titik tengah INDONESIA,

ditandai persis ditengah sebuah situs Megalitikum berupa lingkaran Batu membentuk angka Nol bernama GARUGA. Ditengah lingkaran terdapat batu yang menjadi titik pertengahan INDONESIA.

Selamat datang di Umpungeng,

Sebuah kawasan yang terjaga kemurnian alamnya sejak dulu,kini dan Isnya Allah dimasa yang akan datang. Mari kita jaga Umpungeng agar tetap menjadi sumber mata air kita bersama.

GARUGAE, symbol titik tengah INDONESIA

Lingkaran Batu yang disebut Lalebata (Garugae) merupakan situs megalitikum peninggalan sejarah Bugis.

Batu Cinta

Lubang batu yang terbentuk secara alami oleh terpaan air di pinggir sungai Batuletengnge Umpungeng.

Alam Umpungeng

Menyimpan aneka flora dan fauna yang warna warni, mari nikmati kesejukan alamnya dan jaga kelestariannya.

Kawasan pertanian

Mayoritas warga Umpungeng berprofesi sebagai Patani,sebagian besar bertani Cengkeh, sisanya menanam kopi, fanili, kemiri, pangi dan berbagai jenis umbi umbian lainnya.

Pengrajin Gula Aren?

luas areal hutan pohon aren di kawasan Umpungeng mencapai 620 ha (4% dari luas hutan) menjadikan kawasan ini sebagai sentra Gula aren.

Kus kus

Kus-kus atau orang Umpungeng menyebutnya Memu adalah hewan yang paling ramah dan juga langkah, hidup di alam liar namun jinak sama manusia.

Burung Rangkong Sulawesi

Burung Rangkong (Alo bagi orang Umpungeng)merupakan salah satu hewan endemik di Kawasan Umpungeng yang dilindungi,mari kita jaga dan lestarikan keberadaannya

Rusa Sulawesi

Rusa jenis ini hidup berkelompok dan masih bisa dijumpai di kawasan Umpungeng, hanya saja warga sering melakukan perburuan liar yang mengakibatkan Rusa Sulawesi ini terancam punah. Ayo kita lindungi!

Kawasan resapan air

Aliran 5 sungai yang bermuara pada sungai langkemme menjadi pemasok utama irigasi pertanian untuk kawasan Kabupaten Soppeng dan sekitarnya.

Aliran sungai-sungai yang sejuk dan indah

Sungainya mengalir sepanjang tahun, disepanjang sungai dipenuhi tumbuh-tumbuhan herbal yang kaya manfaat untuk obat ataupun nutrisi bagi kehidupan kita.

Hamparan bukit Umpungeng

Deretan 3 bukit menyerupai manusia yang sedang terbujur (Wuju), Inilah tanah leluhur yang hampir luput dalam sejarah.

Pesona Keindahan Air Terjun

Kejernihan dan kebersihan airnya memberi kesegaran dan kesan alam yang kuat

Donasi Pohon Aren

Ayo berpartisipasi untuk menjaga sumber mata air bersama

Pembangunan Masjid Nol Satu

Sebagai sarana ibadah ditengah kesejukan alam sekaligus sbagai simbol titik pertengahan Indonesia.

ceo

SEO Links Exchanges, Blog Link Building Service Build Your Links For Free, Links Building Service SEO Links Attitude | Free SEO Links Building Free Backlink Service, Links Building 4 Free
Tampilkan postingan dengan label Potensi Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potensi Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2014

Rangkong Sulawesi


Keberadaan burung rangkong atau biasa orang Umpungeng menyebutnya Burung Alo di kawasan hutan Umpungeng tidak banyak orang yang tau. Pasalnya jalan akses menuju ke lokasi ini tergolong sulit dengan medan yang sangat terjal. Beruntung lah kami selaku warga setempat dapat menyaksikan keindahan burung tersebut setiap saat, bahkan kita sering menyaksikan kemesraan burung ini saat terbang berdua dengan pasangannya.

Ciri burung ini berukuran sangat besar (104 cm), berekor putih dan paruh bertanduk. Jantan: tanduk merah tua; kepala, leher dan dada bungalan merah-karat.  Betina: kepala dan leher hitam, tanduk kuning lebih kecil

Burung Rangkong ini merupakan burung endemik di sub-kawasan Sulawesi seperti desa Umpungeng , Lembeh, Kep. Togian, Muna, Butung.

Burung yang umumnya dijumpai di hutan primer dan hutan rawa. Kadang di hutan sekunder yang tinggi dan petak-petak hutan yang tersisa dalam lahan budidaya yang luas, juga mengunjungi hutan mangrove. Dari permukaan laut sampai ketinggian 1100 m, kadang sampai 1800 m. Makanannya antara lain buuah-buahan, serangga, juga telur dan anakan burung. Biasanya mencari makanan di tajuk atas pohon. Musim berbiak pada Juni-Sept. Bersarang pada lubang/ceruk pohon yang besar. Selama mengerami telur, sang betina tidak keluar dari sarang, makanan disediakan oleh jantan. Biasanya hanya membesarkan satu ekor anakan.

