titik tengah INDONESIA,

ditandai persis ditengah sebuah situs Megalitikum berupa lingkaran Batu membentuk angka Nol bernama GARUGA. Ditengah lingkaran terdapat batu yang menjadi titik pertengahan INDONESIA.

Selamat datang di Umpungeng,

Sebuah kawasan yang terjaga kemurnian alamnya sejak dulu,kini dan Isnya Allah dimasa yang akan datang. Mari kita jaga Umpungeng agar tetap menjadi sumber mata air kita bersama.

GARUGAE, symbol titik tengah INDONESIA

Lingkaran Batu yang disebut Lalebata (Garugae) merupakan situs megalitikum peninggalan sejarah Bugis.

Batu Cinta

Lubang batu yang terbentuk secara alami oleh terpaan air di pinggir sungai Batuletengnge Umpungeng.

Alam Umpungeng

Menyimpan aneka flora dan fauna yang warna warni, mari nikmati kesejukan alamnya dan jaga kelestariannya.

Kawasan pertanian

Mayoritas warga Umpungeng berprofesi sebagai Patani,sebagian besar bertani Cengkeh, sisanya menanam kopi, fanili, kemiri, pangi dan berbagai jenis umbi umbian lainnya.

Pengrajin Gula Aren?

luas areal hutan pohon aren di kawasan Umpungeng mencapai 620 ha (4% dari luas hutan) menjadikan kawasan ini sebagai sentra Gula aren.

Kus kus

Kus-kus atau orang Umpungeng menyebutnya Memu adalah hewan yang paling ramah dan juga langkah, hidup di alam liar namun jinak sama manusia.

Burung Rangkong Sulawesi

Burung Rangkong (Alo bagi orang Umpungeng)merupakan salah satu hewan endemik di Kawasan Umpungeng yang dilindungi,mari kita jaga dan lestarikan keberadaannya

Rusa Sulawesi

Rusa jenis ini hidup berkelompok dan masih bisa dijumpai di kawasan Umpungeng, hanya saja warga sering melakukan perburuan liar yang mengakibatkan Rusa Sulawesi ini terancam punah. Ayo kita lindungi!

Kawasan resapan air

Aliran 5 sungai yang bermuara pada sungai langkemme menjadi pemasok utama irigasi pertanian untuk kawasan Kabupaten Soppeng dan sekitarnya.

Aliran sungai-sungai yang sejuk dan indah

Sungainya mengalir sepanjang tahun, disepanjang sungai dipenuhi tumbuh-tumbuhan herbal yang kaya manfaat untuk obat ataupun nutrisi bagi kehidupan kita.

Hamparan bukit Umpungeng

Deretan 3 bukit menyerupai manusia yang sedang terbujur (Wuju), Inilah tanah leluhur yang hampir luput dalam sejarah.

Pesona Keindahan Air Terjun

Kejernihan dan kebersihan airnya memberi kesegaran dan kesan alam yang kuat

Donasi Pohon Aren

Ayo berpartisipasi untuk menjaga sumber mata air bersama

Pembangunan Masjid Nol Satu

Sebagai sarana ibadah ditengah kesejukan alam sekaligus sbagai simbol titik pertengahan Indonesia.

ceo

SEO Links Exchanges, Blog Link Building Service Build Your Links For Free, Links Building Service SEO Links Attitude | Free SEO Links Building Free Backlink Service, Links Building 4 Free

Selasa, 01 Januari 2013

Donasi Pembangunan Masjid

بسم الله الرحمن الرحيم

بسم الله الرحمن الرحيم

No.         : 001/PP-MJU/VI/2015                                                                  Umpungeng , 20  Juni 2015
Lamp     : 1 berkas Proposal
Hal          : PERMOHONAN BANTUAN DANA

Kepada Yth.
Di Tempat

Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT, Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa setia pada syariat -nya hingga akhir zaman.

Dalam upaya meningkatkan kualitas sarana dan prasaranan Masjid Jabal Nur Umpungen dibutuhkan perbaikan atau penambahan fasilitas dari kondisi fisik bangunannya saat ini yang masih jauh dari standard kelayakan dan kenyamanan beribadah. Untuk mewujudkan harapan tersebut dibutuhkan dana yang cukup besar menurut ukuran kemampuan kami.

Namun kami yakin masih banyak diantara kita yang perduli terhadap rumah ibadah khususnya Masjid yang masih jauh dari standar sebagaimana kondisi Masjid Jabal Nur Umpungeng.   
Untuk kebutuhan tersebut kami mengundang partisipasi kaum Muslimin untuk turut membantu kami mewujudkan impian kami memiliki Masjid yang indah dan nyaman.

