadikan panduan dalam upaya mewujudkan:  

  1. Lingkungan wilayah yang aman dan makmur.
  2. Masyarakat mandiri dan sejahtera.
  3. Kawasan hutan yang lestari dan berkesinambungan.
  4. Sumber energi terbarukan
  5. Produk lokal yang berdaya saing global.


Kamis, 01 Mei 2008

Wilayah

Umpungeng merupakan salah satu Dusun yang berada di wilayah Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan Indonesia. Terpilihnya Umpungeng menjadi nama  desa yakni Desa Umpungeng merupakan prakarsa dari Alm. Bapak H.Husain Padlan seorang putra kelahiran Umpungeng yang menjabat sebagai kepala dusun Jolle yang saat itu berada diwilayah pemerintahan kelurahan Lalabata kemudian mengalami  pemekaran wilayah menjadi beberapa desa dan salah satunya Desa Umpungeng. Bapak H.Husain terpilih sebagai Kepala Desa Umpungeng Pertama dan berkedudukan di Dusun Jolle. 

Desa Umpungeng terletak 75 km sebelah utara kota Makassar dan 28 km sebelah Selatan Ibukota Kabupaten Soppeng. Desa ini terletak di deretan tiga bukit menyerupai tubuh manusia yang sedang terbujur dengan posisi kepala berada dibagian barat, bukit tengah yang merupakan lokasi kampung Umpungeng terlihat menyerupai pusar manusia.Terdapat kiri kanan gunung menjulang tinggi dengan ketinggian mencapai 1000-1500 DPL mengapit bukit ini yakni Gunung Laposo dan Pegunungan Neneconang serta dua aliran sungai batu dikiri dan kanan dengan air yang sangat jernih dan mengandung aneka flora dan fauna membuat desa Umpungeng terasa benar-benar menyatu dengan alam.

Menurut data Badan Pusat Statistik Kab.Soppeng Luas wilayah Umpungeng mencapai 85 km persegi atau sekitar 30,57 % dari total wilayah Kabupaten Soppeng, kawasan Umpungeng terdiri dari pegunungan dan perbukitan yang umumnya berada pada ketinggian 600 m diatas permukaan laut, daerah ini merupakan wilayah paling barat Pemerintahan Kabupaten Soppeng yang berbatasan dengan Kab.Barru sebelah barat dan Kab.Bone di sebelah Selatan. Wilayah yang beradah dilereng Gunung Poso ini merupakan daerah dengan curah hujan paling tinggi di Kabupaten Soppeng yang  secara geografis terbagi 3 Kampung yang dibatasi oleh masing-masing sungai  yakni antara Sungai Lebba-e dengan Sungai Lasaurung terdapat Kampung Bulu batu dan antara Sungai Ladengeng dengan sungai Yawangpulo terdapat Kampung Umpungeng. Aliran sungai-sungai tersebut bermuara ke sungai Langkemme yang selama ini merupakan pengsuplay utama irigasi kawasan kec. Mario Riwawo, Lajjoa, Cabenge dan Sekitarnya.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik Kab.Soppeng tahun 2010 Jumlah penduduk Desa Umpungeng secara keseluruhan sebanyak 3067 orang, namun jumlah penduduk yang mendiami dusun Umpungeng yang merupakan sentra gula aren Sulawesi Selatan ini berkisar 250 Kepala Keluarga atau sekitar 750 jiwa. Keramah tamahan dan Gotong Royong merupakan karasteristik warga desa ini. Setiap tamu yang berkunjung kedesa ini merupakan anugrah bagi warga, oleh karenanya tamu akan disambut dengan hangat dan penuh rasa kekeluargaan.

Pesona keakraban dan kehangatan penduduk merupakan paket keindahan dan citarasa desa yang menyatu dengan alam, semuanya terpancar diwajah polos setiap penduduk saat menyambut tamu. Suasana gunung yang dingin ditengah hutan tropis,sungai-sungai yang jernih  serta kehangatan penduduk menjadikan daerah ini  sangat menarik dikunjungi untuk berwisata ataupun melakukan studi dan penelitian di alam. Desa ini merupakan wilayah kecamatan Lalabata yang dapat diacces  melalui tiga arah yakni dari Bulu Dua, Kampung Jolle dan dari Kampung Pange Kabupaten Barru. Datang dan nikmati keramah tamahan penduduknya, kesejukan alamnya dan aliran sungai-sungai yang membela setiap bukit dan gunung dengan nyanyian berbagai jenis  burung di alam bebas.

Senin, 01 Oktober 2007

Kecamatan Lalabata

Testimoni Pengunjung