Keindahan burung ini digambarkan oleh seorang peneliti burung rangkong Sulawesi Bapak Suer Suryadi yang menuturkan pengalamannya disalahsatu kawasan pegunungan Sulawesi Utara di situs kompasiana.com berikut ini yang berjudul:

Rangkong Sulawesi, Big and Beautiful
Andaikan ada kontes kecantikan rangkong tingkat dunia, saya haqul yaqin Rangkong Sulawesi akan merebut life time award (juara sepanjang jaman) untuk kategori the most beautiful dan the most colorful hornbill. Dari 54 jenis rangkong di seluruh dunia, tidak ada yang rangkong yang Tuhan ciptakan dengan warna-warni seindah Rangkong Sulawesi.

Ketika saya mulai meneliti Rangkong Sulawesi (Aceros cassidix) pada awal tahun 1993 untuk skripsi, saya hanya pernah melihat beberapa kali jenis burung rangkong di kebun binatang Ragunan dan taman burung di Taman Mini Indonesia Indah. Itu pun gak ingat, apa saya melihat jenis Rangkong Sulawesi di dalam kandang.

Dengan pengatahuan cekak, mulailah saya berburu informasi ke kantor International Council for Bird Preservation di Bogor (ICBP, cikal bakal Birdlife International, yang kelak di Indonesia bertransformasi nama menjadi Burung Indonesia).

Lalu menemui Pak Ismu Suwelo, peneliti senior dari Diklat Kehutanan di Bogor untuk mendapatkan bahan bacaan dan literatur. Bermodal semangat dan dasar-dasar pengamatan burung, berangkatlah saya ke Cagar Alam Tangkoko-Dua Sudara (TDS). Cagar alam seluas 88km2 itu terletak di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Selama enam bulan, saya ”diadopsi” oleh Tim O’Brien & Margaret (Maggie) Kinnaird, yang kelak menjadi pionir kehadiran Wildlife Conservation Society di Indonesia (WCS, dulu namanya NYZS/Wildlife Conservation International).

Setibanya di Desa Batuputih, desa terdekat dengan stasiun penelitian di TDS, rasanya mau jumpa pacar yang kita tahu namanya, lihat fotonya, tapi belum pernah berjumpa langsung. Dagi dig dug dor deh. Bayangkan, gimana rasanya kalau saya gak bisa jatuh cinta dengan makhluk yang akan saya pelototi beberapa bulan kedepan. Ketika saatnya tiba, saya pun terhenyak. Sebelum saya berhasil melihatnya, si Rangkong sudah berkaok-kaok keras disertai kibasan sayapnya yang bergemuruh bak pesawat tempur. Ge-er banget sih nih burung. Belakangan kutahu, bahwa itu adalah sikap waspada dengan memberikan alarm call atas kehadiran manusia. Mungkin sang Rangkong sudah berpengalaman diganggu manusia yang menyukai kepalanya untuk hiasan dan dagingnya untuk sayur sop paha rangkong. :-)

Setelah perkenalan yang tak terlupakan itu, saya ”memburu” keberadaan rangkong di area riset seluas 420 hektar, untuk “pe-de-ka-te” mencari tahu jenis pakan dan makanan favoritnya. Mula-mula saya harus mencari pohon yang sedang berbuah dengan cara ”jalan-jalan” sejauh 4 km. Saya identifikasi dan tandai semua pohon yang berbuah pada radius 50 m di kiri-kanan jalur, menghitung perkiraan jumlah buah dan banyaknya rangkong yang nongkrong di pohon itu.

Empat kilometernya gak seberapa, tapi jalur naik-turunnya itu lho, yang monyet pun enggan melintasinya. Iya lah, lagian ngapain monyet jalan kaki, mendingan lompat dari dahan ke dahan kan? Apa boleh buat, saya mesti ”jalan-jalan” sebanyak 12 kali/bulan pada jalur yang berbeda. Dari hasil jalan-jalan ini, saya dapat mengetahui bahwa buah beringin berwarna merah adalah favoritnya. Iseng banget ya? Enggak lah, dari hasil investigasi itu (cieehhh…kayak polisi), saya bisa dapat pohon target untuk penyelidikan lebih lanjut mengenai perilaku rangkong.

Di sekitar pohon berbuah yang menjadi target itu saya dan asisten lapangan, bergantian mengamati dan mencatat tingkah polah burung ge-er ini. Seringkali, dengan berbekal satu termos kopi dan 20 butir biapong (semacam bak’pao isi gula merah dan kelapa parut) saya bertahan di lokasi dari jam 7 pagi sampai 5 sore. Wah, melebihi standar waktu kerja nih?

Pohon yang berbuah merupakan sumber pakan bagi satwa-satwa pemakan buah. Tidak hanya rangkong, berbagai satwa penggemar buah juga ikut nimbrung, seperti burung dara dan monyet. Kehadiran monyet Yaki (Macaca nigra) di pohon target ini njengkelin banget karena cara makannya boros, banyak buah yang terbuang. Makanya, kalo saya melihat teman yang makannya berantakan dan banyak sisanya, saya jadi inget monyet ini. Monyet berjambul ala Jim Carey ini juga suka mengusir rangkong. Entah sekedar iseng, becanda, atau memang gak mau berbagi makanan. Rangkong yang masih lapar, biasanya akan datang lagi. Masalahnya nih, saya harus mencatat jam datang dan perginya rangkong dari pohon target. Bikin repot kan?