Demikian surat permohonan ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasi Bapak/Ibu  kami ucapkan jazakumullah khairan katsira. Semoga Allah SWT membalas setiap partisipasi Bapak/Ibu.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.


Sinardin B.
Ketua Panitia


Proposal
بسم الله الرحمن الرحيم

PANITIA PEMBANGUNAN 
MASJID JABAL NUR UMPUNGENG

A.   Dasar Pemikiran


Masjid Jabal Nur Umpungeng dibangun diatas bukit ditengah perkampungan Dusun Umpungeng  sekitar 35 tahun yang lalu. Dahulu Mesjid di kampung ini hanyalah sebuah bangunan rumah panggung yang mirip rumah joglo, beratap ijuk  pelepah enau dan berlantai papan kayu. Karena material bangunan yang demikian, menyebabkan lantai menimbulkan suara gemuruh /berisik terutama pada saat sholat berjamaah.  Atas prakarsa bersama warga, bangunan  Masjid Kayu di renovasi menjadi bangunan yang berlantai semen sebagaimana kondisinya  saat ini.

Warga pun bahu membahu untuk mengumpulkan pasir dan batu yang harus diambil dari sungai yang letaknya 1-3 km dari lokasi Masjid. Prakarsa mengumpulkan bahan bangunan ini direspon oleh warga dengan antusias, tidak terkecuali adak-anak sekolah dari kelas 3 s.d. kelas 6 Sekolah Dasar. Pengadaan bahan bangunan lain seperti semen dan atap  secara swadaya didatangkan dari  kota dengan berjalan kaki, hal ini menyebabkan proses mengumpulan bahan bangunan membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga siap bangun. Alhamdulillah, bahan dasar bangunan Masjid dapat terkumpul dan pembangunan pun dilaksanakan secara gotong-royong.
Perlu kami sampaikan bahwa pada saat dibangunnya Masjid Jabal Nur, kampung Umpungeng belum terjangkau kendaraan apapun. Alhamdulillah saat ini kendaraan roda dua sudah sampai di Umpungeng meski membutuhkan keberanian khusus dan extra tenaga untuk mengendarai.
Atas kondisi yang belum terjangkau kendaraan tersebut, warga mengalami kesulitan mengangkut bahan bangunan. Sebagian bahan bangunan terpaksa diganti dengan material lain seperti batu bata diganti dengan batu kali. Dengan sistem manual dan gotong royong, warga menyelesaikan dinding masjid dengan sistem cor yang menggunakan slop yang terbuat dari papan. Hasilnya Alhamdulillah masjid berdinding tembok dapat berdiri meski tidak seindah dengan bangunan tembok yang menggunakan batu bata.
Semangat warga yang umumnya berprofesi sebagai petani untuk memiliki masjid yang indah nampaknya tidak sebanding dengan kekuatan ekonomi yang dimiliki. Akibatnya  Masjid yang dibangun sejak 35 tahun silang belum mengalami perubahan (kondisi pisik bangunan belum di plaster  bagian  luar dan dalam serta lantai belum di keramik).
Kini lantai Masjid  hanya di alasi terpal plastik tipis dan selembar karpet merah hasil swadaya warga. Kondisi ini menyebabkan  jamaah sulit menahan rasa dingin saat melaksanakan sholat. Perlu kami sampaikan bahwa kondisi cuaca sepanjang tahun di kawasan Umpungeng umumnya dingin terutama dimusim huja.
Atas kondisi tersebut kami bermaksud mengundang partisipasi kaum Muslimin khususnya keluarga besar Umpungeng dimanapun berada untuk turut membantu mewujudkan berdirinya Masjid yang indah dan nyaman di dusun Umpungeng.

B. Maksud & Tujuan Kegiatan

1. Memperbaiki sarana dan prasarana Ibadah dalam rangka   kenyamanan beribadah bagi warga ataupun para tamu yang datang ke Umpungeng.
2. Mewujudkan masyarakat yang gemar ibadah serta senantiasa meningkatkan kualitas amal melalui aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.
3.  Membangun silaturrahiim sesama Muslim lainnya dari berbagai wilayah
4. Menghadirkan Masjid yang asri dan  nyaman di dusun Umpungeng sebagai bagian dari pembangunan Desa Wisata berbasis nilai-nilai religius.

Perlu kami sampaikan bahwa dusun Umpungeng merupakan salah satu desa yang banyak dikunjungi oleh warga dari berbagai daerah di Indonesia setiap tahunnya, mereka datang dengan sanak saudara untuk tujuan rekreasi atau menyelenggarakan acara syukuran bersama warga.

C. Tema Kegiatan
Mewujudkan Masjid yang Indah dan Nyaman untuk ibadah di Umpungeng.

D. Bentuk Kegiatan
Untuk kebutuhan tersebut kami meminta dukungan dana dari kaum Muslimin dimana pun berada untuk membantu pembangunan sarana dan prasarana Masjid Jabal Nur Umpungeng sebagai berikut :
1.  Penataan ruang utama Masjid (mengganti terpal plastik dengan Karpet)
2.  Pengecatan Ruang utama dan bagian luar Masjid
3.  Pembuatan sarana tempat wudhu
4.  Renovasi diding dan atap Masjid 
   
E.  Rencana Kegiatan
NO
Kegiatan
Uraian
Ket.
1
Penggalangan Dana, 
- Kegiatan penggalangan dana dilakukan melalui panitia yang ditunjuk. Para Donatur dapat menyumbang dalam bentuk uang atau pun barang dan diserahkan ke petugas dengan meminta bukti tanda terima.

2
Pengadaan barang
-Dana yang masuk akan di belanjakan berdasarkan skala prioritas. Sebagian material bangunan akan diadakan secara swadaya oleh masyarakat.

3
Proses Pengangkutan
-Lokasi Masjid terletak 12 km dari Desa Gattareng (lokasi tempat bahan bangunan diturunkan). Satu-satunya alat transportasi
angkutan adalah Ojeg.

4
Pelaksanaan pembangunan
-  Pembangunan dan penataan ruang sholat.
-  Pengecatan tembok luar dan dalam
-  Pembangunan sarana tempat wudhu
-  Renovasi atap dan plavon Masjid.

5
Pertanggung Jawaban Anggaran,
-Seluruh partisipasi akan di umumkan / dipublikasikan lewat media resmi yang kami miliki seperti : http://umpungengecovillage.blogspot.com,http://umpungeng.blogspot.com, http://umpungeng.blog.com atau facebook: umpungeng soppeng.

Disamping media tersebut, kami juga dapat mengirim laporan pertanggung jawaban secara pribadi kepada pihak donatur melalui email anda yang masuk melalui email resmi kami : umpungeng@gmail.com

1.  Sumber Dana.
Dana diharapkan bersumber dari swadaya masyarakat dengan melibatkan seluruh keluarga besar Umpungeng serta masyarakat umum dengan pengawasan yang melibatkan dewan penasehat  yang sekaligus mengawasi penggunaan anggaran sebagai bentuk pertanggung jawaban kami kepada setiap donatur.
  
2.  Rencana Anggaran
Untuk mewujudkan rencana kegiatan tersebut, dibutuhkan anggaran sebanyak Rp.226 031 500,- (Dua ratus dua puluh enam juta tiga puluh satu ribu lima ratus rupiah) dengan rincian sebagai berikut:
No
URAIAN PROGRAM
JUMLAH
PERKIRAAN BIAYA
PERIORITAS
1
Karpet di Ruang utama Sholat
72 m
           18,720,000.00

1
Bahan     : Nylon
Ukuran   : 120 x 900 Cm
Tebal      : 8 mm
Warna    : Hijau
2
Plamor tembok Steamcot Uplus @Rp.45.000,-/Sat
100 sak
              7,052,500.00
2
- Lem fox  @Rp. 12.500,-/Bungkus
200 bks
- Kappe plamor @Rp.3000,-/pc
  5 pc
- Amplas tembok  @Rp. 7500/m
  5 m

3
Cat Tembok merk Mowilex (PC-017 Pebble walk)

           12,709,000.00

3
 - Cat Dalam 2,5 L @Rp.125.000,-
25 L
 - Cat Luar    2,5 L @Rp.190.000,-
50 L
 - Kuas 4 inc @Rp. 12.000,-/pc
 7  pc


4
Sarana Tempat Wudhu

           24,800,000.00
4
-    Semen @ Rp.55.000,-/sat
  100 sat
-    Pasir    @ Rp.10.000,-/kaleng
1000 klg
-    Besi baja @Rp. 150.000,-/batang
   50 bt
-    Pipa  12 inci Rp 75.000,-/batang  
   20 bt
-    Keran  Air @Rp.15.000,-/pc
   20 pc
5
Keramik (khusus ruang wudhu)
10 m
              3,500,000.00
5
6
Renovasi dinding dan Atap Masjid

         111,750,000.00
6
-   Semen @ Rp.55.000,-/sat
  350  sat
-   Pasir    @ Rp.10.000,-/kaleng
3500  klg
-   Besi baja 12 mm @Rp. 150.000,-/batang
  100  bt
-   Kayu 25 kubik @ Rp. 500.000
    25  kb
 -  Rangka Baja
  100  m
 - Seng
   75   m 
7
Gaji tukang @ 75.000,- perhari (5 bulan pengerjaan)
2  orang
           22,500,000.00
1
8
Biaya transportasi material dari jalan utama menuju dusun Umpungeng menggunakan ojeg (per ojeg @Rp. 50.000,).
Sesuai kebutuhan
           25,000,000.00
1

Total

         226,031,500.00


Sumbangan dapat disampaikan melalui Panitia dengan meminta tanda bukti Penyumbang (Formulir Donatur) kepada Panitia yang tertera namanya dalam proposal ataupun ditransfer melalui Bank SULSELBAR   No.Rek. 101-202-000003536-2  a.n Pengurus Masjid Jabal Nur Umpungeng dengan menunjukkan bukti transfer ataupun menginformasikan kepada panitia.