Mau tau gimana rasa jengkelnya? Bayangin aja kalau kalian lagi berinteraksi dengan pacar, terus ada yang gangguin pacar kita, keqi nggak? emosi nggak? Hehehe…kadang ada syahwat untuk membalas dendam kepada monyet-monyet yang mengganggu “pacar” saya makan di pohon buah, tapi kok ya nggak tega. Lagian, kalau kita mengganggu monyet yang sedang makan, berarti kita sama dong dengan monyet yang mengganggu rangkong makan. Jadi, dipakailah ilmu sabar dan ikhlas di tengah hutan….

Yah, keringat, lelah, dan repot yang saya alami akhirnya menghasilkan skripsi plus 4 artikel di jurnal ilmiah dan beberapa artikel populer. Bonusnya adalah kesempatan belajar lebih jauh dengan ahli rangkong, Dr. Pilai Poonswaad di Taman Nasional Khao Yai, Thailand. Selama dua bulan saya mendalami ekologi empat jenis rangkong di Khao Yai, teknik sensus, jenis pakan, karakter sarang, fenologi (siklus buah), dan analisa data. Saya juga belajar menangkap rangkong, memasang radio transmitter, dan melacak sinyalnya dengan radio penerima. Acan Pilai…jasamu abadi…

Menjadi Hornbill Tracker

Di dunia terdapat 54 jenis, 31 di antaranya hidup di Asia. Indonesia , sedangkan Indonesia kebagian 13 jenis. Indonesia memiliki 13 jenis hornbill, yang diterjemahkan menjadi rangkong, enggang, julang, atau kangkareng, Mereka tersebar dari Aceh hingga Papua, tetapi dua jenis hanya ditemukan di Sulawesi (Rangkong sulawesi, Aceros cassidix dan Kangkareng sulawesi, Penelopides exarhatus) dan satu jenis di Pulau Sumba (Julang sumba, Rhyticeros everetti). Saya cukup beruntung karena sempat bergaul dan bertemu langsung dengan ketiga jenis endemik tersebut. Endemik artinya kita tidak dapat melihat satwa itu hidup di belahan dunia lain kecuali di pulau yang menjadi habitatnya.

Sekembali dari Khao Yai, nasib mempertemukan saya dan Rangkong sulawesi lagi. Kali ini, saya menggaulinya lebih intim, karena harus menangkapnya, memasang radio pemancar, dan melacak daerah jelajahnya. Sebagaimana umumnya, rangkong betina bersarang di dalam batang pohon yang berlubang. Jantan akan datang ke sarang untuk memberinya makan. Itulah saat yang tepat untuk menangkap si jantan dengan jaring (mist net). Kedengarannya gampang, tapi ternyata tak semudah kata-kata.

Kayak reserse mau menangkap penjahat yang menjadi target operasi. Tim Buser Rangkong harus menentukan target beberapa hari sebelumnya, membuat gubuk pengintaian, mengamati perilaku pasangan rangkong dan gerak geriknya, dari arah mana datangnya jantan, persinggahan sebelum meluncur ke lubang sarang, ke arah mana perginya, lalu menentukan di mana kita akan membentangkan jaring. Berdasarkan informasi itu, kita siapkan segala sesuatunya untuk menjebak target buru sergap. Asli, berasa kayak operasi penyergapan…

Pada hari H, ketika langit masih terlihat samar-samar, tim Buser Rangkong memulai aksi membuka dan menaikkan jaring di depan lubang sarang. Makin cepat makin baik. Lalu semua sembunyi menanti jantan memberi sarapan pertama kepada betina. Kadang, tanpa kita ketahui, ternyata si jantan sudah nongkrong dan melihat kelakuaan kita memasang jaring. Kurang ajarnya, si jantan baru terbang dan teriak-teriak setelah kita selesai pasang jaring. Alamak… kalau sudah begitu, maka operasi dipastikan gagal dan harus ditunda sampai batas waktu tak ditentukan.Asemmm, percaya deh, gak enak banget rasanya dikerjain rangkong.

Menangkap rangkong ini ada seninya dan perlu minum pil sabar yang banyak sehingga kita dapat tertawa, terluka, dan kesal.  Kita tertawa saat jantan langsung menubruk jaring pada kesempatan pertama. Adakalanya si jantan yang waspada berhasil menghindari jaring, tapi setelah selesai memberi makan, dia lupa ada jaring di belakangnya dan brukkk… ia masuk perangkap. Kita terluka, ketika paruhnya berhasil mamacuk pipi atau menjepit tangan kita. Kita kesal, ketika keberadaan jaring diketahui oleh si jantan. Ada jantan yang hebat dan jeli sehingga selalu berhasil memberi makan pasangannya, meskipun kita sudah beberapa kali mengubah arah jaring. Ada pula jantan yang kabur dan tak kembali, memaksa kita gulung jaring karena kuatir betinanya kelaparan.