* Hindari menyerahkan uang sumbangan secara tunai kepada orang yang mengatasnamakan pengurus tanpa mengenal atau tanpa identitas resmi dari Pengurus Masjid Jabal Nur Umpungeng.*

Demi menjaga amanah bersama, mohon mengkonfirmasi kepada panitia sumbangan yang akan diberikan sebelum akad dilakukan. Informasi sumbangan akan kami publikasikan secara update di http://desaumpungeng.blogspot.com.

3.  Susunan Panitia Pelaksana Pembangunan Masjid
a.    Dewan Penasehat
1.Kepala Desa Umpungeng
2.Ketua BPD Umpungeng
3.Kepala Dusun Umpungeng
4.Imam Masjid Umpungeng
5.RK/RT Dusun Umpungeng
         .
b.  Panitia Pelaksana
   Ketua                       Sinardin Bune,
   Sekertaris                Da'wah
   Bendahara               : Nurul Qamri Badar



    Divisi-divisi                :  
      1.Divisi Pembangunan.
      2.Divisi Keagamaan.
      3.Divisi Humas
      4.Divisi Konsumsi
      5.Divisi Keamanan

4.  Lokasi Masjid
Dusun Umpungeng, Desa Umpungeng
Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng
Sulawesi Selatan, Indonesia  90811

5.  Kontak Panitia
Sudirman A.Rahman         : 081364770553
Nurul Qamri Badar             : 085233220232
Sinardin    Bune                  : 085256828939
Muhammad Sose                : 085396539362

Email: umpungeng@gmail.com

6.  Penutup
Demikian permohonan ini kami sampaikan, semoga Allah Subhanahu Wata’ala meridhoi setiap amal dan usaha kita. Amin


Umpungeng  09 Juli 2013


Sinardin BN
Ketua Panitia

Menyetujui:                                                                      Mengetahui:








                        Wahyuddin Ha Ming                                                      Salahuddin, SAg.
             Kepala Dusun                                                              Kepala Desa Umpungeng






Wisata Kuliner

Aneka ragam makanan tradisional  masyarakat terdapat di sini,  bahan baku makanan olahan juga banyak tersedia di sekitar kawasan ini. Hanya keterbatasan informasi serta pengetahuan tentang jenis dan cara mengolah makanan menjadi layak saji, belum banyak diperkenalkan. Kami yakin dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, kami dapat menyajikan makanan-makanan khas Umpungeng dengan bahan baku yang bersumber dari kawasan sekitar. Illustrasi gambar yang kami tampilkan disamping merupakan jenis makanan olahan yang sudah sering dijumpai titengah masyarakat. Hanya saja belum ada tempat khusus seperti halnya warung untuk menyajikannya untuk tamu.   

Sabtu, 01 Desember 2012

Outbound


Jumat, 05 Oktober 2012

Budi daya Cengkeh

Kondisi alam tropis Umpungeng sangat menguntungkan bagi masyarakat untuk bercocok tanam. Beberapa komoditi pertanian telah menjadi andalan para petani sejak bertahun-tahun, seperti misalnya jagung, beras merah, sayur-sayuran, kopi, cokelat dan cengkeh. Sejak 10 tahun terakhir mayoritas petani menanam cengkeh. Komoditi inilah yang menjadi andalan sekaligus sumber utama masyarakat Umpungeng. Dari pengalaman selama bertahun-tahun, masyarakat terus melakukan perbaikan mulai dari pola tanam yang efektif  hingga pasca panen.
  

Mayoritas petani menanam jenis cengkeh Sangsibar.

Senin, 20 Agustus 2012

Pembukaan Air Terjun Lemoe Umpungeng

Sebagai bagian dari upaya mewujudkan Umpungeng menjadi desa`wisata (Umpungeng ecotourism village), sebuah rintisan awal telah dimulai, yakni dibukanya permandian alam air terjun Lemoe. Tanggal 20 Agustus 2012 tepatnya sehari setelah perayaan Idul Fitri 1433 H, 3 orang yang mewakili 3 generasi yakni Muhammad Emil (kalangan muda), Sudirman (Dewasa) dan Siti Aisyah (Orang Tua) melakukan survey awal sekaligus merintis jalan sementara menuju lokasi. Survey sederhana yang dilakukan telah memberi kesan mendalam bagi ke tiganya oleh keindahan airterjun dan kawasan sekitarnya.

Lokasi air terjun ini hanya berjarak 300 m dari pusat pemukiman warga, terletak dipinggir jalan yang menghubungkan antara Desa Gattareng dengan Dusun Umpungeng. Lokasi yang memiliki air jernih dengan kolam berbentuk segi tiga ini hanya berjarak 5 km dari jalan poros Bulu Dua menuju Makassar Ibukota propinsi Sulawesi Selatan atau dapat ditempuh selama 30 menit menggunakan kendaraan roda dua. Hal yang paling mengesankan dari objek wisata alam ini adalah batu tempat jatuhnya air yang berbentuk belahan pipa raksasa lurus memanjang hingga kedasar tempat jatuhnya air. Selain menimbulkan suara gemuru yang memperkuat kesan kesejukan alam,  batu yang menjadi saluran air yang terbentuk dari proses alam tersebut juga menimbulkan riak gelombang sepanjang air mengalir hingga terlihat berwarna putih. Terdapat dua air terjun dan dua kolam renang utama yang tersusun seperti layaknya kolam renang yang menempati bangunan dua lantai. Luas kolam atas bebentuk lingkarang yang lebih menyerupai tungku besar yang berisi air bening berdiameter 15 m dengan kedalaman mencapai 3 meter. Sementara air terjun kedua tingginya mencapai 25 m dengan kolam renang membentuk segi tiga dengan kedalaman mencapai 5 m. Tempat ini memiliki nilai sejarah dimana orang-orang terdahulu menggunakan tempat ini sebagai tempat pembersihan bagi yang dianggap bersalah atau melanggar aturan adat. Atas dasar tersebut para sepuh dan tokoh adat kini menganjurkan agar setiap pengunjung berprilaku sopan serta bertutur kata yang baik terutama saat berada di lokasi. 
Demi kenyamanan saat berada di tengah hutan, dianjurkan agar setiap pengunjung melengkapi diri dengan peralatan  renang yang cukup seperti pakaian renang, kecamata air untuk menikmati pemandangan bawah air. Disamping itu seluru pengunjung wajib menjaga sampah terutama berbahan plastik (non organik), Tidak membawa benda tajam demi menghindari penebangan pohon sembarangan, dilarang membawa zat kimia / bahan racun dan sejenisnya demi menjaga perusakan species yang dapat mengakibatkan rusaknya alam disekitar lokasi objek.          
   
Semangat persatuan dan gotong royong warga telah membuahkan hasil, beberapa infrastruktur dasar telah dibangun antara lain jalan akses dari jalan utama menuju objek. Kondisi jalan yang sangat jurang dan terjal menuju lokasi mengakibatkan warga kesulitan menemukan jalan yang nyaman dan datar. Beruntunglah warga terbiasa dengan medan jalan seperti ini, akhirnya warga berinisiatif membuat anak tangga hingga sampai ke lokasi yang jumlah anak tangganya dibuat berdasarkan jumlah Asma Al Husnah (syifat Allah).  Dengan melalui tangga ini setiap pengunjung dapat berzikiri Azma Al Husna sambil berolah raga.

Kini warga tengah mempersiapkan bangunan infrastruktur pendukung lainnya yang akan memberi kenyamanan pengunjung disamping menjaga kebersihan dan kelestarian alam sekitar yakni bangunan Toilet umum, Mushallah, Tempat pembakaran sampah plastik & P3K. Jika peduli, kami mengundang partisipasi anda demi mewujudkan cita-cita bersama yaitu objek wisata alam yang menarik, bersih dan bebas polusi. amin
     

Kamis, 01 Maret 2012

Rencana Pembangunan Jalan Dusun yang lebih layak

Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, mayoritas masyarakat Umpungeng  bekerja sebagai petani. Warga bercocok tanam dengan cara dan pola tradisional sebagaimana yang dilakukan oleh para orang tua terdahulu. Hal tersebut berlangsung secara turun temurun hingga saat ini tanpa sentuhan teknologi. Yang sedikit berbeda adalah sebagian warga kini sudah menggunakan telephon genggam meski harus berkeliling kampung mencari titik-titik lokasi yang terjangkau jaringan. Kehadiran teknologi komunikasi inipun belum banyak membantu dalam meningkatkan kualitas produk pertanian, mulai dari cara pembibitan tanaman, merawat hingga panen semuanya berproses sebagaimana kebiasaan-kebiasaan yang dilakoni orang-orang tua terdahulu dari generasi-kegenerasi. Meski demikian, kebiasaan-kebiasaan tersebut sesungguhnya mengandung pelajaran dan kearifan, namun akan lebih baik lagi jika dipadukan dengan sentuhan Ilmu pengetahuan dan teknologi.
Demikian halnya kegiatan para pengrajin gula aren (massari), para pengrajin gula aren menjalani rutinitas kesehariannya sebagai Penyadap aren dengan cara tradisional dan dengan extra kerja keras yang sarat   dengan resiko tinggi. Mulai dari merakit tangga pohon enau, mendedar bunga, menyemai, menyadap pagi dan sore, mengumpulkan kayu bakar, mengolah nira hingga menjadi gula aren semuannya membutuhkan kerja keras yang tak jarang berujung pada resiko maut karena terjatuh atau tersiram gula cair panas.