Rangkong yang terperangkap, harus segera dilepaskan dari belenggu jaring dan ditutup kepalanya untuk mengurangi stress (tuh burung gak tauk kalau kita lebih stress). Radio seukuran batu baterai A3 yang telah dijahit dengan pita pun dipasang dipunggungnya, seperti memasang ransel. Pita yang digunakan dirancang khusus sehingga akan lapuk dalam tempo satu setengah tahun, sehingga rangkong tidak akan menggendongnya sepanjang hayat. Setelah semuanya beres, rangkong kita lepas.

Eitt…jangan asal lepas! Rangkong tidak bisa langsung terbang jika kita letakkan di atas tanah. Ia akan meloncat-loncat dulu ke dahan pohon secara bertahap. Setelah dirasa cukup tinggi, barulah ia mengepakkan sayapnya. Untuk memudahkannya take off, rangkong kita letakkan pada dahan setelah melepas ikatan pada paruh dan sarung penutup kepala. Jerih payah kami selama dua bulan, berhasil ”memaksa” 9 rangkong menggendong radio pemancar seberat 23 gram (kurang dari 1% berat tubuhnya), yang memancar bunyi “biip…biipp” pada frekuensi antara 164-165MHz. Tiap pemancar menggunakan frekuensi yang berbeda sehingga kita dapat mengenali individu berdasarkan frekuensinya.

Pekerjaan selanjutnya adalah mendeteksi mereka tiga kali seminggu, dari pagi hingga sore. Dengan GPS Magellans NAV 5000 PRO (seukuran dan seberat batubata. Waktu itu, ini GPS canggih lho), kita tentukan koordinat lokasi-lokasi pemantauan sinyal. Dengan mengetahui arah sinyal yang terpantau dari dua lokasi, kita tentukan posisi target (triangulasi). Dari situlah kita menghitung luas daerah jelajahnya sesuai lokasi hasil perhitungan triangulasi.

Ternyata untuk mencari makanannya yang 80% berupa buah, rangkong mampu menjelajah hutan rata-rata 10km/hari dan luas daerah jelajahnya mencapai 55 km2. Artinya, rangkong mampu mencari makan sekaligus menyebarkan biji dari buah yang dimakannya di hampir 2/3 kawasan Cagar Alam TDS. Alam telah mengatur sedemikian rupa, agar hutan mengalami suksesi dan menjaga keseimbangannya melalui makhluk yang bernama rangkong. Terima kasih wahai burung rangkong yang big & beautiful. Engkaulah petani hutan yang tak kenal lelah. Salamku untuk seluruh rangkong di bumi pertiwi.


Sumber :



Kamis, 29 Agustus 2013

Kuskus Beruang Si Hewan Endemik Sulawesi

Kuskus atau dinamakan Memu bagi Masyarakat Umpungeng adalah beruang sulawesi ( Ailurops ursinus ) merupakan salah satu jenis hewan endemik pulau Sulawesi yang dilindungi oleh peraturan pemerintah no 7 tahun 1999. Hewan yang masuk dalam daftar merah spesies terancam IUCN 2008 ini adalah anggota dari genus Ailurops. Kuskus Beruang adalah hewan marsupial dan dari keluarga Phalangeridae. Bentuk tubuhnya yang besar seperti kucing bahkan bisa lebih ukurannya. Kuskus beruang ini ukurannya sangat besar dibandingkan dengan para kerabatnya di keluarga phalangeridae, oleh sebab itu mamalia ini di sebut dengan kuskus beruang karena bentuk tubuhnya seperti beruang.

Kuskus beruang aktif pada siang hari (diurnal). Sebagian besar aktivitas hariannya banyak digunakan untuk beristirahat dan tidur, sedikit waktunya digunakan untuk makan dan mengutu (grooming), waktunya untuk berinteraksi juga sangat sedikit, kegiatan tersebut dilakukan sepanjang siang dan malam. Waktu istirahatnya yang banyak digunakan untuk mencerna selulosa dari dedaunan sebagai sumber makanannya yang mengandung sedikit nutrisi. Kuskus yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Bear Cuscus, Bear Phalanger, atau Sulawesi Bear Cuscus ini terdapat di pulau Sulawesi, pulau Butung, pulau Peleng, pulau Togian, Indonesia. Kuskus beruang betina dewasa dapat melahirkan satu-sampai dua kali dalam setahun. Kuskus beruang termasuk hewan berkantung (marsupial). Anak kuskus beruang lahir dalam keadaan sangat kecil dan akan langsung menuju kantung induknya untuk dibesarkan selama sekitar 8 bulan, setelah itu akan keluar dari kantong dan hidup bersama induknya sampai siap untuk mandiri.

Pengamat bisa melakukan pengamatan ditempat sumber pakan kuskus beruang. Untuk memperbesar peluang pertemuan dengan kuskus beruang sediakan makanan favorit mereka. Makanananya terdiri dari daun dan buah, misalnya daun kayu kambing ( Garuga floribunda ), Pohon mindi ( Melia azedarach ), kenanga ( Cananga ordorata ) dan buah rao (Drancotomelon dao dan D. Mangiferum). Daun muda lebih disukai karna lebih mudah dicerna dan mengandung lebih sedikit tanin, tetapi sesekali daun yang lebih tua juga dimakan untuk memenuhi kebutuhan protein. Kadang-kadang bunga dan buah mentah juga dimakan untuk memenuhi kebutuhan protein.

Saat ini populasi kuskus beruang terus menurun dan terancam punah, karena terjadinya perburuan dan perdagangan liar. Di samping itu sebagian hutan yang merupakan habitat aslinya telah mengalami kerusakan akibat pembukaan hutan untuk areal pertanian dan pemukiman penduduk. Di asalnya sendiri kuskus beruang sering menjadi hewan buruan petani dikarenakan hewan yang sering dipanggil “Kuse” ini sering memakan daun-daun muda yang ditanami oleh petani. Hewan yang hobinya tidur ini oleh pemerintah sudah dimasukan dalam daftar hewan dilindungi dalam peraturan pemerintah no.7 tahun 1999, tetapi sampai saat ini pun pemerintah belum mampu menghentikan perdagangan satwa liar ilegal.

Meskipun masih bisa ditemui di beberapa tempat seperti di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan di kawasan pegunungan Lompo Battang, Pegunungan Laposo, Pegunungan Neneconang dan Desa Umpungeng (Sulawesi Selatan), populasi Kuskus Beruang Sulawesi (Ailurops ursinus) diyakini mengalami penurunan drastis. Oleh karenanya IUCN Red List memasukkan Kuskus Beruang Sulawesi (Ailurops ursinus) dalam kategori Vulnerable.Berdasarkan fakta-fakta tersebut, maka usaha pelestarian dan perlindungan satwa khususnya kuskus sangat penting untuk segera dilakukan. Salah satu usaha mendukung pelestarian satwa liar adalah dengan menangkarkannya, karena melalui penangkaran dapat dipelajari dan diperoleh banyak informasi ilmiah guna menunjang konservasi baik in situ maupun ex situ.

Sampai saat ini pelestarian kuskus beruang di sulawesi masih sangat terbatas, populasinya sangat menurun dari tahun ke tahun menurut informasi dari salah satu pegawai di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sudah seharusnya menjadi tugas kita untuk melestarikan hewan endemik ini agar nantinya ditahun-tahun mendatang tidak akan terjadinya kepunahan pada hewan yang masuk dalam keluarga Phalangeridaeini. (Triambogo, peserta Ekspedisi NKRI 2013 dari Fakultas Biologi Unsoed)

Minggu, 12 Mei 2013

Rusa Sulawesi di Umpungeng

Jenis Rusa ini terdapat di Umpungeng. Namun karena perburuan liar mengakibatkan Jenis hewan liar ini semakin langkah. Pada hari raya Idul Fitri 1234 H ini Penulis sempat menikmati hidangan Menu Rusa yang dihidangkan khusus oleh salah seorang anggota keluarga saya yang baru saja menangkap rusa bersama 2 grup pemburu lainnya. Ini adalah menu rusa yang kedua kalinya yang penulis nikmati setelah sekitar 20 tahun yang lalu sempat menikmati dari hasil yang sama. Rasanya gurih dan sangat berbeda dengan daging jenis lainnya. Meski dimasak dengan bumbu yang sangat terbatas namun rasanya tetap enak dan lezat, memang pantas dilindungi agar anak cucu kita kelak juga kebagian.   Kita berharap bahwa populasi hewan ini terus bertambah serta para Pemburu semakin mengurangi aktivitas perburuannya sehingga terhindar dari kepunahan.

SPESIFIKASI HEWAN:
Kelas       :  Mammalia
Bangsa     :  Artiodactyla
Suku        :  Cervidae
Jenis        :  Cervus unicolor
Makanan  :  rumput, daun, kulit kayu, buah, tumbuhan semak, umbi, ranting
Habitat     :  Padang rumput, dataran dengan ketinggian 3000 m dpl, rawa dan bukit
Distribusi  :  Sumatera, Malaya
Perkembangbiakan :  lama kebuntingan antara 7 - 8 bulan, biasanya melahirkan 1  ekor anak
Lama hidup :  Mencapai 20 tahun

Selasa, 01 Januari 2013

Wisata pendidikan

Alam merupakan media pembelajaran bagi ummat manusia. Proses pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada setiap tumbuhan dan hewan merupakan sumber ilmu pengetahuan sekaligus inspirasi bagi kehidupan kita. Alam Umpungeng yang terbentang mencapai 85 km persegi menyimpan banyak kekayaan alam yang layak dijadikan bahan penelitian dan pembelajaran. Dengan metode pembelajaran berbasis alam, kita akan memperoleh pengetahuan yang luas sekaligus menumbuhkan kearifan dan keperdulian kita terhadap lingkungan sekitar. Disamping itu, dengan keterlibatan dunia akademisi, masyarakat dapat mengetahui aset yang berupa alam yang mereka miliki untuk dimanfaatkan sekaligus menjaga kelestariannya. Metode pembelajaran seperti ini juga diyakini lebih efektiv dalam peroses pembentukan generasi yang berkarakter. Penasaran? Silahkan datang dan rasakan sendiri manfaatnya.