Apakah pasca panen warga dapat langsung menikmati hasilnya? Ternyata belum, para ibu rumah tangga dan anak-anak usia sekolah mereka harus mengangkut produk-produk pertanian dan hasil olahan gula aren dengan cara menjungjung (majjujung) atau memikul (mallempa) dari tempat produksi (Assaring-e) ke dusun tetangga tempat para pembeli hasil bumi yang berjarak 10 km dengan berjalan kaki . Jalan yang dilalui pun bukan jalan datar, bukan pula jalan trotoar yang dirangcang khusus oleh para arsitektur hebat  untuk memanjakan masyarakat perkotaan yang sudah jarang menyentuh tanah apalagi berjalan kaki diatas tanah lumpur atau bebatuan. Jalan yang dilalui adalah jalan setapak yang terbentuk secara alami oleh tapak kaki-kaki telanjang para penduduk yang lalu lalang menghantarkan hasil-hasil buminya untuk ditukarkan dengan bahan kebutuhan hidup.


 Alhamdulillah kini terjadi perubahan yang menggembirakan bagi warga, sekitar 5 tahun yang lalu seorang Mantri petugas Puskesmas kecamatan Lalabata, Kab.Soppeng bernama Bapak Darwis berkunjung ke Umpungeng  untuk menolong seorang warga yang tengah sekarat akibat penyakit tahunan yang diderita. Karena tidak terbiasa berjalan kaki maka Pak Mantri bersama dengan temannya memaksakan diri mengendarai kendaraan dinasnya hingga sampai ke Umpungeng. Ternyata hal ini menjadi moment penting awal mulanya Umpungeng terjangkau kendaraan bermotor. Apakah jalan setapak pada saat itu medannya datar dan nyaman? Tidak! Bahkan jauh dari layak. Kondisi lereng pegunungan, jurang, tanjakan dan turunan terjal, sungai bebatuan serta  jalan yang berkelok-kelok menukik ditemui di sepanjang perjalanan,  semuanya dikerjakan secara swadaya masyarakat semata-mata untuk kebutuhan jalan kaki.

Cerita tentang swadaya pembangunan jalan (gotong-royong) warga Umpungeng merupakan cerita panjang bahkan telah adah jauh sebelum penulis lahir. Konon menurut cerita orang tua yang kini berusia rata-rata 60 tahunan, bahwa dulu sejak masih lajang, warga Umpungeng diwajibkan bergotong-royong membangun jalan dari kota kecamatan sampai ke rumah Kepala Dusun (saat ini Kantor Desa Umpungeng) setiap 1 atau 2 kali dalam seminggu. Mereka harus menempuh perjalanan yang berjarak 20-30 km dengan jalan kaki untuk sampai ke lokasi awal mula pembangunan jalan. Tidak jarang mereka meninggalkan pekerjaan utama mereka dan membawa bekal alakadarnya (Maddoko Inanre) demi memenuhi kewajiban bergotong royong membangun jalan yang kelak dikemudian hari, hanya di nikmati oleh dusun tetangga bersama orang-orang perkotaan yang datang menyerbu kawasan perkebunan Desa Umpungeng. Sementara warga Dusun Umpungeng yang sesungguhnya berlokasi sekitar 30 km dari pusat pemerintahan Desa tersebut harus mengelus dada dan berjuang sendiri merintis jalan penghubung desanya yang dapat dirasakan langsung oleh warga Dusun Umpungeng.
    
Perjuangan panjang itu kini perlahan membuahkan hasil, usaha swadaya masyarakat selama hampir 45 tahun kini sudah dapat dilalui kendaraan bermotor meski perjalanan belum bisa sepenuhnya dinikmati akibat dikondisi jalan yang sempit (lebar 1 meter) dan becek akibat tanah lumpur atau hamparan bebatuan  besar yang membuat pengendara ajluk-ajlukan di atas kendaraannya. Namun paling tidak sudah dapat mempersingkat jarak yang tadinya perjalanan dari Desa Gattareng ke Umpungeng membutuhkan waktu 3 s.d. 3,5  jam perjalanan dengan berjalan kaki, kini dengan kendaraan bermotor hanya membutuhkan waktu 30-60 menit. Dengan akses yang lebih mudah, masyarakat luar juga kini mulai banyak berkunjung untuk silaturrahim atau menikmati pemandangan alam Umpungeng. Kondisi ini memberi dampak positif terhadap roda perekonomian warga sekaligus meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan warga melalui proses interaksi dengan para tamu yang datang.