Wisata Kuliner

Aneka ragam makanan tradisional  masyarakat terdapat di sini,  bahan baku makanan olahan juga banyak tersedia di sekitar kawasan ini. Hanya keterbatasan informasi serta pengetahuan tentang jenis dan cara mengolah makanan menjadi layak saji, belum banyak diperkenalkan. Kami yakin dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, kami dapat menyajikan makanan-makanan khas Umpungeng dengan bahan baku yang bersumber dari kawasan sekitar. Illustrasi gambar yang kami tampilkan disamping merupakan jenis makanan olahan yang sudah sering dijumpai titengah masyarakat. Hanya saja belum ada tempat khusus seperti halnya warung untuk menyajikannya untuk tamu.   

Sabtu, 01 Desember 2012

Outbound


Jumat, 01 Juli 2011

Mendaki gunung

Hiking Adventure

Melakukan perjalanan menjelajah hutan, menyusuri sungai, mendaki bukit, menuruni lembah, memanjat tebing dan banyak lagi pengalaman yang dapat memicu andrenalin kita untuk berpacu lebih kencang.Belum lagi berbagai jenis satwa yang hidup merdeka siap mewarnai perjalanan kita. Jangan khawatir tidak ada binatang buas di sini, seperti harimau atau macan. Namu demikian, kami menyarankan anda untuk tetap melakukan persiapan baik secara mental maupun peralatan sesuai standar keamanan hiking. Sebagai referensi,  silahkan pelajari tip & trik perjalanan

Jumat, 01 Oktober 2010

Panjat Tebing

Kondisi wilayah Umpungeng yang membentang luas terdiri dari pegunungan, perbukitan, lembah dan dinding pegunungan yang sebagian merupakan dinding batu akan menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat pecinta wall climbing. Pasalnya di daerah ini terdapat aneka tekstur dinding batu (bugis:toppo batu) siap menantang bagi siapa pun yang mampu menaklukannya. Anda siap? welcome  

Jumat, 03 September 2010

Terbang Layang

Letak geografis Umpungeng yang diapit oleh dua gunung yakni gunung Laposo dan gunung Neneconang. Di kaki gunung laposo terdapat lereng datar dengan hamparan rumput gajah yang memunkinkan kita menikmati permainan bola. Dari lereng gunung ini kita dapat menikmati pemandangan alam disekeliling termasuk pemandangan Dusun Umpungeng dari atas pegunungan. Nah, dari bukit inilah tempat yang sangat menarik bagi penikmat terbang layang dapat menikmati petualangannya. Menarik sekaligus menantang, pasalnya pilihan untuk pendaratan hanya 1 yakni Garugae (suatu landscape yang berbentuk lingkaran yang dikelilingi batu) persis ditengah-tengah perkampungan. Penasaran? coba aja.        

Jumat, 06 Agustus 2010

Air Terjun

Terdapat empat air terjun yang memiliki daya tarik dan pesona keindahan alam yang unik yaitu:

1.Air Terjun Lemoe
Sebagai bagian dari upaya mewujudkan Umpungeng menjadi Desa`wisata (Umpungeng ecotourism village), sebuah rintisan awal telah dimulai, yakni dibukanya permandian alam air terjun Lemoe. Tanggal 20 Agustus 2012 tepatnya sehari setelah perayaan Idul fitri, 3 orang yang mewakili 3 generasi yakni Muhammad Emil (kalangan muda), Sudirman (Dewasa) dan Siti Aisyah (Orang Tua) melakukan survey awal sekaligus merintis jalan sementara menuju lokasi. Survey sederhana yang dilakukan telah memberi kesan mendalam bagi ke tiganya oleh keindahan airterjun dan kawasan sekitarnya.

Lokasi air terjun ini hanya berjarak 300 m dari pusat pemukiman warga, terletak dipinggir jalan yang menghubungkan antara Desa Gattareng dengan Dusun Umpungeng. Lokasi yang memiliki air jernih dengan kolam berbentuk segi tiga ini hanya berjarak 3 km dari jalan poros Bulu Dua menuju Makassar Ibukota propinsi Sulawesi Selatan atau dapat ditempuh selama 30 menit menggunakan kendaraan roda dua. Hal yang paling mengesankan dari objek wisata alam ini adalah batu tempat jatuhnya air yang berbentuk belahan pipa raksasa lurus memanjang hingga kedasar tempat jatuhnya air. Selain menimbulkan suara gemuru yang memperkuat kesan kesejukan alam,  batu yang menjadi saluran air yang terbentuk dari proses alam tersebut juga menimbulkan riak gelombang sepanjang air mengalir hingga terlihat berwarna putih. Terdapat dua air terjun dan dua kolam renang utama yang tersusun seperti layaknya kolam renang yang menempati bangunan dua lantai. Luas kolam atas bebentuk lingkarang yang lebih menyerupai tungku besar yang berisi air bening berdiameter 15 m dengan kedalaman mencapai 3 meter. Sementara air terjun kedua tingginya mencapai 25 m dengan kolam renang membentuk segi tiga dengan kedalaman mencapai 5 m. Tempat ini memiliki nilai sejarah dimana orang-orang terdahulu menggunakan tempat ini sebagai tempat pembersihan bagi yang dianggap bersalah atau melanggar aturan adat. Atas dasar tersebut para sepuh dan tokoh adat kini menganjurkan agar setiap pengunjung berprilaku sopan serta bertutur kata yang baik terutama saat berada di lokasi. Demi kenyamanan dan kepuasan dalam menikmati alam, dianjurkan agar setiap pengunjung melengkapi diri dengan peralatan  renang yang cukup seperti pakaian renang, kecamata air untuk menikmati pemandangan bawah air. Disamping itu seluru pengunjung wajib menjaga sampah terutama berbahan plastik (non organik), Tidak membawa benda tajam demi menghindari penebangan pohon sembarangan, dilarang membawa zat kimia / bahan racun dan sejenisnya demi menjaga perusakan species yang dapat mengakibatkan rusaknya alam disekitar lokasi objek.          
   
Semangat persatuan dan gotong royong warga telah membuahkan hasil, beberapa infrastruktur telah dibangun antara lain jalan akses dari jalan utama menuju objek, meski dibangun dengan sederhana namun jalan yang terdiri atas 99 anak tangga memiliki nilai filosofi yang agung karna selain berolah raga saat menuruni anak tangga tersebut, pengunjung juga dapat melantunkan zikir Asmaul husnah sejumlah 99 sesuai dengan jumlah anak tangga yang dilalui. Kini warga tengah mempersiapkan bangunan infrastruktur pendukung lainnya yang akan memberi kenyamanan pengunjung disamping menjaga kebersihan dan kelestarian alam sekitar yakni bangunan Toilet umum, Mushallah, Tempat pembakaran sampah plastik & P3K. Jika peduli, kami mengundang partisipasi anda demi mewujudkan cita-cita bersama yaitu objek wisata alam yang menarik, bersih dan bebas polusi. amin
     
2. Air terjun Petta Yatakka
Lokasi Air terjun Petta Yatakka berjarak 1 km dari Dusun Umpungeng, berada pada hulu sungai Lasaurung yang merupakan pembatas antara Dusun Umpungeng dengan dusun Bulu Batu. Ciri khas air terjun Petta Yatakka ditandai dengan air terjung yang cukup lebar yang di baliknya terdapat gua panjang yang konon merupakan tempat peristirahatan Petta Yatakka. Selain airnya yang bening, kolam air yang merupakan tempat jatuhnya air terjung cukup luas. Dibalik gua ini lah kita dapat melihat kolam air secara keseluruhan disamping pemandangan disekeliling.

3. Air Terjun Towalida
Air terjung Towalida (the blue waterfall) merupakan tempat paling menarik diantara air terjun yang ada untuk dikunjungi. Dengan air terjun yang deras dan tinggi serta ruas kolam renang yang luas serta berpasir membuat kita betah untuk berendam di tengah pancaran sinar matahari di tengah alam yang tenang dan sejuk. Dibalik air terjunnya yang indah juga terdapat gua yang sangat luas yang dapat menampung ratusan orang. Tempat ini juga memiliki nilai sejarah bagi warga Umpungeng, pasalnya tempat inilah yang menjadi peristirahatan selama beberapa hari bagi ratusan warga yang sedang dikejar oleh para Gerilyawan yang hendak mencari seorang tokoh yang dianggap berperan dalam perjamuan malam maut yang menyebabkan hampir seluruh pasukannya tewas disembelih oleh warga. Pesona keindahan alam serta aneka pemandangan menarik serta keramah tamahan warga sepanjang perjalanan menuju ke lokasi sangat mengesankan. itulah makanya tempat ini layak dipertimbangkan untuk dikunjungi.
  
4. Air terjun Labiru
Air terjung Labiru merupakan nama lokasi yang mencerminkan warna dan keindahan airnya yang biru. Tidak jauh disekitar lokasi tempat air terjung yang sangat tinggi tersebut, terdapat kolam yang sangat luas yang dikelilingi oleh hamparan batu sungai yang sangat indah. Jika hamparan batu bersih ini terkena sinar matahari maka akan nampak jelas warna genangan air yang berbentuk kolam renang raksasa ini  memancarkan sinar biru kehitam hitaman. 