Program Lanjutan
Perjuangan panjang warga Umpungeng membangun jalan desa kini perlu tindakan lanjutan demi terwujudnya jalan yang layak dan nyaman.  Kondisi medan yang berat ditambah curah hujan yang tinggi membutuhkan perencanaan dan perancangan jalan yang cermat . Saat ini warga terus bergotong royong memperbaiki jalan dengan skala prioritas pada medan yang paling berat. Ada sejumlah sumbangan masyarakat luar berupa uang, semen, pasir ataupun kayu sebagai bahan pembuatan jembatan darurat kini tengah di upayakan penerapannya. Kami berharap suatu saat pemerintah Kabupaten Soppeng memberi perhatian untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Jumat, 01 Juli 2011

Mendaki gunung

Hiking Adventure

Melakukan perjalanan menjelajah hutan, menyusuri sungai, mendaki bukit, menuruni lembah, memanjat tebing dan banyak lagi pengalaman yang dapat memicu andrenalin kita untuk berpacu lebih kencang.Belum lagi berbagai jenis satwa yang hidup merdeka siap mewarnai perjalanan kita. Jangan khawatir tidak ada binatang buas di sini, seperti harimau atau macan. Namu demikian, kami menyarankan anda untuk tetap melakukan persiapan baik secara mental maupun peralatan sesuai standar keamanan hiking. Sebagai referensi,  silahkan pelajari tip & trik perjalanan

Minggu, 01 Mei 2011

Program Pengadaan Listrik

Program pengadaan listrik di perdesaan masih saja belum dapat dituntaskan oleh pemerintah. Berbagai persoalan yang menjadi faktor penghambat masih terus disiasati. Mulai dari faktor ketersediaan sumber energi sampai kepada faktor pembiayaan. Semuanya itu berawal dari kondisi masyarakat dan letak geografis perdesaan. Sesuai letak geografisnya, perdesaan umumnya berada jauh dari perkotaan, berada dalam kawasan perbukitan, rawa sampai ke pulau-pulau. Sementara itu tingkat perekonomian dan tingkat pepadatan penduduk relatif rendah. Secara teknis, kondisi ini memerlukan jaringan distribusi yang panjang yang mengakibatkan kehilangan daya listrik dan tegangan pada saluran yang sangat tinggi dan pada akhirnya memerlukan investasi dan biaya operasi yang cukup besar.

Membangun listrik untuk perdesaan memang mahal. Tidak menguntungkan secara ekonomis, dan sudah pasti tidak menarik bagi investor yang berorientasi kepada profit. Disinilah peran penting pemerintah bagaimana melistriki desa dengan tidak menuntut pengembalian, tetapi diharapkan dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat perdesaan. Pembiayaan pemerintah di sektor ketenagalistrikan lebih banyak tersedot untuk subsidi yang sesungguhnya lebih banyak dimanfaatkan oleh golongan menengah ke atas yang sejatinya subsidi listrik untuk masyarakat kurang mampu namun memiliki sumber daya alam yang dapat dikembangkan lebih produktif seperti di perdesaan. Namun kenyataannya, masih banyak perdesaan yang belum menikmati listrik.

Dusun umpungeng merupakan daerah yang memiliki banyak sungai dengan debit air yang cenderung stabil sepanjang tahun. Kondisi alam yang demikian baik ini menjadi peluang bagi dusun Umpungeng untuk mendapatkan listrik sebagai solusi atas problem penerangan yang selama ini dirasakan oleh warga. Ini merupakan solusi terdekat diantara beberapa pilihan alternatif pengadaan listrik di plosok terpencil seperti Umpungeng. Pembangkit Listrik tenaga air merupakan energi baru terbarukan yang bersumber dari tenaga air sebagai tenaga penggeraknya atau yang disebut dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang ramah lingkungan. Pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti saluran irigasi, sungai atau air terjun alami dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan jumlah debit air[1]. Secara teknis, mikrohidro memiliki tiga komponen utama yaitu air (sebagai sumber energi), turbin dan generator.

Dengan tersedianya sumber energi listrik maka roda perputaran usaha rakyat dapat berjalan secara maksimal, Masyarakat dapat meningkatkan ketrampilan rumah tangga seperti menjahit, menyulam dll, dapat menyeragamkan kualitas pengeringan kakao cengkih, kopi dll, para ibu rumah tangga dapat mengawetkan bahan makanannya sehinngga kandungan protein atau vitaminnya  terjaga dan banyak lagi manfaat positifnya.  