Minggu, 01 Agustus 2010

Umbi Gadung (Syapa)

Gadung atau orang Umpungeng biasa menyebutnya Syapa merupakan tanaman perkebunan yang tumbuh liar di hutan Umpungeng. Khusus di kawasan Umpungeng tanaman ini   tidak memerlukan pemeliharaan tanaman seperti penyiangan, pembumbunan, pemupukan dan pemberantasan hama/penyakit karena tumbuh liar di kawasan hutan khususnya di bantaran sungai. Tanaman gadung tidak mengenal musim tanam, pasalnya bisa ditanam kapan saja dan di mana saja khususnya di daerah-daerah pegunungan.
Tanaman ini tumbuh subur dan melimpah sehingga jenis panganan ini pernah menjadi makanan pokok warga Umpungeng disaat saat lagi susah memperoleh beras. Namun seiring perkembangan pertanian persawahan , dimana masyarakat lebih mudah memperoleh beras dengan harga terjangkau, masyarakat mulai meninggalkan jenis umbian ini sebagai makanan pokok. Maklum proses pengolahannya tergolong rumit , mulai dari pengumpulannya, mengupas kulit, mengiris, merendam di bak atau kalau orang Umpungeng biasa menggunakan kolam batu yang terbentuk secara alami yang terdapat dipinggir-pinggir sungai. Secara keseluruhan proses mulai dari menggali , membuang kulit, membuang kandungan racun hingga jadi kerupuk atau jadi ketan (sokko syapa) cukup rumit dan membutuhkan waktu
Pemanfaatan umbi gadung sampai saat ini yang paling banyak dilakukan oleh para petani adalah untuk membuat keripik. Keripik gadung dengan penampilan yang cukup menarik akan banyak diminati oleh para konsumen.

Kamis, 01 Oktober 2009

Batu Cinta

Letak Dusun Umpungeng diapit oleh dua aliran sungai yang mengalir deras menyimpan banyak objek menarik yang merupakan mahakarya Sang Pengcipta yang lahir dari proses perubahan alam. Salah satu objek yang fenomenal yang merupakan icon Umpungeng sebagai jantung hati (titik tengah) Indonesia adalah batu besar yang terletak dipinggir muara sungai yang mempertemukan dua aliran sungai yang mengapit dusun Umpungeng. Sebuah batu besar berdiameter 5 meter memiliki lubang besar membentuk symbol berbentuk hati (jantung). Karena bentuknya yang mirip hati inilah memberi inspirasi kami untuk memberinya nama "Batu Cinta". Ya, batu berbentuk hati yang melambangkan cinta. Semoga setiap yang datang ke batu ini dikaruniai CINTA yang kokoh dan abadi sebagaimana disimbolkan oleh Batu Cinta.   

Wisata Budaya

Kegiatan budaya yang diselenggarakan secara rutin oleh masyarakat Umpungeng antara lain pekan upacara adat Arajangnge. Kegiatan ini d selenggarakan dalam rangka memaknai symbol yang berupa rambut yang dipercayai oleh masyarakat sebagai lambang yang ditinggalkan oleh Petta Arung Malampee Gemme'na khusus untuk masyarakat Umpungeng.  Upacara Pangngadereng yang dilaksanakan secara tahunan ini biasanya diikuti oleh keluarga besar Umpungeng baik yang tinggal di Umpungeng maupun yang sudah tersebar diberbagai propinsi di Indonesia bahkan di berbagai negara di belahan Dunia.  

Rabu, 01 Juli 2009

Petualangan Sungai


Terdapat lebih kurang 5 aliran sungai yang membentang diantara pegunungan disekitar kawasan Umpungeng.  Sungai-sungai ini bersih, bening dan sejuk mengalir diantara batu-batu besar dan kecil yang juga bersih membuat andrenalin kita terpacu saat melompat melintasi sungai.
Kegiatan menelusuri sungai merupakan proses pengenalan ataupun pembiasaan terhadap anak-anak untuk akrab dengan alam, andai mereka hanya sempat mengalami sekali saja dalam hidupnya dan merasakan asyik dan senang dengan alam, maka hal itu pun akan menjadi kenangan baik yang dengan sendirinya akan menumbuhkan naluri keperdulian untuk menjaga dan melestarikannya. Mereka akan merasakan kebebasan berexpresi ditengah alam yang damai dan bersahabat, mereka akan  merindukan untuk kembali suatu saat jika kelak mereka ditakdirkan hidup & berkarya di tempat lain ataupun kenegeri lain.

Jumat, 05 Desember 2008

Berkemah


Membangun karakter dan jiwa kemandirian kita terkadang membutuhkan suasana dan kebebasan untuk mendapatkannya. Melakukan camping ditengah hutan adalah salah satu cara untuk membentuk jiwa kemandirian tersebut, disamping berbagai karakter positif dapat ditempah di alam bebas ini, seperti lidership, keberanian, kecekatan mengambil keputusan dll, kita juga  bisa mendapatkan cerita dan pengalaman baru nan unik yang belum tentu dapat dialami oleh orang lain. Rasakan sensasi alam bebas dan buatlah cerita anda sendiri disini.

Jumat, 01 Agustus 2008

Sepeda Gunung

Kawasan pegunungan yang terbelah oleh beberapa aliran sungai menjadikan kawasan ini menantang untuk dijelajah oleh para petualang sepeda gunung. Kesejukan alamnya merupakan sumber energi yang tiada habis, siap men-charge energi baru disetiap langkah gayuhan sepeda kita. Bahkan tanpa perlu menambah beban membawa perbekalan air minum, kita bisa menikmati sajian alam berupa air segar yang terpancar dari mata air yang menetes di sepanjang perjalanan. Dengan Izin Allah, kesegarannya akan memberi inspirasi baru bagi siapa saja yang meneguknya.


Testimoni Pengunjung