Secara umum ada 3 fungsi utama listrik yang kesemuanya dibutuhkan oleh warga yakni:
  1. Listrik sebagai penghasil cahaya, saat ini mayoritas warga menggunakan lampu petromak sebagai alat penerangan rumah. Maka tak heran warga sudah terbiasa melewati waktu-waktu malamnya dengan penerangan alakadarnya. Akibatnya motifasi anak-anak sekolah untuk belajar dimalam hari sangat minim, ditambah lagi dukungan dari para orang tua yang kebanyakan latar belakang petani sangat  kurang. Maka kehadiran listrik pedesaan merupakan salah satu solusi penting dalam mengurai akar permasalahan ketertinggalan yang selama ini dirasakan warga Umpungeng.                                                            
  2. Listrik sebagai penghasil panas. Aplikasi listrik pada elemen pemanas merupakan kebutuhan tambahan bagi warga. Pasalnya warga pada umumnya menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar
    Bahan Bakar Kayu warga Umpungeng
    untuk kebutuhan memasak. Namun demikian kebiasaan tersebut juga perlu dialihkan karena berdampak  buruk pada lingkungan akibat penebangan  hutan. Dengan adanya listrik beberapa kebutuhan rumahtangga dapat diatasi seperti untuk memasak  (kompor listrik),untuk menanak nasi (magic com),untuk menyetrika (setrika listrik) dan masih banyak lagi alat yang menggunakan pemanas.bila arus mengalir pada nikel atau elemn pemanas maka akan mengakibatkan panas , panas inilah yang di gunakan untuk kebutuhan sehari hari.
  3. Listrik sebagai penghasil gerak . Fungsi inilah yang diharapkan segera dapat memberi solusi bagi masyarakat atas berbagai aktifitas yang selama ini dikerjakan secara manual untuk dirubah kesistem mesin agar dapat meningkatkan kwalitas produk yang dihasilkan 

Ketiga hal tersebut sangat kami butuhkan untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik, sebagaimana saudara -saudara kami diperkotaan menikmati manfaat listrik.       

Jumat, 01 April 2011

Akankah Umpungeng tetap menjadi sentra produk Gula Aren Sulawesi selatan?

Dusun Umpungeng, sudah lama terkenal sebagai daerah sentra produksi gula merah yang berasal dari nira phon aren. Produksi gula aren berada di daerah-daerah yang di dominasi oleh pegunungan. Dusun Umpungeng memang secara geografis terletak di kaki pegunungan antara Gunung Laposo dan Gunung Neneconang menyebabkan daerah ini banyak ditumbuhi tanaman poho aren.  Hanya saja produksi gula aren dari Dusun Umpungeng selama 15 tahun terakhir terus mengalami penurunan. Ini terjadi karena banyaknya penebangan pohon nira untuk kebutuhan lauk (Pongkol Enau). Sementara pohon pengganti membutuhkan waktu 5 – 7 tahun  baru dapat menghasilkan.

Penurunan ini terlihat dari jumlah produksi gula aren yang dapat ditampung oleh para pedagang lokal disana. Penurun produksi jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun yang lalu dimana seorang pedagang bisa menerima 3 hingga 5 kwintal gula aren dari petani setempat per bulannya. Gula tersebut, perbonjor atau setara 1 kilo gula aren dibeli dengan harga Rp 12 ribu. Dalam satu bonjor tersebut berisi sekitar 10 hingga 20 gula aren. Harga ini juga sering mengalami perubahan tergantung pada cuaca. Jika musim hujan, harga cenderung turun karena hujan mempengaruhi mutu gula aren. Kalau musim hujan gula sering kali terlalu lama dipetani karena sulit untuk membawa ke bandar. Apalagi medan perjalanan sangat extrim, dikhawatirkan terlalu basah  dapat mengakibatkan gula jadi cepat layu dan kualitas menurun. Jika ini terjadi, maka petani akan mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan.   

Sabtu, 01 Januari 2011

Kerajinan Rotan


Potensi rotan yang tumbuh secara liar di kawasan Umpungeng cukup besar, hingga saat ini masyarakat baru mengolah dan memanfaatkannya secara sederhana. Misalnya produk dalam bentuk Pemukul Kasur, Kursi Sederhana, Bola Takrow dan tali pengikat. Selebihnya masyarakat biasanya menebang pongkol pucuk rotan untuk di ambil dan diolah dalam bentuk makanan (Sayur Pokko). Butuh tenaga terampil untuk melatih masyarakat mengolah potensi ini dalam berbagai jenis produk kerajinan.  


Testimoni Pengunjung